//
you're reading...
Fiqih dan Hukum

Hukum Musik dalam Kaca Mata Ulama Jawa

nadaDalam Mirqâh Shu’ûd At-Tashdîq (hal. 94, cet. Darul Kutub Al-Islamiyyah Jakarta), Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-Bantani Asy-Syafi’i –rahimahullah– menyatakan:

فصل : في المنهيات من البيوع

(و) يحرم بيع كل (محرم كالطنبور) قال عطية : هو بضم الطاء كما في المختار أي و كالمزمار بكسر الميم. فلا يشتري لابنه زمارة أو صفارة، و إذا راى ذلك وجب كسره. اهــ. ذلك لأنه لا نفع بذلك نفعا مقصودا في الشرع. قال ابن حجر : و لو كان ذلك من ذهب، فيكون بذل المال في مقابلته سفها. و إنما صح بيع إناء النقد لأنه يحل استعماله لحاجة، بخلاف آلات الملاهي. اهـ. أي فلا نظر إلى إنظار رضاضها، لأنها بهيئتها لا يقصد منها غير المعصية، كما نبه على ذلك شيخ الإسلام.

“Padal: Larangan-larangan dalam Berjual-Beli. Diharamkan berjual-beli segala sesuatu yang haram, seperti gitar (rebab).

Syaikh ‘Athiyyah mengatakan, ‘Artinya sepemacam seruling. Maka tidak boleh membelikan seruling untuk anaknya atau peluit. Jika ia (baca: bapak) melihat ada barang-barang tersebut, ia wajib memusnahkannya.’

Yang demikian itu karena tidak adanya manfaat yang dimaksudkan menurut syariat.

Syaikh Ibnu Hajar mengatakan, ‘Maskipun barang-barang tersebut terbuat dari emas. Maka membuang harta untuk membeli barang-barang tersebut adalah tindakan bodoh! Dibolehkan berjual-beli bejana emas atau perak, karena ia boleh dipakai untuk keperluan (yang mendesak). Lain halnya dengan alat-alat musik.’

Tidak lagi dianggap pecahan-pecahannya. Karena barang-barang itu tidak dimanfaatkan kecuali untuk sarana kemaksiatan. Demikian Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari mengingatkan.”

Di halaman 127, Syaikh Nawawi juga mengatakan:

فصل : في بعض معاصي الأذن

(و من معاصي الأذن : الإستماع إلى المزمار) بكسر الميم و هو : ما يضرب به مع الأوتار، و هو مزمار عراقي كما قال شيخ الإسلام في الفتح. (و الطنبور) بضم الطاء و في الحديث : من استمع آلة الملاهي في الدنيا لم يسمع قراء أهل الجنة، و منهم يوسف و محمد صلى الله عليه و سلم.

(و سائر الأصوات المحرمة) كطبل كوبة….

“Pasal: Berbagai Maksiat Telinga: Dan di antara maksiat telinga ialah mendengarkan gitar, yaitu yang dipetik dengan benang-benang. Itulah gitar Iraq, sebagaimana kata Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari dalam Fathul Wahhab. Dan juga seruling.

Dalam sebuah hadits dinyatakan, ‘Siapa yang mendengarkan alat music di dunia, maka ia tidak akan mendengar pembaca-pembaca penduduk surga.’ Di antaranya adalah Yusuf dan Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Dan pula haram mendengarkan seluruh suara yang haram seperti bedug kubah.”

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

2 thoughts on “Hukum Musik dalam Kaca Mata Ulama Jawa

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Hukum Musik dalam Kaca Mata Ulama Jawa – Menelusuri Jejak Para Pendahulu - 02/06/2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: