//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj, Hadits Nabawi & Ilmunya

Serial Syarah Arba’in: Memahami Setengah Ajaran Islam

Arbain

Teks Hadits

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ ، وَ إِنَّمَا لِكُلٍّ امْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَ رَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَ رَسُوْلِهِ ، وَ مَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

Dari Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu-, ujarnya, ‘Aku mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Amal perbuatan itu hanya tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya akan menerima sesuai dengan apa yang diniatkannya. Siapa yang berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu sampai pada Allah dan Rasul-Nya. Namun siapa yang melakukan hijrah karena motifasi dunia yang inging ia raih atau wanita yang akan ia nikahi, maka hijrahnya tersebut sesuai apa yang ia maksudkan.”

HR Imam Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Ju’fi Al-Bukhari dan Abu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi.

Biografi Shahabat Perawi:

Nasab ‘Umar Al-Khathtab (40 SH-23 H/584-644 M) ialah ‘Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin ‘Abdul ‘Uzza bin Riyah bin ‘Abdullah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’b bin Luaiy Al-Qurasyi Al-‘Adawi, Abu Hafsh. Jika dilihat dari nasab tersebut, dapat diketahui bahwa nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– di kakek yang ke-8, yaitu Ka’b bin Luaiy.

Shahabat ‘Umar bin Al-Khaththab merupakan khalifah kedua dalam Islam. Beliaulah yang kali pertama mendapat gelar Amirul Mukminin. Kepemimpinannya yang begitu adil kerab dijadikan sebagai prmisalan dan petuah. Sebelum keislamannya, beliau termasuk tentara suku Quraisy dan kerap dipercaya menjadi delegasi mereka ke luar daerah. Beliaulah yang dimaksud dengan dua ‘Umar dalam do’a Rasululullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, agar Allah memuliakan dan menguatkan keberadaan Islam dengan keislaman salah seorang dari dua ‘Umar.

‘Umar bin Al-Khaththab memeluk Islam 5 tahun sebelum hijrah, setelah sebelumnya sangat memusuhi, membenci, dan fobi terhadap Islam. Karena keislamnya itu, Ibnu Mas’ud pernah mengenang, “Dahulu kami tidak bisa mengerjakan shalat di dekat Ka’bah sampai ‘Umar memeluk Islam.” ‘Ikrimah berkata, “Dahulu Islam masih terus menyembunyikan jati dirinya hingga ‘Umar memeluk Islam.”

‘Umar bin Al-Khaththab dibaiat menjadi khalifah pada hari kewafatan Abu Bakar –radhiyallallahu ‘anhu-. Di masa kepemimpinannya, telah terhitung berbagai negeri yang berhasil ditakhlukkan orang-orang Muslim, antara lain Syam, Iraq, Baitul Maqdis, Mesir, dan seterusnya. Beliau pulalah yang kali pertama yang menetapkan penanggalan hijriah, setelah sebelumnya orang-orang ‘Arab biasa bertanggal dengan berbagai pristiwa tertentu.

Di antara kepemimpinan ‘Umar bin al-Khaththab yang menakjubkan ialah kebiasaannya yang sering ‘blusukkan’ di tengah kampung untuk mencari orang-orang yang dianggap perlu diberi bantuan dan memutuskan dua orang yang bersengketa jika beliau jumpai.

Diriwayatkan bahwa ‘Umar memiliki cincin yang bertuliskan, “Hai ‘Umar, kematian itu sudah cukup dijadikan sebagai penasehat.”

Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– memberinya gelar Al-Faruq dan memberinya kun-yah Abu Hafsh.

Pada suatu shalat shubuh ketika beliau bertindak sebagai imam shalat, tiba-tiba tanda diduga seorang Abu Luklu’ Fairuz Al-Farisi Al-Majusi, budak milik Al-Mughirah bin Syu’bah, yang menikamnya dengan khanjar, yaitu sebilah pisau yang memiliki dua mata. Setelah tikaman itu, beliau masih sempat menghembuskan nafas hingga tiga malam berikutnya.[1]

Kedudukan Hadits

Hadits di atas merupakan salah satu dari tiga hadits yang dipandang sebagai pokok ajaran Islam. Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Pokok-pokok ajaran Islam itu terdapat dalam tiga hadits:

  • Hadits ‘Umar, ‘Amal perbuatan itu hanya tergantung pada niatnya,’
  • Hadits ‘Aisyah, ‘Siapa yang mengada-ada dalam perkara kami yang bukan menjadi urusannya, maka hal tersebut tertolak,’
  • Hadits An-Nu’man bin Basyir, ‘Perkara yang halal itu sudah jelas, dan yang haram pun sudah jelas.’

Imam Ahmad juga pernah mengomentari ketika disebutkan beberapa hadits berikiut, “Amal perbuatan itu hanya tergantung pada niatnya…,” “Sesungguhnya penciptaan kalian ialah dikumpulkan selama empat puluh hari di rahim ibu kalian…,” “Siapa yang mengada-ada dalam urusan agama kami yang bukan menjadi urusannya, maka hal tersebut tertolak.”

Katanya, “Seyogyanya hadits-hadits ini diletakkan dalam setiap karangan. Sebab, itu semua merupakan pokok-pokok hadts.”[2]

Abu Sa’id ‘Abdurrahman bin Mahdi –rahimahullah– pernah berkata, “Siapa yang hendak mengarang suatu kitab, seyogyanya ia memulai dengan hadits ini.”[3]

Imam Abu Sulaiman Al-Khaththabi –rahimahullah– berkata, “Guru-guru kami dahulu suka mendahulukan hadits, ‘Amal-amal tergantung pada niat,’ pada setiap sesuatu perkara agama yang dimulai, mengingat keumuman hajat kepadanya dalam berbagai macamnya.”[4]

Dan memang demikianlah realita yang dapat kita jumpai. Lihat saja misalnya Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, ‘Abdul Ghani Al-Maqdisi dalam ‘Umdah Al-Ahkam, Al-Baghawi dalam Mashabih As-Sunnah Syarh Sunnah, An-Nawawi dalam kitab Al-Arba’in fi Mabani Al-Islam wa Qawa’id Ad-Din, ‘Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir, Muhammad Idris bin ‘Abdurrauf Al-Fadani Al-Marbawi Al-Azhari dalam Mukhtashar Shahih At-Tirmidzi yang kemudian diberinya syarah dengan tajuk Bahr Al-Maadzi, ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam Bahjah Qulub Al-Abrar, dan lainnya telah mempraktekkan motifasi tersebut.

Ishaq bin Rahawaih berkata, “Ada empat hadits yang menjadi pokok-pokok ajaran agama: hadits ‘Umar, ‘Amal perbuatan itu hanya tergantung pada niatnya…,’ hadits, ‘Perkara yang halal itu sudah jelas, dan yang haram pun sudah jelas…,’ hadits, ‘Sesungguh penciptaan kalian dikumpulkan dalam rahim ibu kalian selama empat puluh hari…,’ dan hadits, ‘Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami, maka hal itu tertolak.’[5]

‘Utsman bin Sa’id meriwayatkan dari Abu ‘Ubaid, katanya, “Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengumpulkan seluruh urusan akhirat dalam satu kalimat, ‘Siapa yang membuat-buat dalam urusan kami yang bukan berasal darinya, maka tertolak,’ dan beliau menghimpun seluruh perkara dunia dalam satu kalimat, ‘Amal perbuatan itu tergantung pada niatnya….’ Kedua hadits tersebut masuk dalam seluruh bab.”[6]

Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i pernah berkata pula, “Hadits tersebut masuk dalam 70 bab fiqih.”

Beliau juga berkata, bahwa hadits tersebut meruapakan setengahnya ilmu. Sementara Imam Ahmad berpendapat, sepertiganya ilmu. Yang lain mengatakan, seperempatnya ilmu.[7]

Bahkan karena sangking urgennya hadits tersebut, sampai-sampai Mulla Burhanuddin Ibrahim bin Hasan bin Syihabuddin Al-Kurani Asy-Syafi’i (w. 1101) –rahimahullah-, mujaddid abad ke-11 menurut penulis ‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud dan guru daripada ‘Abdurrauf bin ‘Ali As-Sinkili Al-Fanshuri Al-Asyi[8], menulis satu kitab tersendiri membahas hadits tersebut yang kemudian diberi tajuk I’mal Al-Fikr wa ar-Riwayat fi Syarh Hadits Innama Al-A’mal Bi An-Niyyat setebal 200-an halaman.

Makna Hadits Secara Umum:

Sebagaimana persaksian-persaksian sejumlah imam di atas, menjadi semacam bukti betapa agungnya hadits yang tengah kita pelajari ini. Sekiranya hadits tersebut dijelaskan dalam bentuk tulisan, tentu akan membutuhkan satu jilid besar atau bahkan lebih. Hal tersebut karena maknanya yang padat serta kedudukannya yang begitu agung. Namun di sini penulis hanya akan membahas beberapa hal yang kiranya dianggap paling urgen dan penting apa saja yang bersangkutan dengan hadits di atas.

Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjelaskan bahwa segala bentuk perbuatan itu hasilnya tergantung pada niat orang yang melakukannya. Oleh karena itu, ia pun hanya akan memetik hasil sesuai apa yang menjadi motifasinya mengerjakan perbuatan tersebut. Kemudian Rasululullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– memberikan contoh kongkrit agar apa yang beliau katakan sebelumnya menjadi lebih mudah dimengerti dan difahami. Bahwa ada dua manusia yang sama-sama mengerjakan ketaatan, menurut gambaran lahiriahnya, yaitu hijrah dari negeri kafir menuju negeri Islam. Namun kedua orang tadi memiliki nait dan tujuan yang berbeda. Satu di antaranya berniat agar hijrahnya ini mendapat ridha dan pahala dari Allah Ta’ala serta dekat dengan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– , sementara yang lain menginginkan manfaat duniawi semacam lapangan kerja atau ada seorang wanita yang berada di negeri Islam yang hendak dinikahinya. Oleh karena kedua tujuan dan motifasi kedua orang ini berbeda, maka apa yang mereka peroleh pun berbeda pula. Orang yang bertujuan karena Allah dengan mengikuti jejak Rasulullah –shallallalahu ‘alaihi wa sallam– melakukan hijrah dari negeri kafir menuju negeri Islam, tentu memperoleh pahala dan ganjaran yang setimpal atau bahkan lebih dari apa yang ia lakukan. Sementara orang yang melakukan hijrah yang nampaknya bernilai ibadah, namun karena motifasinya duniawi, maka apa yang diperolehnya pun dunia. Hanya saja orang model kedua ini tidak secara otomatis memperoleh apa yang diharapkannya. Terkadang ia memperoleh sesuai harapannya, dan terkadang pula gagal di tengah jalan setelah berletih susah. Berbeda halnya dengan orang pertama di atas, ia pasti memperoleh apa yang ia niatkan. Sebab, “Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”

Ulasan Hadits

            Sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Amal perbuatan itu hanya tergantung pada niatnya,” kalimat ini merupakan sebab. Maksudnya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjelaskan, bahwa setiap perbuatan, baik yang bersifat lahiriah maupun yang terpendam dalam hati, harus ada niatnya. Bahkan mustahil ada orang yang akalnya masih berfungsi sehat melakukan sesuatu menurut kehendaknya sendiri, tanpa paksaan, tidak ada niat yang mendasarinya. Malahan sebagian ulama ada yang menyatakan, “Seaindainya Allah memberi kita beban melakukan sesuatu tanpa ada niat, tentu hal tersebut termasuk taklif yang tidak akan bisa dilaksanakan.”

            “…dan setiap orang hanya akan menerima sesuai dengan apa yang diniatkannya.” Kalimat ini merupakan hasil daripada kalimat sebelumnya. Artinya, orang yang melakukan sesuatu dengan motifasi tertentu, maka orang tersebut hanya akan memperoleh hasil sesuai apa yang ia niatkan, dan apa yang bukan menjadi niatnya sama sekali tidak akan pernah ia capai. Jadi, tidak ada istilah satu amalan memiliki hasil ganda yang datang secara otomatis. Jika akhirat yang diniatkan dan diharapkan, maka itulah untuknya, namun jika yang diinginkan hanya dunia, maka terkadang ia memperolehnya dan terkadang pula gagal tanpa hasil.

            Allah berfirman,

مَّن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا

“Siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.”[9]

            Perhatikanlah, Dia tidak berfirman, “Kami segeragan baginya apa yang menjadi keinginannya,” namun Dia berfirman, “Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi yang kami kehendaki.”

            Kemudian perhatikan bagaimana Allah membalas orang yang menghendaki akhirat,

وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا

“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.”[10]

Allah berjanji akan mengabulkan apa yang menjadi keinginannya tersebut.Dan itu pasti tergapai, tanpa memandang siapa pun.

Jadi, kalimat pertama bermakna tidak ada orang yang melakukan perbuatan kecuali ada niat yang mendasari dan memotofasinya. Akan tetapi niat itu berbeda-beda, seperti halnya perbedaan yang jauh antara langit dan bumi; antara barat dan timur.

            Ada orang yang memiliki niat yang bernilai sangat tinggi dan berharga, dan di lain pihak ada orang yang berniat sangat buruk dan rendahan, di bawah standar orang mukmin. Contoh riilnya, ada dua orang yang berdiri mengerjakan shalat. Keduanya memiliki gerak yang sama, bacaan yang sama, di tempat yang sama, dan dalam waktu yang sama pula. Akan tetapi siapa yang tahu jika masing-masing keduanya memiliki perbedaan pahala yang amat jauh, sebagaimana jauhnya antara Timur dan Barat.

            Dua Muslim yang sama-sama mengerjakan shalat dua rakaat di satu masjid dan satu waktu yang bersamaan. Oleh karena yang pertama mengerjakan shalat dengan niat shalat Sunnah tahiyatul masjid atau semacamnya, sementara yang lain mengerjakan shalat zhuhur, karena ia seorang musafir yang sudah diperbolehkan melakukan qashar. Meski gerakan mereka sama, namun nilai pahala yang mereka peroleh berbeda.

            Dua orang yang sama-sama mandi. Satu di antaranya bermaksud mengerjakan mandi wajib, sementara yang lain bermaksud mandi seperti umumnya orang jika hendak berangkat ke kantor atau kondangan. Orang pertama akan memperoleh pahala, sementara yang kedua tidak memperoleh apa-apa.

            Ada dua orang yang sama-sama bekerja banting tulang mencari nafkah untuk istri dan anaknya. Satu di antaranya mendasari pekerjaannya tersebut karena mengharap pahala dari Allah, sebab mencari nafkah bagi serong suami merupakan kewajiban yang Allah tetapkan untuk para suami. Allah berfirman, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”[11]. Sebaliknya, orang satunya mendasari pekerjaannya mencari nafkah hanya karena menunaikan pekerjaan umumnya laki-laki sebagai kelapa keluarga. Tentu saja orang pertama akan memperoleh pahala, sementara orang kedua tidak demikian.[12]

            Demikian pula dengan seorang ibu rumah tangga, seperti mengurusi si bayi dan semacamnya. Jika pekerjaan yang ia lakukan itu didasari atas perintah Allah, maka ganjaran dari Allah akan segera menghampirinya. Namun apabila pekerjaan rumah tangga yang ia lakukan didasari ‘umumnya’ ibu rumah tangga, maka tentu pahala tidak secara otomatis menyapanya.

            Dari sini mulai nampak, bahwa memang niatlah yang menjadi poros dan pokok, besar kecilnya pahala yang akan diperoleh seseorang ketika melakukan suatu pekerjaan.

            Kesimpulannya, niat menurut timbangan syariat memiliki dua pembahasan:

Pertama, ikhlas karena Allah semata. Inilah makna yang paling agung. Pembahasan inilah yang kerap diperbincangkan ulama tauhid dan ‘aqidah.

Kedua, pembeda ibadah, apakah itu ibadah sunnah ataukah ibadah wajib. Pembahasan ini yang biasa dibahas oleh ulama-ulama pakar fiqih.[13]

Kemudian, ketahuilah bahwa para ulama telah bersepakat dan berkonsesus bahwa niat itu tempatnya di hati, hatilah yang bertugas mengeluarkan ‘surat jalan’. Sedangkan lisan tidak ada sangkut pautnya dengan niat. Abu ‘Abdil Mu’thi Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-Bantani mengatakan[14], “Tempatnya niat adalah di hati.” Muhammad bin Ahmad Al-Khathib Asy-Syarbini juga mengatakan[15], “Menutut konsesus ulama, niat itu dengan hati. Sebab itu merupakan maksud. Karenanya, sekedar berucap tidaklah mencukupi dengan hati yang linglung. Demikian menurut ijma’. Dalam selurub bab pun demikian.” Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan, “Niat adalah maksud hati. Sama sekali tidak diwajibkan melafalkan niat yang ada dalam hati ketika beribadah.”[16] Oleh sebab itu, niat tidak perlu diucapkan di lisan, apalagi sampai diperdengarkan orang lain. Bahkan jika ada orang yang melafalkan niatnya, dengan motifasi pahala, tentu perkaranya lebih bahaya lagi. Bukan hanya perbuatannya tadi tidak memperoleh pahala, bahkan diganjar dosa dan bernilai bid’ah. Sebab, ia telah memasukkan perkara baru yang sama sekali tidak pernah diajarkan Rasululullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Penulis Faidh Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari[17], Muhammad Anwar Syah Al-Kasymiri –rahmatullah ‘alaih– mengatakan, “Malahan Ibnu Taimiyyah dan ulama lain menegaskan, bahwa melafalkan niat itu tidak pernah diriwayatkan dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sepanjang hidupnya, tidak pula diriwayatkan dari satu kalangan para shahabat dan tabi’in, dan tidak juga dari imam madzhab yang lima –semoga Allah Ta’ala merahmati mereka semua-.”

Faidah: Syaikh Dr. ‘Abdul Karim Amrullah Ad-Danawi yang biasa disapa “Haji Rasul” –rahmatullah ‘alaih– pernah menulis satu risalah khusus tentang masalah hokum melafalkan niat menurut ulama empat madzhab. Risalah tersebut kemudian diberinya tajuk Al-Fawaid Al-Jaliyyah fi Ikhtilaf ‘Ulama fi At-Talaffuzh Bi An-Niyyah. Kitab tersebut ditulis setelah penulisnya menelaah kitab Zad Al-Ma’ad fi Hady Khair Al-‘Ibad karya Imam Ibnu Qayyimil Jauziyyah yang ketika membahas masalah niat yang dilafalkan, beliau memandangnya sebagai perkara bid’ah yang sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Kemunculan kitab tersebut membuat gempar hampir seluruh masyarakat Muslim Miangkabau. Pasalnya, amalan melafalkan niat ketika hendak melakukan ibadah merupakan perkara yang mereka anggap wajib.

Faidah lainnya: ‘Umar bin Al-Khaththab berkata, “Amal yang paling afdhal adalah menunaikan apa yang diwajibkan oleh Allah, menjauhi larangan Allah, dan membetulkan niat ketika melakukan peribadatan kepada Allah.”

            Sebagian ulama Salaf berkata, “Boleh jadi amalan kecil berpahala besar karena niatnya, dan ada pula amalan besar yang berpahala kecil karena sebab niatnya.”

            Yahya bin Abu Katsir berkata, “Pelajarilah niat. Sebab niat lebih mengena daripada amal.”

            Dari Abu Al-‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma-, dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, seperti yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya, “Sesungguhnya Allah telah mencatat seluruh kebaikan dan keburukan. Kemudian Dia menjelaskan, siapa yang berkehendak mengerjakan kebajikan namun belum sempat melaksanakannya, maka Allah tuliskan untuknya satu kebajikan sempurna. Apabila ia berkeinginan melakukan kebaikan dan sudah sampai dilaksanakannya, Allah akan menuliskan untuknya 10 kebaikan hingga 700 lipat hingga kelipatan banyak. Dan siapa yang berkeinginan melakukan suatu keburukan dan belum sempat terlaksana, Allah akan menuliskan untuknya satu pahala penuh. Namun orang yang berkehendak melakukan keburukan hingga sempat terlaksana, Allah akan menuliskan untuknya satu keburukan.” (HR Al-Bukhari-Muslim)

            Abu ‘Isa At-Tirmidzi meriwayatkan, bahwasannya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Dunia itu milik empat jenis manusia. (1) Seseorang yang diberi rizki oleh Allah berupa harta dan ilmu. Dalam membelanjakan hartanya, ia bersikap taqwa kepada Allah. Ia menyambung tali silaturahim dengan hartanya dan mengetahui hak-hak Allah. Inilah kedudukan terbaik menurut Allah. (2) Seseorang yang diberi ilmu oleh Allah namun tidak diberi harta. Ia berkata, ‘Seandainya aku punya harta, tentu akan melakukan seperti yang dilakukan si A. Pahala dua orang tadi sama.

            (3) Seseorang yang diberi Allah harta namun tidak diberi ilmu. Ia membelanjakan harta dengan penuh kebodohan, tidak bertaqwa kepada Allah, tidak menyambung tali silaturahim dengan hartanya, serta tidak mengetahui hak Allah. Kedudukan orang seperti ini paling buruk di sisi Allah. (4) Dan seseorang yang oleh Allah tidak diberi harta dan tidak pula ilmu. Ia berujar, ‘Sekiranya aku punya harta, tentu aku akan berbuat seperti apa yang dilakukan si anu,’ dengan niatnya. Keduanya akan memperoleh dosa yang sama.”

            Karena adanya hadits-hadits semacam inilah para ulama kemudian membuat kesimpulan kenapa ada orang Mukmin yang hidupnya di dunia hanya sementara namun kelak di akhirat mendapat surga kekal selama-lamanya, dan orang kafir yang kekafirannya di dunia hanya beberapa saat kelak di akhirat dimaukkan di neraka selama-lamanya. Di antara alasannya adalah niat. Niatlah yang menyebabkannya. Seorang yang Mukmin telah memasang niat dalam hatinya seandainya ia terus hidup selama-lamanya akan tetap beriman. Begitu pula dengan orang kafir. Dia telah memang tekat bulan untuk terus kafir selama hidupnya. Sehingga karena niatnya itulah mereka mendapatkan balasan kekal. Yang pertama di surga sementara yang satunya di neraka. Semoga Allah mewafatkan kita dalam keadaan beriman.

            Penjelasannya bisa disimak, misalnya, dalam Al-Asybah wa An-Nazhair karya Jalaluddin As-Suyuthi dan Ad-Durar Al-Bahiyyah fi Idhah Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah karya Muhammad Nuruddin Marbu.

Timbul pertanyaan, amal niat di sini maksudnya apa? Apalah khusus niat untuk amalan yang bernilai syariat atau masuk pula niat ketika hendak perbuatan umum lainnya?

 ‘Abdurrahman bin Nashir As-Si’di –rahimahullah– memaparkan[18],

“Niat juga berlaku pada urusan-urusan mubah dan perkara-perkara yang bersifat keduniaan. Orang melakukan pekerjaan yang bersifat keduniaan dan kebiasaan dengan maksud untuk dijadikan sebagai pelumas menunaikan haq Allah dan mengerjakan perkara wajib dan sunnah; makan, minum, tidur, santai, serta bekerjanya diiringi dengan niat yang baik ini, maka kebiasaan tersebut akan berubah menjadi memiliki nilai ibadah. Allah akan memberkahi gerak-gerik hamba tersebut dan Dia akan membukakan untuknya  pintu-pintu kebaikan dan rizki; perkara yang tidak pernah diusahakannya dan tak pernah terbetik dalam benaknya. Oleh karena itu orang yang meninggalkan niat yang baik ini disebabkan karena kebodohannya atau karena kecerobohannya, sebaiknya ia mencela dan menyalahkan dirinya sendiri. Dalam sebuah hadits shahih[19], dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ‘Sejatinya tidaklah kamu melakukan suatu pekerjaan yang dengannya kamu niatkan mengharap Wajah Allah, melainkan kamu akan diberi pahala, sampai pun apa yang kamu suapkan ke mulut isterimu.’

            “Siapa yang berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu sampai pada Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian Nabi Muhammad –shallalllahu ‘alaihi wa sallam– hendak menjelaskan lebih lanjut ucapan beliau sebelumnya dengan perkara yang kongrit terjadi, sehingga dengan contoh tersebut penjelasan akan semakin mudah difahami. Oleh karena itu, sering kita dengar pribahasa (‘Arab) yang mengatak, “Bil mitsal, yattadhihul maqal.” Maksudnya, dengan mengutarakan permisalan seacar riil, perkataan akan semakin jelas.

            Contoh kongrit yang Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– adalah perkara ibadah hijrah. Hijrah ialah berpindah dari negeri kafir, menuju negeri Islam agar memungkinkan menjalankan ajaran-ajaran Islam lebih sempurna. Demikian makna secara khususnya. Adapun hijrah secara umum, yaitu berhijrah atau berpindah dari perbuatan yang tidak bernilai ibadah atau bahkan cenderung dosa menuju perbuatan yang bernilai ibadah di sisi Allah.

            Dalam menjalankan hijrah tersebut, orang-orang pun memiliki niat yang berbeda-beda.

            Pertama, ada orang yang berhijrah dan meninggalkan negerinya menuju Allah dan Rasul-Nya. Maksudnya menuju syariat Allah yang Dia syariatkan melalui lisan Rasul-Nya. Orang semacam inilah yang akan memperoleh kebaikan dan apa yang menjadi maksudnya. Sebab, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengatakan, “…maka hijrahnya itu sampai pada Allah dan Rasul-Nya.” Artinya ia memperolah apa yang menjadi niatnya.

            Kedua, ada orang yang berhijrah dengan harapan dunia yang ingin diraihnya. Contohnya ada orang yang suka mengumpulkan harta benda, lantas ia mendengar bahwa di negeri Islam sana ada lowongan kerja yang berpenghasilan besar, maka ia pun bergegas menuju negeri Islam tersebut dengan meninggalkan negeri kafirnya karena motifasi dunia, tanpa berniat agar agamanya lebih lurus dan istiqamah. Hartalah yang semata-mata menjadi keinginannya.

            Ketiga, ada di antara orang yang melakukan hijrah tersebut karena wanita yang menjadi kekasih hatinya berada di negeri Islam.

            Kedua jenis manusia terakhir di atas tidak dikatakan hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya.

Fiqih Hadits:

  • Hadits ini merupakan salah satu dari pokok-pokok ajaran islam. Sebagiamana di atas, bahwa poros ajaran Islam terdapat dalam dua hadits. Hadits pertama adalah hadits yang tengah kita bahas, sementara satu hadits lainnya ialah hadits ibunda ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha– , “Siapa yang mengerjakan suatu amalan yang bukan termasuk perkara kami, maka amalan tersebut tertolak.” Hadits pertama merupakan timbangan seluruh amalan batin, sementara hadits kedua merupakan timbangan seluruh pekerjaan lahiriah.
  • Tidak ada amal perbuatan yang dikerjakan kecuali ada niat yang memotifasi dan mendasarinya.
  • Bahwasannya besar kecilnya pahala perbuatan itu tergantung pada niatnya.
  • Kewajiban melakukan ibadah dengan didasari ikhlas. Sebab ikhlas merupakan satu dari dua syarat diterimanya suatu ibadah yang dikerjakan seorang hamba. Sedangkan syarat kedua agar suatu ibadah diterima Allah ialah mengikuti tatacara yang Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Dalam melakukan suatu ketaatan, seseorang terbagi menjadi beberapa macam. Pertama, orang yang melakukan suatu ketaatan karena murni riya’, pekerjaannya ia lakukan semata-mata agar orang-orang mengagumi dan memujinya, apa yang ia inginkan murni dunia. Orang semacam ini hampir tidak dijumpai di tengah-tengah orang mukmin dan tidak ragu lagi bahwa orangnya berhak memperoleh murka dan siksa dari Allah ‘Azza wa Jalla. Kedua, terkadang amal yang dilakukan seseorang ikhlas karena Allah, namun kadang kala dibarengi rasa riya’. Status orang semacam ini masih bisa dirinci. Jika asal dan pokok perbuatannya tersebut berdasarkan riya’, tentu amalnya dipandang tidak sah. Akan tetapi jika pokok perbuatannya berdasarkan ikhlas karena Allah, namun di tengah jalan datang rasa benalu riya’ kemudian orangnya berusaha untuk membuang jauh-jauh benalu tersebut, maka hal tersebut sama saki tidak mempengaruhi keikhlasannya.[20]

  • Seorang hamba yang melakukan suatu ibadah yang ia maksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, jika ia lakukan karena motifasi kebiasaan, maka akibatnya tidak ada jatah pahala untuknya, meskipun secara lahiriah teranggap sah. Dan inilah yang membedakan antara orang yang ngaji belajar dengan orang yang mencukupkan diri dengan apa yang didengarnya dari tetangganya.
  • Keharusan membedakan ibadah antara satu dengan yang lain serta antara ibadah dan muamalat.
  • Seorang guru hendaknya menggunakan misal ketika menjelaskan pelajarannya agar lebih mudah difahami dan dimengerti.
  • Hijrah termasuk perkara ibadah yang akan diberi ganjaran besar.
  • Keutamaan hijrah mengikuti perintah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Dalam hadits Shahih Muslim disebutkan, “Tahukah kamu bahwa Islam itu mampu menghapuskan (dosa) sebelumnya, bahwasannya hijrah mampu menghapus (dosa) sebelumnya, dan bahwasannya ibadah haji dapat menghapus (dosa) sebelumnya.”
  • Seseorang itu diberi pahala atau dosa sesuai dengan niatnya.
  • Orang yang melakukan ibadah berdasarkan niat ikhlas pasti tidak akan pernah kecewa.
  • Sementara orang yang beribadah karena motifasi selainnya, terkadang ia memperoleh sesuai harapan dan terkadang tidak.

Belitang Madang Raya,

Ahad, 8 Syawwal 1435 H

Firman Hidayat Marwadi

[1] Al-A’lam (XV/45-46).

[2] Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam (I/62), tahqiq ‘Abdul Qadir Al-Arnauth.

[3] Al-Adzkar (hlm. 33) dan Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim (XIII/53).

[4] Ibid.

[5] Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam (I/62)

[6] Ibid.

[7] Faidh Al-Bari (I/80), karya Muhammad Syah Al-Kasymiri.

[8] Ulama kenamaan Aceh yang pertama kali menulis tafsir Al-Quran di kepulauan Nusantara.

[9] QS Al-Isra’: 18.

[10] QS Al-Isra’: 19.

[11] QS An-Nisa’: 34.

[12] Demikian yang penulis dengar dari guru penulis, Al-Ustadz Aris Munandar –jazahullah ‘anil Islam khaira-.

[13] Taisir Al-‘Allam (hlm. 15-16).

[14] Nihayah Az-Zain (hlm. 24).

[15] Al-Iqna’ fi Hall Alfazh Abi Syuja’ (I/293).

[16] Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam (I/92).

[17] Faidh Al-Bari (I/84) cet. Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah.

[18] Bahjah Qulub Al-Abrar (hlm. 9).

[19] Riwayat Al-Bukhari.

[20] Taisir Al-‘Allam (hlm. 16).

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: