//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj, Hadits Nabawi & Ilmunya

Serial Syarah Arba’in: Dasar-dasar Agama Islam dalam Hadits Jibril (4)

محمدMakna Syahadat Muhammad Rasulullah

Adapun makna (محمد رسول الله) “Muhammad adalah utusan Allah” ialah melaksanakan apa yang menjadi perintahnya, menjauhi apa yang menjadi larangannya, membenarkan apa yang beliau kabarkan, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan cara yang beliau syariatkan.[1]

            KHR Hadjid –rahimahullah– mentafsirkan[2], “Adapun arti ‘Asyhadu anna muhammadan rasu-lullah’ ialah ‘Aku menyaksikan dengan percaya bahwa sungguh Nabi Muhammad itu pesuruh (baca: utusan) Allah yang wajib kita taati dan kita contoh dengan sebenar-benarnya dalam menjalankan perintah dan kepatuhan kepada Allah’.”

            Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dalam jawaban di atas mentafsirkan Islam pertama kali dengan dua kalimat syahadat. Dua kalimat syahadat tersebut harus diyakini, diucapkan, dan dibuktikan dengan anggota badan oleh siapa pun, baik manusia maupun jin, hingga datang hari akhir. Siapa yang enggan berpegang teguh dengannya, neraka siap menampungnya.

            Imam Muslim meriwayatkan, bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

و الذي نفس محمد بيده ، لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي و لا نصراني ثم يموت و لم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أصحاب النار

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang pun umatku, Yahudi maupun Nasrani, yang mendengarku kemudian ia mati sebelum ia beriman dengan apa yang aku bawa, kecuali ia termasuk penduduk neraka.”

            Jika seseorang sudah bersaksi mengamalkan dua kalimat syahadat ini, maka konsekuensinya ialah ia harus berbuat ikhlas karena Allah dan mengikuti Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Maka setiap sesuatu yang berpotensi mendekatkan diri kepada Allah tidak akan pernah diterima di sisi-Nya kecuali jika memenuhi dua konsekuensi tadi. Apabila salah satunya saja tidak benar, maka perbuatan itu pun secara otomatis tidak akan membuahkan pahala, malahan dapat berubah menjadi dosa dan maksiat!? Dan dalam masalah ‘aqidah semacam ini, tidak ada istilah tawar menawar. Seluruhnya harus dilakukan sesuai ‘aturan mainnya’.

            Apakah dua kalimat syahadat ini dapat membuat orang yang mengucapkannya menjadi Muslim?

            Jawabnya, ya. Meskipun kita menganggapnya mengucapkan agar dapat perlindungan. Dalilnya ialah apa yang terjadi pada Usamah bin Zaid –radhiyallahu ‘anhuma-. Ketika ada orang musyrik lari darinya, ia kemudian mengejarnya hingga dapat. Beliau pun segera menghunuskan pedangnya, namun orang musyrik tadi mengucapkan syahadat dengan harapan agar Usamah mengurngkan niatnya membunuh. Akan tetapi Usamah tetap membunuhnya. Berita itu lantas terdengar sampai Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau bersabda kepada Usamah, “Apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan (لا إله إلا الله)?! “Rasulullah,” Jawab Usamah, “Orang itu mengatakan seperti itu hanya untuk melindungi diri.” Rasulullah –shallallahu ‘alai wa sallam- masih terus mengatakan, “Apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan (لا إله إلا الله)?![3]

Bersambung…

[1] Al-Ushul Ats-Tsalatsah (hlm. 139) beserta komentar Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, cet. Dar Al-Imam Ahmad 1427 H.

[2] Pelajaran KHA Dahlan (hlm. 140).

[3] HR Al-Bukhari.

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: