//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj, Hadits Nabawi & Ilmunya

Serial Syarah Arba’in: Dasar-dasar Agama Islam dalam Hadits Jibril (8)

13Tanda-tanda Datangnya Hari Kiamat

“Dia bertanya, ‘Beritahu itu tentang hari kiamat?’ Beliau bersabda, ‘Orang yang ditanya tentangnya tidak lebih tahu daripada yang mengajukan pertanyaan.’” Hari kiamat adalah bangkitnya (qiyam) seluruh manusia dari kubur menuju Allah, Rabb semesta alam. Kiamat (Indonesia: sesaat) disebut kiamat juga dikarenakan karena memang terjadinya secara tiba-tiba dalam waktu sesaat.

Kiamat biasa dipakai untuk tiga artian[1]:

  1. Kiamat Kecil, yaitu kematian seseorang. Jadi orang yang meninggal bisa dikatakan bahwa dia telah menghadapi hari kiamatnya.
  2. Kiamat pertengahan, yaitu kematian seluruh penduduk pada suatu abad.
  3. Kiamat besar, yaitu dibangkitkannya seluruh manusia dari alam kubur untuk dihitung amal perbuatannya lalu diberi balasa. Artian inilah yang dimaksudkan dalam Al-Quran.

Selain hari tersebut tersebut dinamai Qiyamah, setidaknya ada 18 nama lain yang dapat mewakili hari mengerikan itu. Masing-masing adalah Yaum Al-Ba’ts, Yaum Ad-Din, Yaum Al-Hasrah, Ad-Dar Al-Akhirah, Yaum At-Tanad, Dar Al-Qarar, Yaum Al-Fashl, Yaum Al-Jam’, Yam Al-Wa’id, Yam Al-Khulud, Yaum Al-Khuruj, Al-Waqi’ah, Al-Haqqah, Ath-Thammah Al-Kubra, Ash-Shakhkhah, Al-Azifah, dan Al-Qari’ah.[2]

Kapan terjadinya hari kiamat, tidak ada yang mengetahui kecuali Allah ‘Azza wa Jalla saja, tidak ada yang lain. Allah berfirman, “Orang-orang bertanya padamu tentang terjadinya kiamat, katakanlah, ‘Hanya Allah yang mengetahuinya.’ Dan siapa yang dapat memberi tahu kamu, boleh jadi waktunya sudah dekat.” (QS Al-Ahzab: 63) “Mereka bertanya kepadamu tentang terjadinya kiamat. Katakanlah, ‘Hanya Rabb-ku yang mengetahuinya. Tidak ada yang bisa menjelaskan kapan waktunya selain Dia sendiri. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk di) langit dan di bumi. Kiamat tidak akan datang kepadamu kecuali dengan cara tiba-tiba.” (QS Al-A’raf: 187)

Namun sangat aneh apa yang termuat dalam Al-Hawi karya As-Suyuthi setelah memaparkan jawaban atas pertanyaan tentang hadits yang masyhur di mulut, “Bahwasannya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berada di kubur hanya selama 1000 tahun,” ujarnya, “Saya katakan bahwa hadits tersebut batil. Tidak ada asal-usulnya!” Kemudian beliau mengatakan bahwa beliau menulis sebuah kitab terkait tema itu yang kemudian diberinya judul Al-Kasyf ‘an Mujawazah Hadzih Al-Ummah Al-Alf. Di situ beliau mengatakan,

Pertama, menuriut riwayat-riwayat yang ada bahwa umur umat ini lebih dari 1000 tahun dan tidak lebih dari 1500 tahun. Alasannya terdapat riwayat dari beberapa jalur bahwa umur dunia 7000 tahun, sedang Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– diutus di akhir ribu keenam.”[3]

Kemudian beliau menyebutkan berbagai riwayat yang dijadikannya sebagai penopang pendapatnya itu yang ternyata setelah diteliti keseluruhannya bermasalah.

Dalam Al-Manar Al-Munif[4], Ibnu Qayyimil Juziyyah menyebutkan beberapa hal yang membuktikan akan kepalsuan hadits yang digunakan As-Suyuthi sebagai argumennya, “Antara lain menyelesishi hadits dan ketegasan nash Al-Quran, di antaranya hadits yang menyebutkan umur dunia yang 7000 tahun. Padahal saat ini kita berada di ribu ketujuh. Ini menunjukkan kedustaan yang nyata. Seandainya benar, tentu masing-masing orang tahu bahwa saat ini hari Kiamat tinggal 251 tahun lagi.”

Bukti lain yang merobohkan pendapat As-Suyuthi dan semacamnya ialah bukti realita. Saat ini kita sudah berada di abad ke-15, namun Dajjal pun belum juga keluar, ‘Isa belum turun, dan Al-Mahdi belum nampak.

“Dia bertanya, ‘Kalau begitu, beri tahu aku apa saja tanda-tanda kedatangannya?’” Di antara sekian banyak kasih sayang Allah kepada para makhluk-Nya adalah Dia memberikan beberapa tanda sebelum terjadinya hari kiamat agar mereka bersiap-siaga menghadapinya sebelum ia benar-benar terjadi. Meski sebetulnya hari kiamat tidak akan terjadi kecuali di zaman penuh kejahatan dan kembalinya manusia di martabat paling rendahan. Lebih rendah daripada hewan tak berakal!

Oleh para ulama, tanda-tanda hari kiamat itu dibagi menjadi tiga:

Pertama, tanda-tanda yang telah terjadi dan sudah selesai

Kedua, tanda-tanda yang masih berlangsung terjadi.

Ketiga, tanda-tanda hari Kiamat besar yang akan terjadi menjelang terjadinya hari kiamat.

            Ada ulama lain yang memabagi tanda-tanda hari kiamat menjadi dua, yaitu:

Pertama, tanda-tanda kecil, seperti diutusna Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagai rasul terakhir, dicabutnya ilmu, munculnya kebodohan, menjamurnya peminum khamar, tersebarnya musik, banyaknya perzinaan, seringnya bencana alam, dan seterusnya.

Kedua, tanda-tanda besar, yaitu munculnya Al-Mahdi, nampaknya Dajjal, turunnya ‘Isa bin Maryam di akhir zaman, Ya’juj dan Ma’juj, tiga khusuf, dukhan, terbitnya matahari dari Barat, munculnya binatang melata yang mampu berbicara layaknya manusia, dan api yang menggiring manusia. Jika salah satu dari tanda-tanda besar ini keluar, maka tanda-tanda lain akan cepat keluar mengiringinya, seperti ikatan kalung yang terlepas.

            Adapun tanda-tanda yang Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebutkan di sini termasuk satu dari sekian banyak tanda kecil hari kiamat, yaitu munculnya budak yang melahirkan tuannya sendiri dan orang-orang miskin penggembala kambing yang berlomba-lamba mempertinggi bangunan.

            Pertama, munculnya budak yang melahirkan tuannya sendiri. Maksudnya kelak akan muncul orang-orang yang mendurhakai orangtuanya sendiri. Aanak-anak itu mnyikapi orangtuanya seperti seorang tuan yang menyikapi budaknya, dengan cara memukul, merendahkan, menganggapnya pembantu, dan tindakan hina lainnya. Demikian makna yang dipilih Al-Hafizh Ibnu Hajar[5]rahimahullah– ketika membawakan berbagai perselisihan ulama terkait makna budak yang melahirkan tuannya sendiri.

            “الحُفَاة” bermakna orang yang tak memiliki sandal atau alas kaki. “العراة” orang yang tidak memiliki pakaian memadai sehingga sebagian badannya yang kiranya perlu ditutupi tidak tertutup. Sedangkan makna “العالة” ialah orang-orang faqir.

          Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, bahwasannya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi… sampai orang-orang saling mempertinggi bangunan.”

            Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, “Makna saling meninggikan bangunan adalah setiap orang yang membangun rumah berantusias menandingi ketinggian bangunan lain. Boleh jadi maknanya saling bermegah-megahan dengan perhiasan dan kemewahan, atau lebih umum lagi. Hal seperti itu banyak dijumpai dan terus bertambah.”[6]

“Orang tadi selanjutnya pergi berlalu. Setelah beberapa lamanya, beliau bertanya, ‘Umar, kamu tahu siapa yang tadi bertanya?’ Jawabku, ‘Allah dan Rasul-Nya lah yang tahu.’ Beliau bersabda, ‘Dia itu Jibril. Kedatangannya tadi dalam rangka mngajari kalian beberapa perkara agama kalian.’

“مليا”  “Beberapa lamanya” lebih detailnya, mari kita persilahkan An-Nawawi[1] menjelaskan apa maksud “مليا” di sini:,

“Adapun ‘مليَا’ dengan mentasydid huruf ‘الياء’ maknanya waktu lama. Menurut riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi bahwa beliau mengatakan hal tersebut setelah tiga. Disebutkan dalam Syarh As-Sunnah karya Al-Baghawi, setelah tiga. Nampaknya setelah tiga malam. Menurut zhairnya ini, berarti menyelisihi ucapannya yang terdapat dalam hadits Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, setelah itu laki-laki itu berlalu. Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa salam- bersabda, ‘Kembalikan orang tadi.’ Para shahabat pun mulai mengerjarnya namun mereka tidak lagi melihat apa-apa. Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, ‘Itu Jibril.’ Boleh jadi untuk mengkompromikan dua riwayat itu dengan dikatakan bahwa ketika Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengatakn seperti itu ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu– tidak hadir. Ia malah pergi meninggalkan majelis. Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– memberi tahu hadirin saat itu dan memberi tahu ‘Umar setelah tiga (malam) sebab ketika beliau mengabarkan ‘Umar tidak hadir. Allahua’lam.”

[1] Syarh Shahih Muslim (I/160).

[1] Asyrath As-Sa’ah hlm. 62.

[2] Asyrath As-Sa’ah.

[3] Al-Hawi yang dinukil dari Asyrath As-Sa’ah (hlm. 52) karya Yusuf bin ‘Abdullah Al-Wabil.

[4] Al-Manar Al-Munif (hlm. 80).

[5] Dalam Fath Al-Bari (I/122).

[6] Fath Al-Bari (XIII/88)

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: