//
you're reading...
Fatwa Ulama, Firqah Sesat

Habib Salim Jindan Pun Tegas Mengkafirkan Syi’ah-Rafidhah!

jauhi-syiahSiapakah kaum Rafidlah itu? Mereka adalah orang-orang yang mengklaim, bahwa diri mereka mencintai Rasulullah SAW. Pada hal kenyataannya tidak demikian. Mereka menganggap diri mereka mengikuti jalan pembesar keluarga Rasulullah SAW seperti Imam Hasan dan Imam Husain, ayah mereka Imam ‘Ali, ‘Ali bin al-Husain dan Zaid bin ‘Ali ra. Sementara mereka tidak mengakui keberadaan orang-orang seperti Abu Bakar, Umar, Ustman, Mu’awiyah, ‘Amr bin al-‘Ash, shingga mereka selalu mencaci maki.

            Sebenarnya Rasulullah SAW teleh memperingatkan dan mengabarkan akan kelahiran mereka di masa yang akan dating, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan  oleh Imam Ahmad dalam Musnad, Daruquthni (yang benar Daraquthni-pent), adz-Dzahabi, al-Baghawiy, Thabraniy, Uaqili, al-Hafidh al-Qadhi Iyadh, yang diriwayatkan banyak sahabat, yang sebagian dari mereka Imam ‘Ali ra, Fatimah, Ummi Salamah, al-Hasan, Anas bin Malik, Jabir al-Anshariy, Ibnu Abbas, Iyadh al-Anshariy, di mana mereka semua mendengar dan meriwayatkan dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda:

Setelah kepergianku, kelak akan datang suatu kaum yang mempunyai julukan Rafidlah. Maka jika kalian menemukan, perangilah mereka, karena sesungguhnya mereka kaum yang mempersekutukan Tuhan.

Ali ra berkata, “Aku berkata: Wahai Rasulullah, apakah ciri-ciri mereka?”

Beliau SAW bersabda, “Mereka akan menyanjungmu dengan apa yang tidak ada padamu dan mereka kan mencela kepadamu ulama salaf.”

Hadirs senada diriwayatkan oleh Abu Dzar al-Hawari dari Jabir Ibnu Umar dan al-Hasan ra. Dan diriwayatkan oleh adz-Dzahabiy dari Ibnu Abbas ra. Berkata, Rasulullah SAW bersabda:

“Kelak di akhir zaman akan ada suatu kaum yang disebut kaum Rafidlah, dimana mereka meninggalkan Islam, maka perangilah mereka, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan Tuhan (musyrik-pent).”

Dalam sebuah riwayat Imam Daruquthniy dari Ali bin Abi Thalub ra berkata:

“Mereka akan bertanya tentang ciri-ciri mereka.”

Maka beliau SAW bersabda, “Mereka seakan-akan keluarga Nabi, sementara mereka tidaklah begitu. Dan tanda-tanda dari itu adalah mereka suka mencaci maki Abu Bakar dan Umar ra.”

Dalam riwayat lain yang diriwayatkan juga dari Ali ra disebutkan bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:

“Wahai Ali, kamu akan masuk syurga. Wahai Ali, kamu masuk syurga. Wahai Ali, kamu akan masuk syurga. Dan kelak akan ada suatu kaum yang disebut Rafidlah. Maka jika kamu menemukan, perangilah mereka.”

Maka ia berkata, “Wahai Nabi Allah, apa tanda-tanda mereka?”

Beliau SAW bersabda, “Mereka tidak pernah terlihat berjama’ah, tidak melakukan shalat Jum’at dan mereka mengumpat Abu Bakar dan Umar ra.”

Dalam kitab Milal wa an-Nihal, Imam Syahrastani menuturkan bahwa mereka sesungguhnya dalam masa pemerintahannya, Imam Ali ra menemukan kaum Rafidlah, kaum yang oleh Rasulullah SAW agar dia memeranginya. Maka beliau ra memerintahkan untuk membakar mereka di dalam dan lubang galian.

Namun beliau ra. merasa ragy untuk membakar sebagian yang lain, karena beliau merasa khawatir, jika tindakan itu diikutu oleh kaumnya, maka beliau mengusir mereka ke tempat pembuangan sampah berbagai kota.

Sementara sabda Rasulullah SAW yang menyebutkan, bahwa karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, yakni mereka mempersekutukan Allah SWT dengan manusia yang mereka cintai, sebagaimana yang dilakukan oleh sekte Syari’iyah yang merupakan sekte pecahan kaum Rafidlah di mana mereka mengatakan, bahwa sesungguhnya Allah SWT bertempat di dalam lima orang, yaitu Muhamad SAW, Ali, Fatimah, Hasan ra, dan Husain ra, di mana Allah SWT adalah Tuhan besar dan mereka adalah Tuhan kecil.

Pemikiran semacam ini merupakan kekafiran secara jelas, tanpa kesangsian lagi. Sementara sekte Druz juga meruapakan sekte pecahan Rafidlah beranggapan bahwa Imam Hakim, imam kelima dinasti Fatimiyah adalah Tuhan. Dasar pemikiran aliran ini terlalu mendalamnya rasa cinta kepada keluarga Rasulullah SAW, sehingga mendudukkan mereka tidak pada tempatnya secara proposional.

Sebagian mereka beranggapan, bahwa Ali ra adalah seorang Nabi, yang lain berpendapat, bahwa dia adalah Tuhan. Sementara sekte pecahan lain, mengatakan bahwa dia adalah Nabi yang diam sehingga Muhammad SAW adalah Nabi yang berbicara. Sebagian mereka bahkan sampai berpendapat bahwa Abu Bakar, Umar, dan Ali ra adalah kufur. Karena itulah kaum Rafidlah dinamakan sebagai kaum msyrikin dan boleh mengutuk mereka, sebab mereka melangkah kepada jalur syaitan.

Dalam Syarakh asy-Syifak beliau berkata, “Pecahan kaum Rafidlah banyak sekali, “Abubakar al Khawarizmi menjelaskan, bahwa Syi’ah, Imamiyah dan Kaisaniah merupakan sebagian dari kaum Rafidlah.”

Imam Abu Hanifah berkata, “Sesungguhnya Syi’ah mempunyai kekejian yang lebih kecil ketimbang kaum Rafidlah.” (HR. baihaqiy dalam Sunan al-Kubro)

Mayoritas imam Ahlis-sunnah wal Jama’ah berpendapat, bahwa kaum Rafidlah dan pecahannya kafir. Sebagian dari mereka adalah Imam Malik, Sahnun, al-Qadhi Iyadh, penulis Syifak, Abu Hanifah, Ibnu Hajar dan lainnya.

Sebagian mereka melarang duduk dalam suatu pertemuan dengan mereka dan bergaul bersamanya. Mereka berkata, “Janganlah kalian makan dan duduk bersama mereka. Maka jika mereka mati, janganlah mereka dishalati.”

Ibnu Hajar dan madzhab Abu Hanifah berpendapat bahwa sesungguhnya barangsiapa mengingkari kekhalifahan Abu Bakar dan Umar ra., adalah kafir, meski bertentangan dengan salah satu riwayat yang diceritakan oleh sebagian ulama mereka.

Namun menurut pendapat yang sahih, disebutkan bahwa orang tersebut kafir. Dan sesungguhnya Rafidlah merupakan sebagian di antara mereka yang mengingkari kekhalifahan Abu Bakar dan mencacinya.

Dalam al-Iqtishad, Imam Ghazaliy berkata, “Sesungguhnya kelompok umat ini berpendapat, bahwa secara sepakat mengatakan sesungguhnya Abu Bakar ra adalah manusia yang berhak memegang kursi kekhalifahan setelah kepergian Rasulullah SAW kecuali, Rafidlah dan Syi’ah. Sesungguhnya mereka mengingkari kebenaran Khalifah Abu Bakar ra.

Dalam Fatwa Adh-Dhahriyah karya seorang ulama Hanafiyah kitab “al-Ashli” karya Syaikh Muhammad bin al-Hasan, dan dalam Fatwa al-Badi’iyah disebutkan, bahwa beliau membagi kaum Rafidlah kepada yang kafir dan selain mereka.

Sebagian mereka berpendpat tidak bolehnya menunaikan shalat di belakang Rafidlah. Sementara menurut kami adalah makruh. Tetapi yang utama adalah tidak melakukannya. Dengan kata lain, lebih baik menunaikan shalat sendirian, menurut pendapat sebagian kami.

Sebagian mereka berpendapat, solusinya, tidaklah layak menunaikan shalat di belakang orang yang culas atau fasik. Sebagian dari kefasikan adalah mencaci maki para sahabat atau salah seorang dari mereka, dan ini tidak ada pertentangan. Pencacian itu dapat menjadikan mereka hukuman, seperti disebutkan dalam sebuah hadits:

“Barang siapa mencaci maki sahabat-sahabatku, maka cambuklah ia.”

Kaum Rafidlah atau Syi’ah tidak pernah berhenti mencela sahabat Rasulullah SAW. Tiada hentinya mereka mencaci mereka, bahkan selalu mereka sebut dalam berbagai pertemuan, di madrasah, bahkan di kampus, baik secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi.

Mereka memang sebagaian orang yang telah sesat dan dicelakakan oleh Allah SWT. Semoga Allah SWT memerangi mereka.

Ibnu Hajar dalam Asshawaiq berkata, “Tidak boleh shalat di belakang kaum Rafidlah atau aktivis Syi’ah yang mengingkari kekhalifahan Abu Bakar ra..” Pelarangan itu jyga sudah disebutkan dalam berbagai hadits, yang di antaranya oleh Imam al-Baihaqiy dalam kitab Sunannya dari Anas bin Malik ra berkata, Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah SWT telah memilihku, dan memilihkan umatku para sahabat dan mertua-mertuaku. Dan kelak akan datang suatu kaum yang mencaci maki dan membenci mereka. Maka janganlah kalian duduk bersama mereka, minum dan makan bersama mereka. Dan janganlah kalian menikah dengan mereka.”

Dalam sebuah riwayat Imam Thabraniy dalam Mu’jamnya dari ‘Uwaimir ra. disebutkan:

“Maka barang siapa mencaci maki mereka, baginyalah kutukan Allah SWT, malaikat dan segenap insan. Allah SWT tidak akan menerima ibadah wajib dan sunnahnya.”

Meskipun kaum Rafdlah dan Syi’ah menganggap diri mereka sebagai  kaum muslimin, yang menunaikan shalat dan puasa, akan tetapi Allah SWT tidak mau menerima semua ibadah mereka, sebagaimana dinashkan dalam konteks lahiriah hadits di atas. Tidak bermanfaat shalat seseorang yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah SAW. Bahkan dia mendapatkan kutuk Allah SWT. Sebagiaman disebutkan dalam sebuah firman:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatnya di dunia dan akhirat.” QS: 33/57

Dan barang siapa menyakiti Rasulullah SAW dengan mencela sahabat atau keluarganya, maka dia adalah orang yang terkutuk berdasarkan ayat di atas. Para ulama bersepakat akan terkutuknya pencaci maki mereka (baca: shabat-pent.), sebagaimana disebtkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh dari Ibnu Umar ra, yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan al-Khathib, bahwa Rasululah SAW bersabda:

“JIka kalian melihat orang-orang yang mencaci sahabat-sahabatku, maka berkatalah, ‘Kutukan Allah atas kejahatan kalian!’”

Ini merupakan prinsip yang tidak sangsikan lagi, karena sesungguhnya sejelek-jelek umat ini adalah mereka yang mencaci sahabat Nabi mereka. Mencaci-maki dan mencela terhadap para sahabat Nabi merupakan perilaku kaum Rafidlah dan Syi’ah.

Orang Ahli sunnah menamakan mereka sebagai Yahudinya umat ini. Bahkan Yahudi lebih baik dari mereka, karena jika kita bertanya kepada seorang Yahudi tentang sahabat Nabi Musa as, pastilah mereka akan berkata, “Mereka orang-orang pilihan kami dan orang-orang yang kami kasihi.”

Begitupun jika kita bertanya kepada kaum Nashrani tentang kaum Hawariy Nabi Isa as., pastilah mereka akan akan menajwab, “Mereka junjungan kami dan orang-orang pilihan kami. Namun jika kita bertanya kepada orang Rafidlah atau Syi’ah tentang sahabat Rasulullah SAW, niscaya mereka akan menajawab, “Sesungguhnya mereka sejelek-jelek kami dan orang-orang zhalim kami.”

Semoga Allah membinasakan mereka!

Al-Habib Salim Jindan Al-Batawi

 

Sumber: Fatwa Isu Penting: Putusan Ulama Besar Indonesia (hlm. 1-6), dengan sambutan Al-Habib Naufal bin Salim bin Ahmad Jindan, cet. Agustus 1997 M oleh Asy-Syifa Semarang. Buku ini merupakan terjemahan oleh KH Achmad Sunarto dari kitab Ar-Ra’ah Al-Ghamidhah fi Naqdh Kalam Ar-Rafidhah karya Al-Habib Salim bin Ahmad Jindan Al-Batawi –rahmatullah ‘alaih-.

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: