//
you're reading...
Nasehat, Refleksi

Ngaji Kita Masih Seperti Konser?

Kajian-IslamProlog

Fenomena perbedaan yang mencolok antara peserta kajian tematik dan kajian rutin di barisan Salafiyyin, di mana peserta kajian tematik membludag yang tidak didapati di kajian-kajian tematik yang diisi oleh ustadz-ustadz ‘asing’, membuat sebagian orang cemburu. Di sisi lain, membludagnya peserta kajian tematik membuat hati ini merasa sangat gembira, namun di sisi lain jika dibandingkan dengan peserta kajian rutin (kitab) sangat jauh berbeda -jauh lebih sedikit-, hati pun merasa tak tega. Padahal kajian kitab yang rutin lebih banyak manfaatnya dari segi ta’shil ‘ilmi (pengokohan ilmu) dibanding kajian model pertama. Kecemburuan itu membuat salah seorang ustadz besar kita mengeluarkan pernyataan yang cukup kontroversi.

Teks:
Ustadz besar kita –hafizhahullah wa ra’ah wa nafa’ana bih– menulis:

“Gaya ngaji kita masih kayak konser ya. Kalau ust luar datang, penuh yg hadir.. Tapi kajian rutinnya sepi, pdhl itu lebih mengokohkan ilmu.”

Tanggapan:
Maksudnya bukan kalau ada ustadz dari luar datang terus kemudian porsi hadirnya dikurangi atau jama’ah yang hadir diminimalisir. Banyaknya jama’aah yang hadir dalam tabligh akbar tentu perlu terus disuport. Kalau bisa undang kaum muslimin sebanyak-banyaknya.

Namun, disamping rajin dan gandrung menghadiri tabligh akbar dengan makna di atas, mari kita juga sama-sama membanjiri kajian rutin ustadz-ustadz yang tinggal di tengah-tengah kita. Sebab “itu lebih mengokohkan ilmu.” Dan memang demikian kenyataannya. Lagi pula “amalan yang paling didemenin Allah ialah yang rutin meski sedikit.”

Tarulah sang ustadz yang tinggal tidak berjauhan dari rumah kita bisa bermajelis sepekan sekali dengan tema fiqih yang membahas hukum sehari-hari, dari mulai bersuci, shalat, zakat, puasa, zakat, haji, muamalah, jinayat, hudud, dan seterusnya – bukan hanya “manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah dalam bermuamalah dengan kaum menyimpang” atau “kaidah jarh wa ta’dil” melulu sehingga bab fiqih kerap kali dilupakan “segelintir” orang-.” Pelajaran yang demikian itu akan lebih kokoh membangun manhaj dalam pribadi muslim ketimbang pelajaran yang didengar sebulan 2 jam.

Dan memang fenomena demam ngundang ustadz dari luar dengan mengenyampingkan ustadz-ustadz yang tinggal di tengah-tengah kita ini kurang baik jika tidak dimusyawarahkan baik-baik dengan ustadz kita itu. Masalah ini memang tak ada teks tegas dalam Al-Quran maupun Sunnah. Namun adab itu diperlukan siapa pun, di mana pun, kapan pun. Selain itu, ustadz yang tinggal bersama itu lebih tahu waqi’ (kondisi, fenomena, realita, kenyataan) di daerah yang kita tinggali. Mana yang diperlukan, apa yang harus dibicarakan, ungkapan apa yang kiranya tepat dipakai di majelis, dan hukum lokal lainnya yang cocok diberlakukan di tempat itu. Sehingga sangat layak masyarakat bertindak dengan bimbingan ustadz tersebut walaupun “:hanya” lulusan Ma’had Al-‘Ulum Al-Islamiyyah wal-‘Arabiyyah [Universitas Islam Muhammad bin Su’ud Jakarta].

Adapun ustadz dari luar, meskipun dijelaskan sedetile apa pun kondisi masyarakat di tempat itu dan secerdas apa pun beliau, tidak lebih matang pencernaannya dari cernaan ustadz lokal yang notabene berada di situ dalam jangka waktu jauh lebih lama dari tamu undangan. Karena “berita itu tidak akan sama dengan apabila disaksikan secara langsung.”

Hanya saja tetap tidak salah kita mengundang ulama besar negeri ini atau bahkan Timur Tengah sekalipun untuk kita ambil ilmunya agar sumber ilmu kita semakin banyak dan merasakan betapa ulama-ulama kita tadi pun sangat memperhatikan kita.

Demikian. Semoga tidak disalahfahami!

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

One thought on “Ngaji Kita Masih Seperti Konser?

  1. assmlkm, lebih baik tablik akbar yang mengundang banyak orang……tapi tidak ada anarkis,rusuh.ataupun hal yang berbau negatif…..daripada konser musik, atau bola disenayan, ataupun demo….yg banyak berujung kenegatif…..maaf nih komentarlah pada konser musik, atau bola disenayan atau demo yg engga ada manfaatnnya…..ajaklah secara bertahap abg kita untuk mencintai allah dan rasulnya…….daripada abg kita terjerumus ikut ikutan konser….ataupun yang nrgatif lainnya……maaf bila ada kata yang menyinggung perasaan, ane sebagai orang awam yang tak banyak punya ilmu agama mengucapkan terimah kasih wassalam

    Posted by seorang awam | 09/07/2016, 12:29 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: