//
you're reading...
Akhlaq dan Adab, Hadits Nabawi & Ilmunya

Serial Syarah Arba’in: Dasar-dasar Agama Islam dalam Hadits Jibril (2)

اربعينHadits tersebut di atas juga merupakan dalil bahwasannya malaikat pun terkadang mendatangi manusia dalam rupa manusia. Hal seperti ini dapat dijumpai pula dalam Al-Quran tatkala Jibril mendatangi Maryam dalam sosok manusia, datangnya malaikat dalam sosok manusia kepada Ibrahim dan Luth. Ini semua tidak lain kecuali karena kuasa Allah semata. Dia berfirman,

الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَّثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۚ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS Fathir: 1)

            Menutut hadits yang terekam dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah melihat Jibril yang bersayap 600.

            Ia menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan meletakkan kedua tangannya pada kedua lututnya.An-Nawawi menjelaskan[1], “Orang yang datang tadi meletakkan kedua tangannya pada kedua lututnya sendiri dan duduk seperti bentuk duduknya orang yang belajar. Allahua’lam.”

            Duduk semacam ini menggambarkan akan penghormatan dan pemuliaan.

            Demikianlah posisi duduk orang yang belajar saat berada dalam majelis ilmu. Bukan seperti kebiasaan sementara orang-orang yang jika duduk di majelis ilmu justru melepaskan kakinya ke depan menghadap sang guru. Lebih parahnya ada yang sambil memegang hp sambil SMS-an, BBM-an, bahkan sebagiannya sambil ngobrol tanpa ada sedikit rasa malu.

Apabila kita melihat bagaimana para ulama dahulu duduk di majelis ilmu, tentu hanya keajaiban yang menakjubkan yang akan kita jumpai dan kita akan menganggap hina diri kita di hadapan buku sejarah yang merekam adab mereka.

            An-Nawawi menuturkan, “Sebagian orang-orang terdahulu melakukan sedekah sebelum berangkat menemui gurunya seraya berdoa, ‘Ya Allah, tolong tutupi aib guruku dari hadapanku dan jangan Engkau hilangkan keberkahan ilmunya untukku.”

            Dahulu Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i –rahimahulah– menuturkan bagaimana dahulu beliau berada di majelis Imam Malik bin Anas. Beliau mengatakan bahwa apabila beliau berada di majelis gurunya yang bergelar Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas, beliau selalu membuka lembaran-lembaran bukunya dengan sangat pelan-pelan khawatir gurunya terganggu.[2]

            Ar-Rabi’ mengatakan, “Demi Allah, aku tidak pernah berani meminum air sementara Asy-Syafi’i melihatku, sebagai bentuk penghormatanku padanya.”

            Suatu saat ketika Syarik tengah mengisi pengajian, beberapa putera-putera Khalifah Al-Mahdi datang turut mendengarkan pengajiannya. Namun karena cara duduknya sambil bersandar tembok, ketika mereka mengajukan beberapa pertanyaan dan hadits, Syarik pun sama sekali tidak pernah menggubrisnya. Ada yang bertanya kepadanya, “Apakah Anda memandang remeh putera-putera khalifah?” “Tidak,” Jawab Syarik, “Akan tetapi ilmu itu lebih mulia di sisi Allah daripada aku meletakkannya di kedua lututnya.” Syarik melanjutkan, “Demikianlah menuntut ilmu.”[3]

            Lebih menakjubkan lagi apa yang dikisahkan tentang keadaan majelis ilmu Ar-Razi –rahmatullah ‘alaih-. Diriwayatkan bahwa hadhirin yang menghadiri majelisnya tidak berani menghembuskan nafas mereka tatkala ia tengah berbicara menyampaikan pelajaran. Baru ketika beliau berhenti berbicara, hadhirin pun segera bernafas.[4]

            Ketahuilah, bahwa dengan adab, ilmu akan lebih mudah dimengerti dan difahami. Sebaliknya, tanpa adab, orang akan merasa lebih sulit mencerna ilmu yang ia dengar dari sang guru. Makanya jangan heran jika dijumpai ada orang yang bertahun-tahun mengaji namun perilaku dan gerak-geriknya tidak mencerminkan penuntut ilmu. Ini menjadi semacam indikasi bahwa apa yang selama ini ia hadiri belum dapat merasuki jiwanya. Hal ini tidak lain karena kesalahannya sendiri yang enggan memperbaiki diri sendiri.

            Yusuf bin Al-Husain menuturkan, “Dengan adab, ilmu akan dapat difahami.”[5]

            Malik bin Anas mengatakan, “Adab ilmu itu lebih banyak ketimbang ilmu itu sendiri.”[6]

            Ketika Al-Laits bin Sa’d mengawasi ahli hadits dan ternyata beliau jumpai ada sesuatu yang kurang sreg, beliau lantas berkomentar, “Kalian lebih membutuhkan sedikit ilmu daripada banyak ilmu.”[7]

            Zakariya al-‘Anbari turut berkata, “Ilmu tanpa adab laksana api tanpa kayu bakar. Sedangkan adab tanpa ilmu bak roh tanpa jasad.”[8]

            As-Sam’ani melaporkan, bahwa pengajian Imam Ahmad bin Hanbal dihadiri oleh sekurang-kurangnya 5000 orang. 500 di antaranya menulis, sisanya mencukupkan diri mengamati adab, prilaku, dan akhlak sang guru.”[9]

            Abu Bakar Al-Muthawwi’i berkata, “Aku menghadiri majelis Imam Abu ‘Abdillah [Ahmad bin Hanbal] selama 12 tahun lamanya. Kala itu beliau tengah membacakan kitab Al-Musnad pada putera-puteranya. Selama itu aku tidak pernah mencatat sama sekali, namun aku hanya mengamati adab dan akhlaknya.”[10]

            Masih banyak lagi riwayat-riwayat yang diutarakan oleh orang-orang pendahulu kita yang intinya sama, yaitu adab itu tidak akan pernah lepas dari ilmu. Bahkan adab –di beberapa kesempatan- lebih urgen daripada ilmu.

            Riwatar-riwayat terakhir bukan berarti mendukung orang-orang yang berangkat mengaji belajar tanpa membawa alat tulis. Namun dimaksudkan agar para hadhirin tidak asal duduk di majelis ilmu tanpa tatakrama dan adab bermajelis. Walaupun sebenarnya jika ia hanya duduk tanpa menulis dengan tetap mempelajari etika dari sang guru, itupun sudah cukup. Dengan syarat, benar-benar memperhatikan.

            Kembali kita lanjutkan pembahasan.

Bersambung…

[1] Syarh Shahih Muslim (I/157).

[2] Fiqih Adab Menuntut Ilmu (hlm. 16), oleh penulis (manuskrib). Lihat pula Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (I/32).

[3] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (I/32).

[4] Demikian yang penulis dengar dari guru penulis, Al-Ustadz Abu ‘Ubaidillah Amri Suaji, Lc –jazahullah ‘anni khaira– sekitar 8 tahun silam.

[5] Fiqih Adab Menuntut Ilmu (hlm. 18).

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] Ibid.

[9] Ibid.

[10] Ibid.

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: