//
you're reading...
Fiqih dan Hukum

Mudah Memahami Transaksi Riba

riba-1

[Hukum Syariat Untuk Harta]

  • Hukum syariat yang terkait dengan harta ada tiga hukum, yaitu:
  1. ‘Âdi. Misalnya jual-beli.
  2. Kebaikan. Misalnya sedekah.
  3. Kezhaliman. Contohnya riba.

[Pengertian Riba]

  • Riba dalam bahasa ‘Arab artinya:
  1. Berkembang.
  2. Bertambah.
  • Sedngkan riba menurut syariat, ada dua macam:
  1. Riba dalam bentuk penundaan.
  2. Riba dalam bentuk penambahan.

Maka dalam syariat Islam, riba tidak hanya dalam bentuk penambahan, namun juga ada riba dalam bentuk penundaan.

Berdasarkan keterangan ini, pengertian riba dalam syariat lebih luas daripada pengertian riba dalam bahasa ‘Arab.

[Hukum Riba]

Terkait dengan hukum riba, maka riba merupakan sesuatu yang haram dalam syariat semua nabi. Hal ini mengingat adanya bahaya yang besar dalam riba. Ada kezhaliman terhadap orang miskin, ada permusuhan, hilangnya rasa belah kasih dan kasih sayang, dan sebagainya.

Maka orang Yahudi yang suka bertransaksi riba, sebenarnya ia telah melanggar syariat Nabi Musa –‘alaihissalam-.

Karena riba termasuk dosa besar, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumumkan perang terhadap pemakan riba dan nasabah riba. Nasabah riba adalah orang yang mau berhutang dengan cara riba. Maka jangan dikira dalam transaksi riba, yang berdosa Cuma yang menggandakan, membngakan uang, dan yang jadi rentenir. Namun yang nekat berhutang dengan renternir itu juga dosa. Maka ini suatu ancaman yang tidak ada pada dosa-dosa yang lain. Yaitu, satu-satunya dosa yang Allah dan Rasul-Nya memerangi pelakunya itu Cuma riba. Sebagaimana firman Allah di surat Al-Baqarah ayat ke-278(-279):

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

Dalam hadits, diriwayatkan Muslim, dari shahabat Jabir –radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengatakan, “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– melaknat pemakan riba, nasabah riba, sekertaris yang menulis transaksi riba, dan dua saksi transaksi riba. Nabi –shalallahu ‘alaihi wa sallam– mengatakan, ‘Mereka itu sama.’

Mereka itu sama-sama berdosa, meskipun boleh jadi tingkatan dosanya berbeda-beda.

Dalam hadits ini Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– melaknat, yang menunjukkan dosa besar.

Maa termasuk dosa besar adalah pemakan riba; menjadi renternir, membungakan uang, contoh kasarnya. Juga manusia terlaknat adalah nasabah riba yang umumnya pengusaha. Termasuk juga di dalamnya semua orang yang mendukung berjalannya transaksi riba.

Berdasarkan hadits ini, ulama mengatakan, bahwa pekerjaan yang di situ mendukung secara langsung, jelas haramnya.

Di dalam hadits yang lain, Nabi –shallâllahu ‘alaihi wa sallam– menyebutkan, bahwa riba termasuk salah satu dari tujuh dosa (membinaskan) yang harus dijauhi.

Di atas disampaikan, bahwa secara pokok, riba itu ada dua model. Boleh jadi penambahan yang tidak dibenarkan atau penundaan yang tidak dibenarkan.

[Harta yang Dikenai Ketentuan Riba]

Sebelum kita jelaskan lebih lanjut, perlu diketahui ada namanya benda ribawi. Dan harta ribawi ini mempunyai ketentuan khusus dalam mentransaksikannya. Benda riba yang ada dalam hadits ada enam. Untuk mempermudah, benda enam ini terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari dua benda, sedangkan kelompok kedua terdiri dari empat benda.

Kelompok pertama isinya adalah emas dan perak. Termasuk dalam kelompok pertama ini adalah mata uang.

Sedangkan kelompok yang kedua terdiri dari kurma, gandum kasar, gandum halus, dan garam. Termasuk dalam kelompok yang kedua ini adalah semua makanan atau bahan makanan yang mentransaksikannya dengan ditakar atau ditimbang. Karena ada makanan yang mentransaksikannya dengan bijian, seperti premen. Oleh karena itu, besi, motor, hape, dan benda-benda selain makanan bukan termasuk benda ribawi.

Maka barter untuk enam benda dan semisalnya ini memiliki aturan main yang tidak berlaku pada barter benda-benda selainnya.

Dalam hal ini, ada tiga aturan main:

[Pertama: Barter Benda Ribawi Sejenis]

Barter untuk benda sejenis, maka harus tunai dan tidak boleh ada selisih. Artinya semua harus diserahkan di tempat transaksi, berat dan takaran tidak boleh selisih.

Rupiah dengan rupiah itu sejenis. Rupiah dengan dolar tidak sejenis. Dolar dengan dolar sejenis. Dolar dengan yen tidak sejenis. Beras dengan beras sejenis. Kurma dengan kurma sejenis. Tepung dengan tepung sejenis. Jagung dengan jagung sejenis.

Orang yang mau barter benda ribawi sejenis dengan sejenis, harus kontan di tempat transaksi dan tidak boleh ada selisih dengan tutup mata berkaitan dengan kualitas.

Jika orang mau barter rupiah dengan rupiah, maka Rp. 10.000,- harus dengan Rp. 10.000,- dan harus kes. Rp. 10.00,- pertama dan Rp. 10.000,- kedua harus ada di tempat dengan tutup mata terhadap kualitasnya. Meski Rp. 10.00,- yang ini lebih anyir daripada Rp. 10.000,- yang itu.

Beras dibarter dengan beras, maka beras 5 kg harus dengan beras 5 kg, meskipun yang satu rojo lele yang satu IR atau yang satu kualitas nomor satu yang satu kualitas paling buncit. Maka harus tutut mata dengan kualitas isi.

  • Walhasil ada dua ketentuan:
  1. Harus kes (kontan, dibayar di tempat transaksi). Jika hal ini dilanggar, maka masuk dalam kategori riba –karena-penundaan. Dan penundaan dalam bahasa ‘Arab dinamakan nasiah.
  2. Harus sama jumlah barangnya dengan tutup mata dengan kualitas barang. Jika ketentuan ini dilanggar, maka masuk dalam kategori riba karena penambahan. Dalam bahasa ‘Arab disebut dengan fadhl.

[Kedua: Barter Benda Ribawi Beda Jenis dalam Satu Kelompok]

Ketentuan transaksi untuk hal ini hanya satu, yaitu harus kes (kontan, dibayar di temmpat transaksi), boleh ada selisih atau keuntungan. Karena harus kes, maka tidak boleh via online. Sebab, jika online, maka tidak kes. Harus transaksi fisik, tidak boleh keridit. Jika ketentuan kes ini dilanggar, maka masuk dalam kategori riba karena penundaan.

Contoh: barter emas dengan perak boleh diambil keuntungan, namun tetap harus kes. Barter rupiah dengan dolar, boleh mengambil untung.

Contoh: kurma 5 kg dibarter dengan beras 10 kg, maka boleh asalkan kes.

[Ketiga: Barter Benda Ribawi Benda Jenis Antar Kelompok]

Jika benda jenis antar kelompok, maka dua ketentuan di atas tidak berlaku. Artinya boleh keridit dan boleh cari untung.

Misal: beli beras dikeridit dengan uang, maka boleh. Karena beras itu kelompok dua, sementara rupiah kelompok satu.

Misal: barter emas dengan beras secara keridit, tidak masalah.

Wallahua’lam.

[Ditranskipkan dengan sedikit penyesuaian dari muhadharah Ustadzuna Abu ‘Ukkasyah Aris Munandar –hafizhahullah-]

10:52 Sabtu, 14 September 2013 M

Jati Negara, Jakarta Timur, DKI Jakarta, Indonesia

Firman Hidayat Al-Marwadi

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: