//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj

Sebab Perbuatan Baik Sia-sia Tak Berguna

09Di sebuah dataran padang pasir dengan terik matahari yang begitu panas itu hiduplah segolongan manusia yang sangat terkenal dengan berbagai akhlak mulia dan memiliki hubungan sosial yang amat sangat baik. Mereka begitu menghormati tamu yang mendatangi rumah mereka meskipun tidak mereka kenal. Mereka juga biasa melakukan banyak ibadah semacam sedekah, umrah, zikir, dan seterusnya. Mereka berkeyakinan bahwa tidak ada yang menciptakan alam semesta ini kecuali Allah semata. Sehingga segala urusan pun mutlak di tangan-Nya, bukan di tangan selain-Nya. Mereka pun selalu tulus beribadah pada Allah di saat-saat musibah melanda.

Namun sayang, ada satu perbuatan mereka yang itu sudah cukup membumihanguskan kebaikan-kebaikan mereka itu. Ya, ternyata di samping keyakinan mereka di atas, mereka juga berkeyakinan bahwa untuk bisa sampai pada Allah diperlukan perantara-perantara tertentu yang akan memudahkan tujuan mereka itu. dampaknya, kerap kali mereka menjadikan perantara-perantara itu justru sebagai tandingan Allah Ta’ala. Perbuatan yang seharusnya dipersembahkan untuk Allah semata, justru mereka selewengkan untuk makhluk-makhluk yang mereka anggap sebagai perantara antara diri mereka dengan Allah. Terkadang mereka berdoa, bernazar, berkurban, beristighatsah, berharap, dan meminta tolong pada perantara-perantara yang mereka buat itu.

Berkaitan dengan hal tersebut, Allah menceritakan:

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS: 39: 3)

Itulah kepercayaan orang-orang musyrik masa silam. Meyakini ada makhluk yang berwenang menghubungkan mereka dengan Allah Ta’ala. Padahal Allah sama sekali tidak pernah mengangkat siapa pun sebagai perantara antara diri-Nya dengan makhluk-Nya dalam perkara ibadah; tidak para nabi dan rasul yang diutus, tidak pula para malaikat yang dekat dengan diri-Nya.

Allah berfirman:

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.’ Katakanlah, “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?’ Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu).” (QS: 10: 18)

Oleh karena itu, perbuatan itu sebetulnya hanya merupakan khayalan dan buah lamunan mereka semata. Celakanya, tindakan semacam ini terus dikembangkan oleh orang-orang yang mengaku dirinya sebagai shufi sejati. Mereka menjadikan pengalaman sepiritual sebagai dasar agama mereka. Ini tentu tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan orang-orang musyrik Jahiliyah. Karena agama Islam hanya dibangun berdasarkan wahyu, Al-Quran dan Sunnah saja, tidak ada dasar pokok lainnya.

Dari kenyataan perbuatan orang-orang musyrik di atas, teringat betul kita dengan sejumlah ayat dan hadits yang dengan tegas menjelaskan bahwa segala bentuk ibadah dan qurbah hanya layak dipersembahkan untuk Allah ‘Azza wa Jalla jua. Oleh karena itu, jika sampai ada sesuatu itu yang diselewengkan untuk selain-Nya, berarti ia telah menceburkan dirinya ke dalam jurang kemusyrikan. Dan penyelewengan inilah yang terus diperangi para nabi dan rasul sejak dahulu.

Allah berfirman, “Aku menciptakan Jin dan Manusia hanya supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

Allah berfirman, “Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat supaya mereka menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.”

Allah berfirman,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا * وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرا *

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS: 17: 23-24)

Allah berfirman, “Sembahlah Allah saja, jangan menyekutukan-Nya dangan apa pun.” (QS: 3: 36)

Allah berfirman, “ Katakanlah, ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: (1) janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, (2) berbuat baiklah terhadap kedua orangtua, dan (3) janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan (4) janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan (5) janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan (6) janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan (7) sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan (8) apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat, dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.”

Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan sebuah hadits dari Mu’adz bin Jabal, beliau menceritakan, “Aku pernah membonceng Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– di atas kendaraan keledai. Beliau berkata padaku, ‘Mua’dz, tahukah kamu apa hak Allah terhadap hamba-Nya dan hak hamba terhadap Allah?’

Jawabku, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’

Beliau bersabda, ‘Hak Allah terhadap hamba-Nya ialah, apabila mereka menyembah-Nya  tanpa mensekutukan-Nya, sedangkan hak hamba terhadap Allah adalah Allah tidak akan mengazab orang yang tidak mensekutukan-Nya dengan apa pun.’

Aku berkata, ‘Rasulullah, bolehkah aku memberitahu orang-orang tentang hal ini?’

Beliau bersabda, ‘Jangan beri mereka karena khawatir nanti mereka akan berpangku tangan.’

Masih banyak ayat dan hadits yang setema dengan makna di atas. Intinya perintah bertauhid dan menjauhi kemusyrikan dan segala sarana-sarananya. Karena tauhid merupakan symbol kemerdekaan dan tanda akal yang sehat. Sebaliknya, kemusyrikan merupakan pertanda kegagalan mengoprasikan system akal sehat yang Allah ciptakan. Oleh karena itu seorang Abu Jahal yang oleh masyarakatnya dikenal sebagai sosok yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata karena setiap persengketaan yang terjadi di masyarakat selalu dapat dilerai dengan keputusan-keputusan, dianggap sebagai orang bodoh oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sehingga muncullah istilah Abu Jalah (orang bodoh) setelah sebelumnya masyarakat menyebutnya Abul Hakam (orang yang berotak cerdas).

Penilaiaan Rasulullah di atas didasarkan atas kegagalannya membedakan mana yang benar dan mana yang salah, dalam hal ini ialah tauhid dan syirik. Kegagalannya tersebut berdampak terseretnya tubuhnya ke dalam neraka selama-lamanya.

Tauhid, sebagaimana di atas, merupakan inti dakwah para Nabi dan Rasul. Oleh karena itu, orang yang mengingkari seorang nabi saja, berarti ia juga mengkari seluruh nabi dan rasul. Ini sebagaimana yang Allah jelaskan dalam Al-Quran di banyak kesempatan, antara lain sebagaimana ayat di atas.

Lebih jelasnya, tidak salahnya jika kita persilahkan Imam Muhammad bin ‘Ali Asu-Syaukani –rahimahullah– menjelaskan masalah ini. Dalam Irsyad Ats-Tsiqat, beliau menjelaskan,

“Ketahuilah, bahwa sejumlah ulama besar Islam mengatakan bahwa seluruh syariat yang ada bersepakat menetapkan tauhid meskipun banyaknya jumlah rasul dan kitab Allah Ta’ala yang diturunkan kepada para nabi-Nya.

Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad hasan dari Abu Dzarr, ‘Para Nabi itu berjumlah 124.ooo, sedangkan kitab-kitab yang diturunkan berjumlah 104 buah.”

Sehingga, tauhid merupakan agama semesta alam dari awal hingga akhir, yang telah lewat maupun yang akan datang. Al-Quran sendiri menceritkan tentang orang-orang kafir, ‘Kami menyembah mereka semata-mata hanya supaya mereka dapat mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.’ Dalam riwayat shahih juga mereka mengatakan, ‘Aku penuhi panggilan-Mu yang tidak ada sekutu untuk-Mu, kecuali sekutu-Mu yang Engkau miliki.’”

Sekarang timbul pertanyaan, apakah yang dimaksud dengan tauhid itu?

Tauhid merupakan pengesaan Allah Ta’ala dengan segala sesuatu yang menjadi hak mutlak-Nya dalam hal penciptaan, ibadah, dan asma wa shifat-Nya. Sehingga dengan definisi semacam ini, tauhid dapat dijelaskan melalui tiga rincian berikut ini:

Pertama, mengesakan Allah dalam hal penciptaan dan pengaturan alam semesta. Tauhid macam ini disebut tauhid rububiyyah. Maksudnya seseorang berkeyakinan bahwa tidak ada yang menciptakan, mengatur, dan memberi rizki melainkan Allah semesta. Keyakinan ini diyakini juga oleh orang-orang musyrik. Hanya saja keyakinan ini hanya sebatas keyakinan yang tidak membuahkan apa pun. Sehingga meskipun mereka berkeyakinan demikian, tetap saja mereka tidak putus-putus mempersembahkan ibadah kepada selain Allah.

Allah berfirman, “Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?.” (QS: Al-Mukminun: 84-89)

Kedua, mengesakan Allah dalam hal ibadah. Maka segala bentuk ibadah hanya boleh diperuntukkan Allah semata. Tidak ada makhluk manapun yang boleh menerima. Jenis kedua inilah yang banyak diselwengkan orang-orang musyrik Jahiliah yang juga kembali dilestarikan sebagian orang zaman modern. Jenis penyelewengan ini seperti berdoa kepada selain Allah, bernazar untuk selain Allah, berkurban untuk selain Allah, bersujud kepada selain Allah, berdoa kepada keburan dan wali, bertawakal kepada selain Allah, dan selainnya.

Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni orang yang mensekutukan-Nya dengan sesuatu, namun Dia mengampuni dosa di bawah kemusyrikan bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang mensekutukan Allah, maka berarti ia telah melakukan dosa besar!”

“Dan orang yang mensekutukan Allah, maka sungguh Allah mengharamkannya masuk surge, sedangkan tempat kembalinya adalah neraka. Dan orang-orang zhalim tidak akan pernah memperoleh penolong.”

Ketiga, mengesakan Allah dalam hal asma wa shifat. Maksudnya kita menetapkan  segala nama dan shifat apa yang ditetapkan dalam Al-Quran dan Sunnah tanpa adanya pengingkaran, penyamaan, serta penyelewengan makna dan teks.

Allah berfirman:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

Dalam Tafsir Al-Quran Al-Majid (II/182-183), Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy –rahimahullah– mengatakan, “Tinggalkan mereka yang mengingkari nama-nama Allah dengan cara meng-abaikan nama-nama itu atau mentakwilkannya, mendustakan, atau menguranginya.

Mengingkari nama-nama tersebut ada beberapa macam:

Pertama, menamai Allah dengan nama yang tidak disebut, baik di dalam Kitab (Al-Quran) muapun di dalam hadits.

Kedua, tidak menamai-Nya dengan nama-nama yang telah disebutkan sendiri oleh Allah dengan nama-nama lain atau mensifati Allah dengan sifat-sifat lain.

Ketiga, mengubah-ubah nama-Nya untuk diberikan kepada yang lain-Nya.

Keempat, memalingkan nama-nama itu dengan sifat-sifat dan berbagai takwil.

Kelima, mempersekutukan sesuatu yang selain Allah dengan nama-nama yang tertentu bagi Allah sendiri.

Keenam, mempersekutukan yang selain Allah ke dalam kesempurnaan nama-nama Allah seperti kita mengaku orang lain yang rahmatnya sebanyak rahmat Allah.”

Wallahua’lam. []

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: