//
you're reading...
Akhlaq dan Adab

Fiqih Adab Menuntut Ilmu 1: Ikhlas

ikhlas1Syaikh Bakr bin ‘Abdullah Abu Zaid –rahimahullah– menjelaskan:

Amal seorang muslim itu tidak dkatakan diterima secara syariat kecuali jika terpenuhi dua rukun:

  1. Ikhlas.
  2. Mutaba’ah.

Ikhlas adalah menjadikan amal tersebut karena Allah Ta’ala, di dalamnya tidak ada bagian untuk selain Allah, murni dari noda keinginan untuk selain-Nya.

Sedangkan mutaba’ah atau juga disebut shawab (baca: benar) ialah menjadikan amal itu sesuai dengan apa yang Allah syariatkan kepada Rasul-Nya, Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Noda niat melahirkan riya’ dan syirik dan noda mutaba’ah menumbuhkan maksiat dan bid’ah.

Riya’ merupakan pintu masuk kemunafikan, maksiat merupakan pengantar kenifakan, dan bid’ah merupakan lorongnya kekafiran.

Ringkasnya, apabila kedua rukunnya itu lepas atau salah satunya, maka amal tersebut tertolak, tidak diterima. Dalil-dalil yang menunjukkan ini bertebaran dalam Al-Quran dan Sunnah.”[1]

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As-Sad-han –hafizhahullah– berkata:

“Yaitu, agar kepergian kita menuju majlis-majlis ilmu, duduk kita di sana, dan sekembalian kita darinya ikhlas karena mengharap wajah Allah dan tidak dinodai noda berupa riya’ dan sum’ah. Dan ini sedikit sekali yang selamat. Akan tetapi Allah Maha Lembut kepada hamba-hamba-Nya. Terkadang niat itu diiringi noda berupa kecintaan sum’ah, kecintaan untuk terkenal, atau kecintaan riya’. Akan tetapi jika seorang hamba itu bermujahadah dan tidak menyukai hal semacam ini, berdoa kepada Rabb-nya, merendahkan diri, tunduk (pada-Nya), maka sesungguhnya Allah sesuai dengan perasangka baik hamba-Nya. Jika baik maka baik dan jika buruk maka buruk.”[2]

Dengarkanlah firman Allah ‘Azza wa Jalla berikut:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…”[3]

Dari ‘Umar bin Al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu-, berliau berkata, aku mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

 

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ، وَ إِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Perbutan-perbuatan itu hanya tergantung pada niatnya dan setiap orang hanya akan memperoleh sebagaimana yang ia niatkan.[4]

Dengan niat segala perbuatan akan bias dibedakan antara ini dan itu. Burhanuddin Az-Zarnuji mengatakan:

 

“Betapa banyak perbuatan yang bentuknya adalah amalan dunia kemudian menjadi amal akhirat karena niat yang bagus. Dan betapa banyak amalan yang bentuknya adalah amalan akhirat kemudian berubah menjadi amalan dunia karena buruknya niat.”[5]

Jika ada yang bertanya, “Niat yang bagaimanakah yang dikatakan ikhlas dalam menuntut ilmu itu?”

Jawabnya adalah sebagaimana yang dikatakan Ibnu Jama’ah, “Niat yang baik dalam menuntut ilmu adalah seseorang memaksudkan dengan menuntut ilmu itu mengharap wajah Allah Ta’ala, mengamalkannya, menghidupkan syariat, menyinari hatinya, menghiasi batinnya, mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala di hari Kiamat, dan menoleh kepada apa yang dijanjikan untuk ahlinya berupa keridhaan dan karunia yang besar.”[6]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin –rahimahullah– mengatakan:

“Bagaimana ikhlas menuntut ilmu itu?

Kita katakan, ikhlas dalam menuntut ilmu itu dalam beberapa perkara:

Pertama, Anda meniatkan dalam menuntut ilmu itu menunaikan titah Allah Ta’ala. Allah berfirman:

فاعلم أنه لا إله إلا الله واستغفر لذنبك

“Ketahuilah, bahwasannya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Dan mintalah ampun atas dosamu.”[7]

Allah Subhanahu wa Ta’ala mendorong mengetahui ilmu dan mendorong kepada sesuatu yang berkonsekuensi mencintai, ridha, dan menyuruh padanya.

Kedua, Anda meniatkan dalam menuntut ilmu untuk menjaga syariat Allah. Sebab, menjaga syariat Allah dapat dilakukan dengan belajar, menjaganya dalam dada, demikian juga dengan tulisan, tulisan di buku-buku.

Ketiga, menjaga dan membela syariat. Sebab, sekiranya bukan karena para ulama, tentu syariat tidak terjaga dan tidak ada seorang pun yang membelanya. Oleh karena itu kta dapati, misalnya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah– dan selainnya dari kalangan ahli ilmu yang membendung ahli bid’ah dan menjelaskan batilnya kebid’ahan mereka, mereka memperoleh kebaikan yang melimpah.

Keempat, dengan menuntut ilmu Anda meniatkan mengikuti syariat Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Karena tidak mungkin Anda mengikuti syariatnya sampai Anda mengetahui syariat ini.”[8]

Ancaman bagi penuntut ilmu sangatlah hebat dan berat. Banyak dalil-dalil yang menunjukkan hal ini. Di antaranya adalah:

“Sesungguhnya manusia pertama kali yang akan dihakimi pada hari kiamat adalah –di antaranya beliau menyebutkan- dan seseorang yang belajar ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Quran. Kemudian ia didatangkan dan diberitahukan kenikmatannya dan ia pun mengetahuinya. Dia berkata, “Apa yang kau lakukan?” Ia menjawab, “Aku pelajari ilmu, kuajarkannya, dan aku membaca Al-Quran karena Engkau.”  Dia berfirman, “Kamu dusta! Akan tetapi kamu mempelajari ilmu agar dikatakan, ‘Alim,’ dan kamu membaca Al-Quran agar dikatakan, ‘Qari,’ dan itu sudah dikatakan. Ia pun diperintah untuk diseret mukanya lalu dimasukkan ke dalam neraka.”[9]

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْبَا لَمْ يَجِدْ عَرَفَ الجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Siapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya diharapkan dapat melihat wajah Allah ‘Azza wa Jalla, ia tidak mempelajarinya kecuali untuk memperoleh bagian dunia, ia tidak akan mencium aroma Surga pada hari kiamat.”[10]

Al-Imam Asy-Syafi’i –rahimahullah– mengatakan, “Aku berharap manusia mempelajari ilmu ini dan tidak menisbatkannya padaku meski sehuruf.”[11]

Abu Yusuf[12]rahimahullah– mengatakan, “Wahai kaum, inginkanlah wajah Allah dengan ilmu kalian. Sesungguhnya aku tidak duduk sama sekali di majlis berniat merendahkan diri kecuali aku tidak berdiri sampai aku mengungguli mereka. Dan tidaklah aku duduk di majlis sama sekali berniat mengungguli mereka kecuali aku tidak berdiri sampai aku terkenal.”[13]

Al-Imam Ahmad bin Hanbal –rahimahullah– mengatakan, “Tidak ada sesuatu yang mengungguli ilmu jika niatnya benar.” Orang-orang disekitarnya bertanya, “Wahai Abu ‘Abdullah[14], bagaimana niat yang benar itu?” “Ia berniat menghiangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain.” []


[1] At-Ta’alum (hlm. 95) yang dicetak dalam Al-Majmu’ Al-‘Ilmiyyah.

[2] Ma’alim fi Thariq Thalab Al-‘Ilm (hlm. 49-50). Sufyan Ats-Tsauri –rahimahullah– mengatakan, “Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat daripada niatku.” (Tadzkirah As-Sami’ wa Al-Mutakallim (hlm. 112).

[3] QS Al-Bayyinah: 5.

[4] HR Al-Bukhari dan Muslim.

Faidah: sebagian ulama mengatakan, “Siapa yang hendak mengarang suatu kitab, sepantasnya ia memulai dengan hadits ini.” Maksudnya adalah agar pembaca nantinya bisa membenahi niatnya sebelum ia lebih jauh menelaah buku tersebut. Dan kenyataannya pun demikian. Lihat saja, misalnya, Imam Al-Bukhari, Imam An-Nawawi, dan selainnya memulai karangan-karangannya dengan hadits ini.

[5] Ta’lim Al-Muta’allim fi Thariq At-Ta’allum.

Faidah: Ketika menyampaikan pelajaran Hilyah Thalib Al-‘Ilm, Syaikhuna Badr bin ‘Ali Al-‘Utaibi –hafizhahullah wa ra’ah- menasihatkan agar kitab ini, Ta’lim Al-Muta’allim, bisa dibaca karena ia merupakan buku yang bermanfaat.

[6] Tadzkirah As-Sami’ wa Al-Mutakallim (hlm. 112).

[7] QS Muhammad: 19.

[8] Syarh Hilyah Thalib Al-‘Ilm (hlm. 8-9).

[9] HR Muslim.

[10] HR Abu Dawud. An-Nawawi berkata dalam Riyadh Ash-Shalihin, “Isnadnya shahih.”

[11] Al-Majmu’ syarh Al-Muhadzdzab (I/72).

[12] Beliau adalah Ya’qub bin Ibrahim bin Habib Al-Anshari Al-Kufi Al-Baghdadi seorang murid Imam Abu Hanifah dan orang yang pertama kali menyebarkan madzhabnya. Lahir di Kufah 113 H dan wafat di Baghdad tahun 182 H.

[13] Al-Majmu’ syarh Al-Muhadzdzab (I/72-73).

[14] Kun-yahnya Imam Ahmad.

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

One thought on “Fiqih Adab Menuntut Ilmu 1: Ikhlas

  1. You created some decent points there. I looked on the internet for the problem and discovered most individuals will go along with along with your website.

    Posted by Arianna | 17/01/2014, 2:36 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: