//
you're reading...
Biografi Ulama

Pembelaan Abdul Karim Amrullah Terhadap Ibnu Taimiyyah

ibnu_taimiyah_bNama Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdussalam bin Tamiyyah Al-Harrani yang lebih akrab dengan sapaan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah nampaknya sosok yang ditakuti banyak kalangan terutama oleh ahlul bida’ wal ahwa’. Pasalnya melalui tangan beliau ini, Allah Ta’ala membongkar kesesatan-kesesatan yang selama ini menjadi kebiasaan dan tradisi banyak orang, tak terkecuali para ulamanya. Berbagai amalan bid’ah yang sudah dianggap ibadah itu lama diyakini banyak kaum muslimin sampai-sampai timbul statemen, bahwa siapa yang tidak mengamalkan amalan bid’ah tersebut, maka ia dinilai telah berbuat bid’ah dan telah meninggalkan sunnah (!). Ambil contoh misalnya ziarah ke makam para nabi dan kaum shalih untuk ngalap berkah, istighatsah, dan semacamnya. Dan selama itu tidak ada seorang pun di kalangan ulama yang mengingkari atau mempermasalahkannya. Padahal jelas-jelas ritual tersebut belum pernah dikenal di masa generasi pertama.

Contoh lain, misalnya, anggapan banyak ulama bahwa pintu ijtihad sudah tertutup sehingga tidak ada jalan lain bagi kaum muslimin dalam beragama kecuali harus taqlid kepada salah satu imam yang madzhabnya sudah dibukukan dan dikumpulkan. Dampaknya Al-Quran dan Sunnah justru ditinggalkan, sementara pendapat para imam dijadikan sebagai syariat yang wajib diikuti (!).

Ketika keadaan sudah seperti itu, tiba-tiba ada orang ‘kemarin sore’ yang bernama Ibnu Taimiyyah yang berani mengusik ‘ketenangan’ ini. Beliau –rahimahullah– menjelaskan duduk permasalahan yang sesungguhnya, bahwa pada hakikatnya semuai ini adalah kekeliruan dan kesesatan yang harrus dijauhi serta dimusnahkan. Maka melalui lisan dan tulisannya, beliau menjelaskan dengan gamblang beserta hujjah dan argumen Al-Quran dan Sunnah akan kelirunya amalan ini. Walhasil banyak kaum muslimin yang menerima penjelasan beliau dan pada akhirnya syaikh-syaikh yang selama ini mereka anuti lambat laun ditinggalkan dan ‘diterlantarkan’. Melihat kenyataan ‘buruk’ ini, para syaikh yang ‘diterlantarkan’ ini mulai membuat makar atas Ibnu Taimiyyah dengan tipu muslihat yang licik. Fitnah, tuduhan, dan julukan-julukan mirik dialamatkan kepada Ibnu Taimiyyah dan para muridnya. Kenapa demikian? Karena beliau lah yang ‘menelanjangi’ kesesatan mereka sehingga umat mengetahui mana yang haq dan mana yang bathil.

Para syaikh tersebut memperingatkan umat akan ‘kesesatan’ Ibnu Taimiyyah agar umat kembali ngaji kepada mereka dan mereka pun memperoleh jop kembali.

Kenyataan ini juga terjadi di Indonesia. Banyak kiai yang mencekoki kaum awam dengan doktrin-doktrin miring yang intinya suapa tidak terpengaruh ‘pemikiran’ Ibnu Taimiyyah yang pada hakikatnya adalah kebangkitan Islam. Dan ternyata para kiai dan syaikh negeri ini untuk sementara waktu berhasil mendoktrin tidak sedikit orang awam. Namun di saat seperti itu muncullah segelintir anak ‘kemarin sore’ yang menghidupkan perjuangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, yaitu memurnikan ajaran Islam dari berbagai noda kebid’ahan. Di antara mereka adalah Syaikh KH Ahmad Dahlan Al-Jogjawi dan Syaikh Dr. ‘Abdul Karim Amrullah serta kaum mudo Minangkabau.

Berikut adalah pernyataan Syaikh ‘Abdul Karim bin Muhammad Amrullah Ad-Danawi Al-Minangkabawi tentang pembelaan beliau terhadap Syaikhul Islam –rahimahullah-.

Beliau –rahimahullah– berkata:

Tentang membahas asal kejadian ini, teringat pada pendahuluan pikiran hamba, bahwasanya banyak pembaca yang akan salah penerimaan kepada hamba karena dua sebab:

Pertama, karena tersebut Ibnu Taimiyyah yang dikata orang dengan bahwasanya ia orang sesat!

Kedua, karena keadaan asal kejadian daripada “nur Muhammad” itu masyhur daripada kebanyakan ulama. Padahal hamba menukilkan akan perkataan orang yang mendustakan.

Tetapi yang sebetulnya, sepanjang ingatan hamba itu, tidaklah akan hamba hiraukan. Kareba kata Allah Ta’ala, artinya: “Dan jika engkau ikuti akan kebanyakan orang yang di dalam bumi, niscaya menyesatkan mereka itu akan engkau daripada jalan Allah Ta’ala.” Wallahua’lam.

Dan berkata Ia, artinya: “Tiadalah mengikuti mereka itu melainkan menurut anggak-anggak hati saja.”

Maka pada Ibnu Taimiyyah itu amat banyaklah barang yang dituduhkan orang kepadanya, daripada kesesatan. Padahal ia -semoga Allah Ta’ala merahmatinya- lepas daripada tuduhan itu, dengan menilik kepada karangan-karangannya yang sampai kepada kita itupun.” Wallahua’lam.

Berkata Allah Ta’ala, artinya, “Bahwasanya Tuhan engkau lebih mengetahui akan siapa orang yang sesat daripada Agama-Nya, dan Ia lebih tahu dengan orang yang dapat petunjuk.”

Tetapi sungguh pun begitu, tuduhan orang kepadanya, ikrar juga segala ulama dengan keadaannya. Hafizh yang kebilangan pada hadits. Sehingga berkata setengah ulama, “Tiap- -tiap hadits yang tiada dimengetahui akan dia oleh Ibnu Taimiyyah, maka tiada ia hadits.”

Maka karena itulah, hamba tidak menghiraukan orang yang menuduh-nuduh itu.”

(Qathi’ Riqab Al-Mulhidin fi ‘Aqaid Al-Mufsidin, hlm. 38-40)

Wallahua’lam.

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: