//
you're reading...
Fiqih dan Hukum, Hadits Nabawi & Ilmunya

Serial Syarah Arba’in: Dasar-dasar Agama Islam dalam Hadits Jibril (5)

Rukun IslamShalat, Puasa, Zakat, dan Haji

Anda mengerjakan shalat…” Banyak orang yang terkecoh dan kurang jeli memberi tafsiran shalat.  Mereka biasanya hanya mendefinisakan bahwa shalat itu gerakan dan ucapan yang dilakukan begini dan begitu, tanpa ada imbuhan lain yang sebenarnya lebih penting. Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Asy-Syarh Al-Mumti’[1] benar-benar telah mewaniti-waniti hal ini. Beliau menjelaskan,

            “Shalat menurut arti syariat ialah beribadah kepada Allah Ta’ala dengan ucapan dan perbuatan tertentu yang dibuka dengan takbir dan diakhiri dengan salam.

            Jika Anda mau, boleh diartikan, “Suatu ibadah yang memiliki ucapan dan perbuatan, dibuka dengan takbir dan disudahi dengan salam.”

            Selanjutnya beliau berkata,

“Sedangkan pendapat sebagian ulama bahwa shalat adalah ucapan dan perbuatan tertentu yang dibuka dengan takbir dan disudahi dengan salam, maka definisi semacam itu masih terbilang ada unsur kecerobohan. Kita harus katakan, ‘Suatu ibadah yang ada ucapannya…,’ atau ‘Beribadah kepada Allah ta’ala dengan ucapan dan perbuatan tertentu,’ sehingga jelas bahwa shalat itu memang bagian daripada ibadah.”

            “…menunaikan zakat…” Zakat ialah salah satu jenis ibadah dengan mengeluarkan sebagian harta yang sudah dianggap wajib dikeluarkan menurut syariat, pada harta tertentu, dan untuk diserahkan pada golongan tertentu.

            berpuasa pada bulan Ramadhan…” Maksudnya engkau beribadah kepada Allah dengan cara menjaga diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa, dimulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

            “…serta naik haji apabila engkau sanggup mengerjakannya.Engkau pergi ke Makkah menunaikan manasik yang telah ditentukan dan pada waktu yang telah ditentukan pula sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Hal tersebut wajib dilakukan apabila sudah sanggup melakukannya secara syariat.

            Allah berfirman,

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (QS Alu ‘Imran)

“Dia menimpali, ‘Engkau benar.’ Kami pun terheran-heran. Dia yang bertanya namun juga mampu menilainya benar.’” Keheranan para shahabat didasarkan pada sesuatu yang tidak biasa terjadi. Umumnya orang yang bertanya itu dalam rangka mencari tahu terhadap apa yang dipertanyakannya. Orang semacam ini jika tidak sudah memperoleh jawaban tidak akan menjawab, ‘Engkau benar,’ sebab jika orang yang mengajukan pertanyaan menilai benar orang yang disodori pertanyaan, menunjukkan bahwa orang yang bertanya tersebut sudah tahu tentang apa yang ia pertanyakan. Itulah kenapa para shahabat merasa heran dan takjub melihat sikap penanya asing itu.

[1] Asy-Syarh Al-Mumti’ (II/5).

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: