//
you're reading...
Fadhilah Amal

Keutamaan Ilmu Agama

Fadhlul IlmKetahuilah –semoga Allah merahmati penulis dan anda-, bahwa dalil-dalil yang menyebutkan tentang keagungan dan keutamaan ilmu dan pemiliknya sangatlah banyak. Oleh karena itu tidak mungkin semua dalil-dalil itu kita sebutkan semua di sini, akan tetapi cukup bagi orang berakal sekelumit darinya yang akan menjadikannya bersemangat dan antusias mendapatkan dan menggalinya.

Dalil-dalil dari Al-Quran Al-‘Azhim

  • Allah Ta’ala berfirman:

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah, wahai Rabbku, tambahkanlah ilmuku.”[1]

Allah Subahanahu wa Ta’ala tidak menyuruh Nabi-Nya –shallallahu ‘alaihi wa sallam– untuk meminta tambahan dari sesuatu kecuali ilmu. Dan yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu syar’i yang bermanfaat bagi hamba untuk mengetahui Rabb-nya dan mengetahui apa wajib atas mukallaf berupa perkara agama dalam ibadah & muamalat.[2]

  • Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Allah mengankat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kalian lakukan.”[3]

‘Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan, “Para ulama itu di atas orang-orang mukmin seratus derajat. Selisih kedua derajat adalah perjalanan 100 tahun.”[4]

  • Allah berfirman:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”[5]

Allah Subhanah memulai dengan diri-Nya, kemudian para Malaikat, dan kemudian ahli ilmu. Maka itu sudah cukup menjadi bukti kemuliaan, keutamaan, keagungan, dan kehormatan.[6]

  • Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

“Itulah permisalan-permisalan yang Kami buat untuk manusia. Dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”[7]

  • Firman Allah:

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ

Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.”[8]

Dalam sebuah hadits dinyatakan, “Sekiranya Al-Quran itu di letakkan dalam bejana, api pun tidak akan membakarnya.”

  • Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Orang yang takut kepada Allah hanyalah para ulama (orang yang berilmu).”[9]

Ilmu yang bermanfaat memiliki buah yang agung, yang paling nampak ialah terwujudnya rasya kasy-yah[10] kepada Allah Subahanah dalam diri pemilinya[11] . Maka para ulama adalah manusia yang paling khasy-yah kepada Rabb-nya karena mereka mempelajari ilmu yang menambah makrifat mereka terhadap Rabb mereka dan menjadikan iman semakin menancap pada hati mereka.[12]

  • Firman Allah Ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.[13]

Konsekuensi kedua ayat ini bahwa para ulama ialah mereka yang takut kepada Allah Ta’ala dan bahwa orang-orang yang takut pada Allah Ta’ala adalah sebaik-baik makhluk. Maka jadilah para ulama itu sebaik-baik makhluk.[14]

  • Allah Ta’ala berfirman:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).[15]

Mujahid –rahimahullah– menjelaskan tentang makna hikmah, “Yaitu Al-Quran, ilmu, dan fiqih.”[16]

Abu Ja’far bin Jarir Ath-Thabari –rahimahullah– berkata, Yunus telah bercerita pada kami, ia berkata, Ibnu Wahb berkata, ia berkata, “Aku bertanya kepada Malik, ‘Akah hikmah itu?’ Beliau menjawab, ‘Mengetahui agama, memahaminya, dan mengikutinya.”

  • Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan mintakanlah ampun untuk orang-orang mukmin yang laki-laki dan yang perempuan.”[17]

Maka Allah mendahulukan ilmu daripada tindakan, sebagaimana kata Al-Bukhari[18], “Bab ilmu sebelum perkataan dan tindakan.”

  • Allah Subhanah berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Katakanlah, apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Hanya orang-orang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”[19]

            Allah Ta’ala telah membedakan antara anjing yang berilmu dengan anjing yang tidak berilmu. Tidakkah kita ingat bahwa anjing yang terlatih dengan anjing yang tidak terlatih berbeda hukumnya ketika dipakai untuk berburu? Allah mengatakan:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙ وَمَا عَلَّمْتُم مِّنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad), “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah, ‘Yang dihalalkan bagimu (adalah makanan) yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang pemburu yang telah kamu latih untuk berburu, yang kamu latih menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah apa yang ditangkapnya untukmu dan sebutlah nama Allah (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah cepat perhitungannya.”[20]

Maka hewan pemburu yang terlatih boleh dikonsumsi hasil buruannya, sementara hewan yang tidak terlatih tidak boleh dikonsumsi hasil buruannya. Jika hewan saja demikian dibedakan, bagaimana pula dengan manusia yang merupakan makhluk terbaik. Tentu sangat lebih pantas lagi perbedaannya.

Dalil-dalil dari Hadits Nabawi

  • Dari Mu’awiyah –radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدَّيْنِ

“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Dia akan membuatnya memahami agama.”[21]

Sebaliknya, siapa yang tidak Allah kehendaki kebaikan, maka Dia tidak menjadikannya memahami agama. Maka orang yang semacam ini akan terhalangi dua kebaikan, yaitu kebaikan dunia yang berarti kebahagiaan dan kebaikan akhirat yang berarti surga.

  • Dari Abu Ad-Darda’ –radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا، سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيْقُا مِنَ طُرُقِ الجَنَّةِ، وَ إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا بِمَا يَصْنَعُ، وَ إِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمواتِ وَمَنْ فِي الأّرْضِ وّ الحِيْتَانِ فِي جَوْفِ المَاءِ، وَ إِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَي سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، وَ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَ لَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَثُوْا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu di dalamnya, Allah akan tempuhkan salah satu jalan ke surga dengannya. Dan sesungguhnya para Malaikat akan meletakkan sayapnya sebagai bentuk keridhaan terhadap apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang berilmu akan dimintai ampunan oleh penduduk langit dan bumi serta ikan yang berada di dalam air. Dan sungguh, keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan rembulan pada bulan purnama atas seluruh bintang. Dan sesungguhnya para ulama merupakan pewaris para Nabi –‘alaihimussalam-. Dan sungguh para Nabi –‘alaihissalam- tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham, namun mereka mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya, berarti ia telah mengambil suagu bagian yang melimpah.”[22]

Dalam hadits yang mulia ini disebutkan sejumlah keutamaan dan keagungan ilmu dan pemiliknya yang dapat kita simpulkan sebagai berikut:

  1. Dimudahkannya jalan menuju Surga.[23]
  2. Para malaikat akan menaungkan sayapnya untuk penuntut ilmu karena keridhaan mereka.

Para ulama telah berselisih pendapat ketika memaknai “para Malaikat meletakkan sayap-sayapnya”. Ada yang berpendapat sebagai bentuk ketawadhuan mereka kepada penuntut ilmu. Ada yang berpendapat mampir dan hadir di sisinya. Ada yang berkata sebagai bentuk pemuliaan dan pengagungan padanya. Ada pula berpendapat maknanya adalah para Malaikat itu membawanya di atasnya dan membantunya untuk mencapai tujuannya.[24]

  1. Bahwasannya seorang yang berilmu akan dimintakan ampun kepada Allah atas dosa-dosanya oleh seluruh penduduk jagat raya ini sampai pun ikan-ian yang ada di dasar air yang milyaran jumlahnya.

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi –rahimahullah– menjelaskan, “Jika ada yang bertanya: ‘Kenapa ikan-ikan memintakan ampun untuk orang yang mengajarkan ilmu?’

“Jawabnya adalah: Bahwasannya manfaat ilmu itu merata sampai pun ikan-ikan. Karena para ulama mengetahui apa yang halal  dan yang haram. Dan mereka berpesan kebaikan kepada segala sesuatu sampai pada hewan sembelihan dan ikan. Maka Allah mengilhamkan kepada seluruhnya untuk memintakan ampun bagi mereka sebagai bentuk balasan kebaikan prilaku mereka.”[25]

  1. Bahwasannya penuntut ilmu adalam manusia terbaik.
  2. Bahwasannya penuntut ilmu adalah pewaris para Nabi –‘alaihimussalam-.

Ibnu Jama’ah –rahimahullah– menjelaskan[26], “Cukuplah bagimu derajat ini sebagai keagungan dan kebanggaan. Dan dengan derajat ini sebagai kemuliaan dan ketinggian. Maka sebagaimana tidak ada kedudukan di atas kedudukan kenabian, begitu pula tidak ada kemuliaan di atas kemuliaan pewaris kedudukan itu.”

  • Diriwayatkan dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ فَهُوَ فِي سَبِيْلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Siapa yang menuntut ilmu maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali.”[27]

  • Dari Abu Musa Al-Asy’ari –radhiyallahu ‘anhu-, dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau bersabda:

“Perumpamaan Allah mengutusku dengan membawa petunjuk dan ilmu adalah laksana hujan yang menimpa bumi. Di antaranya ada sekelompok yang menerima air lalu tumbuhlah rumput dan tumbuhan yang banyak. Di antaranya ada yang gersang yang menahan air, maka Allah membuatnya bermanfaat bagi manusia dan mereka pun meminum, bercocok tanam, dan mengairi darinya. Dan (hujan itu juga) menimpa sekelompok darinya yang lain, yaitu tanah lapang yang licin yang tidak bisa menahan air dan tidak menumbuhkan rumput.

Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan dia mendapat manfaat dari apa yang dengannya aku diutus, ia mengetahui dan mengajar. Dan perumpamaan orang yang tidak bisa mengangkat kepala dengan itu[28] dan tidak menerima petunjuk Allah yang dengannya aku diutus.”[29]

  • Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, bahwasannya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلِدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apa bila manusia wafat maka amalnya terputus kecuali tiga, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kebaikan untuknya.”[30]

  • Dari ‘Abdullah bin ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma-, beliau berkata, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوْا

“Jika kalian melewati taman Surga, maka mampirlah!”

Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa taman Surga itu?”

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjawab, “Halaqah-halaqah dzikir.”

Adalah ‘Atha menjelaskan, “Majlis-majlis dzikir adalah majlis halal & haram; bagaimana Anda membeli, menjual, shalat, puasa, menikah, mentalak, berhaji, dan semacamnya.”

Yang serupa dengan ini adalah perkataan Ibnu Mas’ud, “Apabila kalian melewati taman Surga, maka mampirlah! Aku tidak memaksudkan majlis-majlis para pendongeng, akan tetapi yang kumaksud adalah majlis-majlis fiqih.”

Ketika mentafsirkan ayat:

بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ

“…karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.[31]

Adh-Dhahak berkata, “Inilah dia.” Yaitu Majlis mereka yang di dalamnya mereka mempelajari agama.[32]

  • Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Dunia itu terlaknat, apa yang ada di dalamnya terlaknat kecuali dzikrullah dan yang menolongnya, atau seorang yang berilmu atau yang belajar.”[33]

Kesaksian dari Para Ulama Salaf

  • Umar bin Al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu– berkata, “Sungguh, kematian seribu ahli ibadah itu lebih ringan daripada kematian seorang yang berilmu yang mengetahui haram dan halalnya Allah.”

Ibnul Qayyim –rahimahullah– menjelaskan, “Sisi perkataan ‘Umar ini adalah bahwa seorang yang berilmu (baca: ‘alim) ini dengan ilmu dan arahannya merobohkan setiap bangunan yang dibangun Iblis. Adapun ahli ibadah, maka manfaatnya hanya sebatas dirinya saja.”[34]

  • ‘Ali bin Abu Thalib –radhiyallahu ‘anhu– menuturkan, “Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu itu akan menjagamu dan kamu akan menjaga harta. Ilmu itu hakim dan harta adalah yang dihukumi. Pemilik perbendaharaan ilmu pasti mati dan pemilik perbendaharaan ilmu akan tetap ada. Mereka memang mati namun kepribadian mereka dalam hati tetap ada.”[35]
  • Dari Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata, “Pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya merupakan khasy-yah, menuntutnya adalah ibadah, mengulang-ngulangnya adalah tasbih, membahasnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah, mencurahkannya untuk ahlinya adalah qurbah (baca: mendekatkan diri kepada Allah) karena ia adalah penunjuk halal dan haram dan menara jalan-jalan penghuni surga. Dia adalah   …penunjuk pada kesenangan dan kesusahan, senjata untuk melawan musuh, perhiasan untuk para pencinta. Dengannya Allah mengangkat segolongan orang dan menjadikan mereka berada pada kebaikan sebagai pemimpin dan imam…”[36]
  • ‘Umar bin Al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan, “Sesungguh, seseorang keluar dari rumahnya sedang pada dirinya terdapat dosa sebesar gunung Tihamah. Namun tiba-tiba ia mendengar suatu ilmu, ia pun merasa takut dan kembali serta bertaubat. Ia kembali ke rumahnya sedangkan padanya sudah tidak ada dosa. Oleh karena itu, janganlah kalian memisahkan diri dari majlis para ulama.”[37]
  • ‘Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu– menyatakan, “Pelajarilah ilmu sebelum dicabut. Dan dicabutnya adalah dengan kematian para ulama. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh seseorang yang terbunuh di jalan Allah sebagai syahid berangan-angan dibangkitkan sebagai ulama karena mereka mengetahui kemuliaan mereka. Dan sesungguhnya seseorang itu tidak dilahirkan dalam keadaan berilmu. Sedangkan mendapatkan ilmu itu dengan belajar.”[38]
  • Abu Ad-Darda’ –radhiyallahu ‘anhu– menuturkan, “Aku mempelajari suatu permasalahan lebih kusukai daripada shalat malam.”[39]
  • Dari Al-Hasan Al-Bashri –radhiyallahu ‘anhu-, beliau menuturkan, “Aku mempelajari suatu bab ilmu kemudian kuajarkan kepada seorang muslim, itu lebih kusukai daripada aku memiliki dunia seluruhnya (yang kubelanjakan) di jalan Allah.”[40]
  • Beliau –rahimahullah– juga menyatakan, “Sekiranya bukan karena ulama, tentu manusia bagaikan hewan ternak.”[41]
  • Dari Abu Muslim Al-Khaulani –rahimahullah-, beliau menyatakan, “Perumpamaan ulama-ulama di bumi itu laksana bintang-bintang di langit. Jika ia (bintang) menampakkan untuk manusia, mereka memperoleh petunjuk dengannya, namun jika tidak nampak, mereka akan kebingungan.”[42]
  • Imam kita, Imam Asy-Syafi’i –radhiyallahu ‘anhu-, mengatakan, “Tidak ada sesuatu setelah kewajiban yang lebih afdhal daripada menuntut ilmu.”[43]

Beliau juga mengatakan, “Siapa yang menginginkan dunia, haruslah dengan ilmu, dan siapa yang menginginkan akhirat, maka seharusnya dengan ilmu.”[44]

  • Adalah ‘Atha bin Abu Rabbah –rahimahullah– merupakan seorang budak (baca: hamba sahaya) milik wanita penduduk Makkah. Seakan-akan hidungnya bagaikan kacang. Datanglah Sulaiman bin ‘Abdul Malik, seorang amirul mukminn, bersama kedua anaknya menemui ‘Atha dan mereka duduk di sisinya sedangnya ia tengah menunaikan shalat. Usai shalat, ia menghadap mereka[45], mereka terus bertanya padanya tentang manasik haji sedangkan tengkuknya sudah berbalik pada mereka. Selanjutnya Sulaiman berkata kepada kedua anaknya, “Berdirilah!” Keduanya pun berdiri. “Wahai ankakku,” kata Sulaiman, “Janganlah kalian lalai dari menuntut ilmu, karena sesungguhnya aku tidak melupakan kerendahan kita di hadapan budak hitam ini.”[46]
  • Berkata Asy-Syafi’i –rahimahullah-, “Dulu aku membuka lembaran kertas dengan sangat lembut di hadapan Malik karena kewibawaannya aga beliau tidak mendengar lembaran ang dibuka.”[47]
  • Sebagian guru kami menceritakan bahwa ketika Ar-Razi berbicara, para hadirin tidak ada yang berani bernafas karena kewibawaannya.
  • Berkata Shal bin ‘Abdullah At-Tasturi –rahimahullah-, “Siapa yang ingin melihat majlis para Nabi –‘alaihimussalam-, hendaknya ia melihat majlis para ulama.”[48]
  • Dari Al-Fadhl bin Dukain, ia berkata, aku mendengar Abu Hanifah mengatakan, “Jika para ulama dan ahli fiqih bukan wali-wali Allah di dunia dan akhirat, maka berati Allah tidak punya wali.”[49]
  • Dari Ar-Rabi’ bin Sulaiman, ia berkata, aku mendengar Asy-Syafi’i mengatakan, “Sekiranya para ahli fiqih bukan wali Allah di akhirat, maka berati Allah tidak memiliki wali.”[50]
  • Dari Al-Muzani, aku mendengar Asy-Syafi’i berkata, “Siapa yang mempelajari Al-Quran nilainya membesar, siapa yang merenungkan fiqih cerdik miqdarnya, siapa yang mempelajari bahasa’Arab tabiatnya yang menjadi lembut, siapa yang merenungi ilmu hitung … pikirannya, siapa yang menulis hadits hujjahnya akan kuat, siapa yang tidak menjaga dirinya tidak akan bermanfaat ilmunya.”[51]

Ini hanyalah sekelumit tentang kemuliaan dan kedudukan ilmu dan pemiliknya. Di sana masih banyak lagi dalil dan bukti yang menjadi saksi keagungan dan ketinggian ilmu dan ulama. Sekiranya dikumpulkan dalam sebuah kitab, tentu akan menjadi sangat besar.

Berikut akan saya sebutkan beberapa kitab yang bisa dijadikan sebagai refrensi dalam mengetahui keutamaan ilmu, adab, dan cara memperolehnya[52]:

  1. Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih, karya Al-Khathib Al-Baghdadi.
  2. Ta’lim Al-Muta’allim fi Thariq At-Ta’allum, karya Burhanuddin Az-Zarnuji.
  3. Adab Ath-Thalab, karya Asy-Syaukani.
  4. Fadhl ‘Ilm As-Salaf ‘ala Al-Khalaf, karya Ibnu Rajab.
  5. Jami’ Bayan Al’Ilm wa Fadhlih, karya Ibnu ‘Abdil Barr.
  6. Tadzkirah As-Sami’ wa Al-Mutakallim fi Adab Al-‘Alim wa Al-Muta’allim, karya Ibnu Jama’ah.
  7. Hilyah Thalib Al’Ilm[53], karya Bakr bin ‘Abdullah Abu Zaid.
  8. Kitab Al’Ilm, karya Ibnu ‘Utsaimin.
  9. Ma’alim fi Thariq Thalab Al-‘Ilm, karya ‘Abdul ‘Aziz bin As-Sad-han.
  10. Fadhl Al’Ilm wa Adab Thalabih, karya Muhammad bin Ruslan.
  11. An-Nubadz fi Adab Thalab Al-‘Ilm, karya Hamd bin Ibrahim Al-‘Utsman.

Berikut akan saya sarikan beberapa adab yang selayaknya diketahui oleh seluruh penuntut ilmu agar nantinya ketika ia menuntut ilmu akan memperoleh berkah dan kebaikan yang lebih banyak dan tidak menyesal sedikitnya ilmu yang ia peroleh ketika bermajlis karena kurangnya adab yang ia miliki.

***


[1] QS Thaha: 114.

[2] Fat-h Al-Bari syarh Shahih Al-Bukhari, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (I/141)

[3] QS Al-Mujadalah: 11.

[4] Tadzkirah As-Sami’ wa Al-Mutakallim fi Adab Al-‘Alim wa Al-Muta’allim, karya Ibnu Jama’ah Al-Kinani (hlm. 27). Juga disebutkan secara makna oleh Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum Ad-Din (I/5).

[5] QS Alu ‘Imran: 18.

[6] Tadzkirah As-Sami’ wa Al-Mutakallim (hlm. 27).

[7] QS Al-‘Ankabut: 43.

[8] QS Al-‘Ankabut: 49.

[9] QS Al-Fathir: 28.

‘Abdurrazzaq –rahimahullah- berkata, “Aku tidak melihat seseorang yang lebih baik shalatnya dari Juraij. Jika aku melihatnya, aku tahu bahwa ia takut kepada Allah.”

[10] Khasy-yah adalah rasa takut yang disertai pengagungan. Berbeda dengan khauf yang hanya semata-mata takut.

[11] Yaitu pemilik ilmu atau ulama.

[12] Adab Thalib Al-‘Ilm (hlm. 13), karya Dr. Ahmad Karzun.

[13] QS Al-Bayyinah: 6-7.

[14] Tadzkirah As-Sami’ wa Al-Mutakallim (hlm. 29).

[15] QS Al-Baqarah: 269.

[16] Ma’alim At-Tanzil, karya Al-Baghawi ketika mentafsirkan ayat ini.

[17] QS Muhammad: 19.

[18] Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-‘Ilm, Bab Al-‘Ilm Qabl Al-Qaul wa Al-‘Amal.

[19] QS Az-Zumar:  9.

[20] QS Al-Maidah: 4.

[21] HR Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi.

[22] HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Sanadnya dinilai hasan oleh pentahqiq Jami’ Al-Ushul (VIII/6), ‘Abdul Qadir Al-Arnauth.

[23] Sebagian ulama menyimpulkan dari penggalan pertama hadits ini sebagai kabar gembira bagi penuntut ilmu akan diwafatkan dalam keadaan Islam –semoga Allah menjadikan kita bagian darinya-.

[24] Tadzkirah As-Sami’ wa Al-Mutakallim (hlm. 31).

[25] Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin (hlm. 21), karya Ibnu Qudamah, tahqiq Zuhair Asy-Syawis.

[26] Tadzkirah As-Sami’ wa Al-Mutakallim (hlm. 29).

[27] HR At-Tirmidzi.

[28] Yaitu, tidak menyibukkan diri dengan agama dan tidak mempedulikannya. (At-Targhib wa At-Tarhib III/91).

[29] HR Al-Bukhari dan Muslim.

[30] HR Muslim.

[31] QS Alu ‘Imran: 79.

[32] Riwayat Ibnu Mas’ud dan riwayat ini direkam dalam Shahih Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih (hlm. 12-13).

[33] HR At-Tirmidzi.

[34] Miftah Dar As-Sa’adah (I/397).

[35] Adab Ad-Dunya wa Ad-Din (hlm. 48), karya Imam Abu Al-Hasan Al-Mawardi (wafat 450). Disebutkan pula oleh An-Nawawi dalam Al-Majmu’ dengan tanpa menyebutkan penucapnya dan hanya, “Ilmu itu menjagamu dan kamu menjaga harta. Ilmu itu membelamu sedangkan harta, kamulah yang membelanya.”

[36] Al-Majmu’ syarh Al-Muhadzdab (I/41)

[37] Miftah Dar As-Sa’adah (I/77), karya Imam Ibnu Qayyimil Jauziyyah.

[38] Miftah Dar As-Sa’adah (I/397).

[39] Miftah Dar As-Sa’adah (I/122).

[40] Al-Majmu’ syarh Al-Muhadzdzab (I/21), karya Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi Asy-Syafi’i (wafat 676).

[41] Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin (hlm. 22).

[42] Al-Majmu’ syarh Al-Muhadzdzab (I/41).

[43] Muqaddimah Al-Minhaj syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj (I/12), karya Imam Abu Zakariya An-Nawawi.

[44] Perhatian! Tidak sedikit penceramah dan khathib yang menisbatkan perkataan ini kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dengan tidak hanya sampai di sini, akan tetapi ditambah dengan pernyataan, “Dan siapa yang menginginkan keduanya, maka harusnya dengan ilmu.” Maka penisbatan semacam ini adalah penisbatan yang bathil dan keliru karena ini adalah pernyataan Imam Asy-Syafi’i. Dikhawatirkan orang yang menisbatkannya pada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– termasuk dalam ancaman, “Siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, hendaknya ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” Juga masuk dalam kategori, “Siapa yang menceritakan sebuah hadits yang disangka dusta (dalam riwayat lain: diyakini)*, maka ia termasuk dari para pendusta (atau: salah satu dari dua pendusta).”

[45] Yaitu jama’ah yang ada di sekelilingnya yang menantinya sebelumnya.

[46] Shahih Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih (hlm. 18).

[47] Bandingkan hal ini dengan para penuntut ilmu dewasa ini. Sebagian mereka justru biasa membalas sms, telphone, dan tindakan-tindakan rendahan lainnya ketika pelajaran dan taklim tengah berlangsung. Wallahulmusta’aan wa ‘alaihit tiklan.

[48] Shahih Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih (hlm. 21).

[49] Shahih Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih (hlm. 21).

[50] Shahih Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih (hlm. 21).

[51] Shahih Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih (hlm. 21-22).

[52] Sebagiannya disarankan Syaikh Bakr bin ‘Abdullah Abu Zaid dalam Al-Hilyah.

[53] Pada beberapa pecan yang lalu kitab ini dibahas Syaikhuna Ahmad Al-Jailan dalam sebuah daurah. Juga telah disyarah Syaikhuna Badr bin ‘Ali bin Thami Al-‘Utaibi yang sudah direkam. Walhamdulillah.

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: