//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj, Hadits Nabawi & Ilmunya

Serial Syarah Arba’in: Dasar-dasar Agama Islam dalam Hadits Jibril (6)

imanMemahami Rukun Iman dalam Islam

“Dia kembali bertanya, ‘Beritahu aku apa itu iman?’ Beliau menjawab, ‘Engkau beriman pada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman pada qadar; yang baik maupun yang buruk.’Jawaban ini mengandung penjelasan terkain rukun-rukun Iman yang 6. Berikut rinciannya:

Rukun iman pertama, iman kepada Allah. Iman kepada Allah memiliki empat rukun, yaitu:

  1. Beriman dengan keberadaan Allah ‘Azza wa Jalla.
  2. Beriman dengan keesaan-Nya dalam hal tauhid rububiyyah. Artinya seluruh jagad raya ini tidak ada yang mengaturnya kecuali Allah semata, tidak ada lainnya.

    Orang sembuh karena Allah lah yang menyembuhkannya. Ada orang yang wafat, karena Allah lah yang mewafatkannya. Ada daun yang gugur, karena Allah lah yang menggugurkannya. Ada tsunami dan gempa bumi, karena Allah lah yang menghendakinya. Seluruh alam semesta ini hanya Allah sajalah yang menciptakannya dan Dialah satu-satunya yang mengatur semuanya, tanpa terkecuali.

  3. Beriman kepada Allah dalam hal tauhid uluhiyyah. Oleh karena Dialah satu-satunya Dzat yang Mahamenciptakan dan yang Mengatur alam jagad ini, maka Dia pulalah satu-satunya yang berhak diibadahi. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya kecuali Allah semata, Dzat yang Mahatunggal.
  4. Beriman dengan nama-nama-Nya yang indah dan shifat-shifat-Nya yang husna. Yaitu menetapkan apa saja yang Allah tetapkan untuk diri-Nya serta apa yang Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tetapkan untuk-Nya berupa nama dan shifat-Nya, dan menafikan segala sesuatu yang Dia nafikan untuk diri-Nya sendiri dan apa yang dinafikan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dari Allah ‘Azza wa Jalla, berupa nama dan shifat. Hal itu dilaksankan tanpa ada usaha membagaimanakan, menggambarkan, mengingkari, dan menyamakan nama-nama dan shifat-shifat-Nya. Demikian definisi tauhid asma’ wa shifat menurut tinjaun Ahlussunnah wal Jama’ah.

Definisi di atas didasarkan atas firman Allah ‘Azza wa Jalla,

 لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.[1]

            Beriman kepada Allah dan nama serta shifat-Nya akan membuahkan kecintaan kepada-Nya, lebih membuat seorang hamba semakin mengagungkan-Nya yang pada gilirannya perintah dan larangan-Nya akan semakin mudah dilakukan karena iman yang menadi motifasinya.

Rukun iman kedua, beriman kepada para malaikat Allah. Malaikat, adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.[2] Allah menciptakan mereka dari cahaya. Mereka selalu beribadah dan taat kepada-Nya dan sama sekali tidak pernah durhaka dan membantah-Nya. ‘Mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.[3]

            Jumlah malaikat itu sangat banyak. Tidak ada yang mengetahuinya secara pasti kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan, bahwasannya sebuah tempat di langit ketujuh bernama Baitul Ma’mur, setiap harinya dimasukki 700.ooo malaikat. Kemudian mereka tidak akan pernah kembali lagi.

            Dan masing-masing malaikat memiliki tugas berbeda-beda. Jibril diberi tugas menyampaikan wahyu pada rasul-rasul-Nya, Israfil diberi kepercayaan meniup sangkhakala yang juga salah satu penyuggi ‘Arsy, sedangkan Mikail diberi tugas membuat hujan dan pada mengurusi tumbuh-tumbuhan, Malakul Maut diberi tugas mencabut nyawa, dan seterusnya.

            Jika ada yang bertanya, apakah mereka punya akal? Kita jawab, apa kamu punya akal?! Tidak ada yang menanyakan hal ini kecuali orang gila!? Allah sendiri telah berfirman, “Mereka tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang Allah perintahkan pada mereka dan mereka selalu melaksanakan apa yang diperintahkan.”[4] Mungkinkah Allah memuji mereka seperti itu sedangkan mereka tak punya akal?!

“Mereka selalu bertasbih siang dan malam tak henti-henti.”[5] Apakah kita katakan mereka tidak berakal?! Mereka melaksanakan perintah Allah dan mengerjakan titah-titah-Nya, mereka menyampaikan wahyu, apakah mereka tidak punya akal?! Yang paling pantas dikatakan tidak punya akal adalah orang yang mengatakan, para mailaikat tidak berakal!![6]

Beriman kepada para malaikat akan membuahkan:

  • Ilmu tentang kebesaran, kekuatan, kekuasaan, dan keagungan Allah ‘Azza wa Jalla.
  • Rasa syukur kepada-Nya, bahwa Dia telah memberi tugas beberapa malaikat menjaganya, membelanya, merekam berbagai macam tindak-tanduknya, serta hal-hal lain yang maslahatnya kembali kepada hamba itu sendiri.
  • Rasa cinta pada malaikat atas apa yang menjadi tugas mereka, yang salah satunya istighfar mereka untuk kaum mukmin.

Rukun iman ketiga, beriman kepada kitab-kitab Allah. Maksudnya adalah kitab-kitab yang pernah Allah turunkan kepada para utusannya di dunia. Dan tidak ada seorang utusan pun kecuali Allah menurunkan kitab kepadanya. Allah berfirman,

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ

“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar.”[7]

            Beriman pada kitab-kitab Allah mengandung beberapa emat unsur:

Pertama, kita beriman bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab kepada para rasul-Nya dan bahwasannya kitab-kitab tersebut datang dari Allah ‘Azza wa Jalla. Akan tetapi kita tidak mempercayai bahwa kitab-kitab yang ada pada orang-orang saat ini itulah kitab-kitab yang Allah turunkan. Sebab, al-Quran telah mengatakan bahwa kitab-kitab itu sekarang sudah diselewengkan. Adapun kitab yang diterima para rasul dahulu, itulah yang benar dari Allah Ta’ala.

Kedua, kita beriman akan kebenaran kabar-kabar yang terkandung di dalam kitab-kitab tersebut selama belum diselewengkan, sebagaimana kita beriman dengan penuh keyakinan akan kebenaran dan keontentikan kabar-kabar yang dibawa oleh Al-Quran

Ketiga, kita mengimani hukum-hukum yang terkandung dalam kitab-kitab tersebut jika tidak menyelisihi syariat Islam, karena hukum-hukum yang tertera kitab-kitab terdahulu sudah dinasakh dan digugurkan seiring turunnya Al-Quran.

Keempat, kita beriman dengan nama-nama mana saja yang kita ketahui secara rinci, seperti Al-Quran, Taurat, Injil, Zabur, Shuhuf Ibrahim, dan Shuhuf Musa. Adapun nama-nama yang tidak kita ketahui, maka kita imani kitab-kitab tersebut secara gelobal.

Jika ada orang yang tidak beriman dengan adanya Taurat atau injil, maka orang tadi dihukumi kafir. Alasannya karena iman kepada Allah mencakup iman pada kitab-kitab yang Dia turunkan dan Al-Quran pun telah mengabarkan akan adanya kitab tersebut, sedangkan orang yang mendustakan satu huruf pun dalam Al-Quran, atau bahkan satu titik pun di dalamnya, selama bukan masalah qiraah, maka tentu orang yang ingkar tadi dinilai kafir. Bagaimana pula ada orang yang tidak beriman dengan apa yang Al-Quran kabarkan?

Beriman pada kitab-kitab Allah akan membuahkan:

  • Pengetahuan bahwa Allah benar-benar sayang dan memperhatikan urusan para hamba-Nya, karena Dia telah menurunkan satu kitab untuk setiap kaum sebagai pedoman hidup mereka
  • Nampaknya hikmah Allah Ta’ala, yang mana Allah telah mensyariatkan dalam kitab-kitab ini sesuatu yang sesuai dan cocok untuk masing-masing umat.

Rukun keempat, beriman kepada rasul-rasul Allah. Yaitu mengakui bahwa Allah ‘Azza wa Jalla memilih rasul dan nabi dari kalangan manusia yang bertujuan agar mereka memberi petunjuk manusia pada jalan yang haq dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya kebenaran. Allah Ta’ala berfirman, “Allah memilih dari kalangan malaikat rasul-rasul, dan dari kalangan manusia pula.”

Penulis Bahr Al-Madzi (XVIII/143), Muhammad Idris bin ‘Abdurrauf Al-Marbawi, memaparkan, “Dan ketahuilah olehmu, bahwasannya Allah Ta’ala utuskan mereka itu kepada makhluk supaya memberi petunjuk akan mereka itu kepada jalan yang haq dan menyempurnakan kehidupan mereka itu dan akhirat mereka itu. Dan bahwasannya rasul-rasul itu benar semua pada apa-apa yang dikhabarkannya daripada Allah dan yang disampaikannya daripada-Nya. Dan sungguhnya mereka itu telah menerangkan bagi sekalian orang mukallaf akan barang yang disuruh akan mereka itu menerangkannya dan wajib dihormatkan mereka itu.”

Adakah nabi dan rasul di kalangan jin? Tidak ada rasul dan nabi dari kalngan jin, yang ada hanyalah para pemberi peringatan atau bahasa bebasnya da’i. Allah berfirman,

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنصِتُوا ۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ * قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ * يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ * وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءُ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ *

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).’ Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.’”[8]

Di antara para rasul itu ada yang diceritakan dalam Al-Quran dan ada yang tidak. Allah berfirman, “Dan beberapa Rasul yang telah Kami kisahkan kepada engkau sebelum itu –di dalam surat-surat Makkiyyah- dan beberapa rasul yang tidak Kami kisahkan kepada engkau.” (QS An-Nisa’: 164)

Para rasul yang dikisahkan dalam Al-Quran ada 25, delapan belas di antaranya Allah sebutkan dalam surat Al-An’am,

وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَىٰ قَوْمِهِ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَاءُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ * وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۚ كُلًّا هَدَيْنَا ۚ وَنُوحًا هَدَيْنَا مِن قَبْلُ ۖ وَمِن ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَىٰ وَهَارُونَ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ * وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَىٰ وَعِيسَىٰ وَإِلْيَاسَ ۖ كُلٌّ مِّنَ الصَّالِحِينَ * وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا ۚ وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ

Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Ya’qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh. dan Ismail, Alyasa, Yunus dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya).” (QS Al-An’am: 83-86)

            Sedangkan tujuh lainnya adalah Adam, Idris, Hud, Shalih, Syu’aib Dzul Kifl, dan Muhammad bin ‘Abdullah Al-Qurasyi Al-Hasyimi –‘alaihish shalatu was salam-.

            Timbul pertanyaan, apa beda antara nabi dan rasul? Jawaban yang paling membuat hati lebih menerima adalah seperti yang diketengahkan oleh Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad al-Badr, ‘Para rasul ialah mereka yang diberi tugas menyampaikan syariat yang diturunkan pada mereka, berdasarkan firman Allah Ta’ala, ‘Sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan keterangan-keterangan dan kami turunkan pada mereka Al-Kitab dan mizan.’ Al-Kitab adalah satu jenis istilah yang dimaksudkan kitab-kitab. Sedangkan para nabi adalah mereka yang diberi wahyu agar menyampaikan syariat terdahulu, sebagaimana firman Allah, Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya.Dan para nabi dan rasul benar-benar telah menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan secara sempurna dan pas. Allah berfirman, ‘Bukankah kewajiban para rasul itu hanya menyampaikan saja?’ Dia juga berfirman,

وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ

Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar (telah datang)”. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.(QS Az-Zumar: 71)

            Az-Zuhri berkata, ‘Risalah itu berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla, kewajiban para rasul adalah menyampaikan, sedangkan kita wajib berserah diri (melaksanakannya).’”[9]

            Kemudian di antara para nabi dan rasul di ada lima di antaranya yang paling mulia. Mereka biasa diberi gelar Ulul ‘Azm. Mereka adalah Muhammad, Ibrahim, Musa, Nuh, dan ‘Isa.

            Pada umumnya, dakwah yang disampaikan para nabi dan rasul itu sama, utamanya masalah tauhid dan ‘aqidah. Oleh karena itu jika ada orang yang mengingkari salah satu nabi, berarti ia juga mendustakan seluruh nabi dan rasul. Selain itu, hal lain yang sangat terlarang dilakukan ialah membeda-bedakan antara satu nabi dengan nabi yang lain.

            Dalil yang menunjukkan bahwa dakwah para nabi dan rasul sama adalah firman-Nya,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS Al-Anbiya’: 65)

“Kaum Nuh telah mendustakan rasul-rasul.” Telah diketahui bahwa tidak ada rasul sebelum Nuh. Akan tetapi di ayat tersebut Allah mengabarkan bahwa kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ini artinya mereka memang hanya mendustakan Nuh, akan tetapi karena dakwah para nabi dan rasul sama, maka seolah-oleh yang mereka dustakan adalah seluruh nabi dan rasul. Andaikata ada nabi lain selain Nuh mendakwahi mereka, tentu mereka juga akan mendustakannya, sebab materi dakwah yang disampaikannya pun tidak ada bedanya.

            Hal yang sama ialah kesamaan syariat suatu umat. Tidak diperkenankan bagi siapa pun mengimani sebagian syariat, namun di waktu bersamaan membenci syariat lain. Seperti jika ada orang yang mengatakan bahwa dirinya beriman shalat merupakan rukun Islam yang wajib ditunaikan, namun di sisi lain ia tidak mengimani syariat cadar, poligami, zakat, atau lainnya. Jika sudah demikian, berarti orang tadi dianggap telah mendustakan seluruh syariat.

            Allah berfirman,

فَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadaklah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.(QS Al-Baqarah: 85)

Kemudian dengan mengimani para nabi dan rasul, akan menumbuhkan:

  • Ilmu akan rahmat Allah dan perhatian-Nya pada hamba-hamba-Nya, yang mana Allah telah mengutus para nabi dan rasul guna memberi mereka petunjuk dan arahan ke jalan yang benar
  • Rasa syukur kepada Allah atas nikmat agung ini
  • Rasa cinta dan hormat pada para nabi dan rasul serta pujian yang layak untuk mereka.

Rukun kelima, beriman pada hari akhir. Yang dimaksud dengan hari akhir adalah hari kiamat. Mengimani hari akhir dengan mengakui dan membenarkan apa-apa yang akan terjadi setelah kematian sebagaimana yang telah disampaikan Al-Quran dan Sunnah. Wal hasil, beriman dengan hari akhir mencakup beberapa perkara:

Pertama, beriman bahwa hari qiamat benar-benar akan terjadi dan Allah akan membangkitkan siapa saja yang berada di alam qubur, baik mereka yang jasadnya dikebumukan maupun yang tenggelem, dimakan ikan, terbakar, atau semacamnya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Kemudian kalian benar-benar akan dibangkitkan pada hari kiamat.” (QS Al-Mukminun: 16) Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Pada hari kiamat orang-orang akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang tak berkhitan.” (HR Muslim)

Kedua, beriman dengan apa yang Allah sebutkan dalam Al-Quran dan apa yang dikabarkan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tentang apa yang bakal terjadi pada hari itu, seperti dikumpulkannya seluruh manusia, dari awal hingga akhir, di padang mahsyar dalam keadaan telanjang tak berkhitan. “Seperti ketika Kami pertama kali menciptakan, demikian pula Kami mengulanginya.” (QS Al-Anbiya’: 104)

Ketiga, beriman dengan apa saja yang ada di hari kiamat, seperti haudh, syafaat, shirath, surga, neraka, a’raf, dan seterusnya sesuai Al-Quran dan Sunnah.

            Keempat, beriman dengan nikmat kubur dan azabnya.

            Pada kesempatan ini penulis sebutkan peringatan Ibnu ‘Utsaimin –rahimahullah– terkait ucapan yang sering kita dengar ketika ada orang yang meninggal dikatakan, “Telah berpulang selama-lamanya” atau “Telah berpindah ke tempat peristirahatannya terakhir.” Sekilas nampaknya ucapan tersebut biasa, namun sejatinya akibatnya sangat fatal! Perkataan tersebut seakan-akan mengingkari adanya kebangkitan di hari kiamat. Sebab, jika dikatakan bahwa kubur adalah tempat peristirahatan terakhir, berarti setelahnya tidak ada peristiwa apa-apa; tidak ada kebangkitan, tidak ada surga, tidak ada neraka, dan seterusnya. Jadi, permasalahannya sangat bahaya sekali, namun sayang seribu sayang, banyak orang yang tidak menyadarinya dan bahkan menganggapnya remeh. “Mereka menyangka ringan, padahal menurut Allah besar!”

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Wasithiyyah-nya menuturkan, “Termasuk mengimani hari akhir adalah beriman dengan apa saja yang diberitakan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– peristiwa-peristiwa yang akan terjadi setelah kematian. Maka mereka beriman dengan adanya fitnah kubur, azab kubur, dan nikmat kubur. Adapun fitnah, manusia akan diuji di kubur mereka. Dikatakan pada seseorang, ‘Siapa Rab-mu? Apa agamamu? Siapa nabimu? Maka ‘Allah akan mengokohkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang kokoh di kehidupan dunia dan akhirat.’ Orang mukmin akan menjawab, ‘Rab-ku adalah Allah, Islam agamaku, dan Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– nabiku.’ Sementara orang yang bimbang bakal menjawab, ‘Ha ha, aku tak tahu. Aku dengar orang-orang mengatakan sesuatu, aku pun ikut mengatakannya.’ Lantas orang tersebut dipukul dengan palu yang terbuat dari besi sehingga ia berteriak yang dapat didengarkan segala sesuatu kecuali manusia. Kemudian setelah ujian ini, kalau tidak kenikmatan maka siksa.”

Penulis Sullam Al-Muhtadi Ila Thariqah Al-Muhtadi (hlm. 3-4), Dawud bin ‘Abdullah Al-Fathani, mengatakan, “Dan wajib kita percaya akan hari kiamat lagi akan datang tiada mengetahui dia seseorang akan waktunya… Dan wajib kita percayakan azab kubur dan nikmatnya dan soal dua malaikat yang dinamakan fitnah kubur, yaitu munkar dan nakir, dan bangkit pada hari kiamat daripada kubur, dan hasyr, dan nasyr, dan hisab, dan dibalaskan segala amal yang baik dengan surga, dan yang jahat dengan neraka. Dan wajib kita percaya haudh (Indonesia: telaga) Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dan mizan, dan shirathul mustaqim, dan surga negeri nikmat yang kekal selama-lama dan neraka nekeri azab selama-lamanya, dan melihat orang Mukminin akan Tuhan-nya. Maka adalah sekaliannya yang demikian telah datang khabarnya daripada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ialah khatamul anbiya’ dan penghulunya yang mempunyai syafaat kubra, padahal segala rasul berkata mereka itu, ‘Nafsi, nafsi.’ Hai Tuhan-ku, jadikan kami daripada ahli syafaatnya dan dibawah liwa’nya, dan beri bagi kami minum daripada bejana kolamnya –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.”

Rukun iman keenam, beriman pada qadar, yang baik maupun yang buruk. “…dan engkau beriman pada qadar, yang baik maupun yang buruk.” Potongan inilah yang dijadikan dalil ‘Abdullah bin ‘Abbas tatkala meriwayatkan hadits Jibril pada dua orang Bashrah yang datang meminta perimbangan kepadanya.

Beriman pada qadar meliputi empat hal:

Pertama, beriman bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mengetahui segala sesuatu, secara global maupun detail; baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Allah mengetahui segala sesuatu.” (QS Al-Baqarah: 282) Allah juga berfirman menceritakan ucapan Nabi Musa, “Rabku tidak salah dan tidak lupa.” (QS Thaha 52). Juga firman-Nya,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS Ath-Thalaq: 12)

            Dalam Surat Al-An’am ayat ke-59, Allah Ta’ala juga menuturkan,

 وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”

Kedua, beriman bahwasannya Allah mencatat segala peristiwa yang terjadi hingga hari di Lauh Mahfuzh. Allah berfirman, “Dan segala sesuatu telah kami tulis di kitab yang jelas.” (QS Yasin: 12) Firman-Nya pula,

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

“Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS Al-Anbiya’: 105)

            Imam Muslim merekam sebuah hadits, dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al-‘Ash, bahwasannya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

إن الله كتب مقادير الخلائق قبل أن يخلق الله السموات و الأرض بخمسين ألف سنة ، قال و عرشه على الماء

“Sesungguhnya allah telah menulis taqdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit-langit dan bumi.” Beliau bersabda, “Dan ‘Arsy-Nya berada di atas air.”

            Dan segala sesuatu yang tertulis dalam Luh Mahfuzh pasti akan terjadi. Tidak ada yang meleset dan tidak aka ada perubahan dan pernggantian. “Tidaklah sekali-kali sesuatu bencana yang terjadi di muka bumi dan tidak ada pada dirimu melainkan yang demikian itu adalah termateri dalam kitab sebelum Kami ciptakannya.” (QS Al-Hadid: 22) Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah bersabda kepada Ibnu ‘Abbas, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dan Abu ‘Isa At-Tirmidzi, “Ketahuilah sekiranya seluruh umat dari awal hingga akhir bersatu padu untuk memberimu manfaat, itu tidak akan pernah terjadi kecuali sesuatu yang telah Allah taqdirkan untukmu, dan sekiranya seluruh umat dari awal hingga akhir bersatu untuk mencelakaimu, hal itu juga tak akan pernah terjadi kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena sudah diangkat dan lembaran-lembaran pun sudah mengering.”

            Lalu bagaimana dengan firman Allah, “Allah menghapus apa yang menjadi kehendak-Nya dan Dia menetapkan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Ummul Kitab berada di sisi-Nya,” ? Ayat tersebut ditafsirkan berkaitan dengan syariat. Allah berhak menghapus (baca: menasakh) apa yang Dia sukai dan Dia pun berhak memutuskan apa yang menjadi keinginan-Nya, sampai kemudian risalah Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjadi pengganti seluruh syariat terdahulu.

            Sedangkan sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Qadha’ tidak akan bisa ditolak kecuali dengan doa dan umur tidak akan bisa bertambah kecuali dengan kebaikan.” Hadits yang dicatat Imam Abu ‘Isa At-Tirmidzi dan dinilai hasan oleh Al-Albani tersebut tidaklah membuktikan bahwa isi Lauh Mahfuzh dapat dirubah. Namun maknanya adalah Allah mentaqdirkan keselamatan daripada keburukan, dan Dia mentaqdirkan sebab-sebab sehingga terwujudlah keselamatan. Maknanya, Allah menarik hamba-Nya dari keburukan yang itu ditaqdirkan bersamaan dengan sebab yang dilakukan hamba tersebut, yaitu doa.  Demikian juga Allah telah mentaqdirkan bahwa umur si orang itu panjang, lalu Dia mentaqdirkan orang tersebut dapat menggapai hal tersebut dengan sebab yang dilakukannya, yaitu banyak melakukan kebaikan dan menyambung tali silaturahmi. Kesimpulannya, sebab dan musabbab itu seluruhnya datang dari Allah ‘Azza wa Jalla.[10]

Ketiga, beriman bahwa segala sesuatu yang terjadi di jagad raya ini berdasarkan keinginan Allah dan tidak ada yang keluar dari masyiah-Nya. Apa yang Allah kehendaki bakal terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan pernah terjadi.

            Allah mengatakan,

 وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِن بَعْدِهِم مِّن بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَٰكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُم مَّنْ آمَنَ وَمِنْهُم مَّن كَفَرَ ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS Al-Baqarah: 253)

Firman-Nya, “Sekiranya Allah menghendaki, tentu mereka tidak akan melakukannya.” (QS Al-An’am: 137)

Pada Surat At-Takwir ayat ke-28 dan 29 Dia mengatakan, Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.

Keempat, beriman bahwa segala sesuatu di jagad raya ini adalah ciptaan Allah. Gunung, lautan, hutan, bumi, bulan, bintang, lembah, matahari, langit, surge, neraka, manusia, jin, hewan, tumbuh-tumbuhan, gerak-gerik manusia, dan seterusnya. “Allah menciptakan segala sesuatu.”

            Walhasil, segala sesuatu yang terjadi di jagad raya ini, yang baik maupun yang buruk, tidak lain karena qadha’ Allah dan taqdir-Nya. Hanya saja Allah tidak pernah mentaqdirkan keburukan kecuali mengandung hikmah tertentu, terkadang diketahui dan kadang pula tidak. Dan sebagai bentuk adab kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tidak sepantasnya taqdir yang buruk tersebut dinisbatkan pada Allah Ta’ala.

            Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim –‘alaihissalam- tidak menisbatkan sakit yang ‘dideritanya’ kepada Allah sementara kesembuhan yang diperolehnya datang dari Allah. Katanya, “Dan apabila aku jatuh sakit, Dialah yang memberiku kesembuhan.”

            Ini dia Jin juga melakukan hal yang sama. Ujarnya, “Dan kami tidak tahu bencana apakah yang dikehendaki untuk orang-orang yang ada di bumi, ataukah Rabb berkehendak memberikan petunjuk yang benar kepada mereka.”

            Beriman dengan taqdir termasuk perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah saja. Adapun selain-Nya tidak ada yang mengetahui kecuali dengan dua hal:

Pertama, terjadinya suatu peristiwa. Jika terjadi sesuatu maka dapat diketahui bahwa sesuatu tersebut berada dalam lingkaran taqdir, sekiranya tidak ditaqdirkan tentu tak akan pernah terjadi.

Kedua, adanya berita dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tentang berbagai peristiwa yang bakal terjadi di masa depan. Misalnya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah mengabarkan akan munculnya Dajja, Ya’juj dan Ma’juj, turunnya ‘Isa bin Maryam di akhir zaman, datangnya Al-Mahdi, dan peristiwa-peristiwa lainnya yang akan terjadi di akhir zaman. Berita-berita tersebut menunjukkan bahwa semua ini akan terjadi.

            Bolehkah orang beralasan dengan qadar ketika ia tidak melaksanakan perintah Allah atau menerjang larangan-Nya? Jawabanya sebagaima kisah yang terjadi di masa pemerintahan ‘Umar bin Al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu-. Alkisah ada seseorang yang tertangkap melanggar perintah atau mengerjakan suatu dosa lantas si tersangka berkilah bahwa apa yang dilakukannya itu tidak lain karena taqdir. Apa jawab ‘Umar? Beliau menjawab, bahwa hukuman yang ia putuskan pun juga berdasarkan taqdir.

            Sedangkan perselisihan Adam dan Musa tentang qadar, bukan bermakna beralasan dengan taqdir ketika melakukan dosa, namun beralasan dengan musibah yang terjadi karena maksiat. Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa suatu ketika Adam dan Musa tengah terjadi dialog. Musa berkata, “Adam, kamu yang dikeluarkan dari surga karena kesalahanmu.” Adam kemudian menjawab, “Kamu Musa, orang yang Allah pilih dengan risalah dan kalam-Nya, apakah kamu mencelaku karena sesuatu yang telah Allah tetapkan sebelum aku diciptakan?” Lantas Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– memberi komentar, “Adam pun dapat mengalahkan argument musa,” dua kali.

[1] QS Asy-Syura: 11.

[2] QS Al-Anbiya’: 26-27.

[3] QS Al-Anbiya’: 19-20.

[4] QS At-Tahrim: 6.

[5] QS Al-Anbiya’: 20.

[6] Syarah Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah (hlm. 43) oleh Ibnu ‘Utsaimin.

[7] QS Al-Baqarah: 213.

[8] QS Al-Ahqaf: 29-31.

[9] Fath Al-Qawiyy Al-Matin (hlm. 24).

[10] Syarh Hadits Jibril fi Ta’lim Ad-Din (hlm. 64-65).

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: