//
you're reading...
Bimbingan Islam, Fatwa Ulama, Fiqih dan Hukum

Sikap Tepat Menghadapi Jumlah Rakaat Tarawih yang Diperdebatkan

6-صلاة-التراويح-في-أحد-مساجد-الرياضPertanyaan:

Sebelumnya aku pernah mengajukan pertanyaan yang aku harapkan ada jawaban yang dapat memberi pencerahan untukku. Akan tetapi jawaban yang kuterima justru kurang memuaskan. Pertanyaan tersebuat ialah mengenai jumlah rakaat pada shalat tarawih, apakah 11 ataukah 20 rakaat. Dalam hadits dikatakan 11 rakaat. Syaikh Al-Albani pun dalam Kitab Al-Qiyam wa At-Tarawih mengatakan 11 rakaat. Sebagian orang ada yang mendatangi masjid yang di situ diselenggarakan 11 rakaat, sementara yang lain memilih pergi ke masjid yang diselenggaraan 20 rakaat. Sehingga persoalan ini menjadi sangat alergi di AS ini. Akibatnya orang yang berpendapat 11 rakaat ‘menikam’ orang yang mempraktekkan 20 rakaat, dan sebaliknya. Wal hasil, terjadilah fitnah yang besar. Di Masjidil Haram sendiri diselanggarakan 20 rakaat.

Mengapa terjadi perbedaan shalat di Masjidil Haram dan di Masjid Nabawi terkait sunnah. Mengapa di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dipraktekkan 20 rakaat?

Jawab:

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah…

Kami tidak setuju dengan sikap seorang muslim terhadap permasalahan yang dibolehkan ada ijtihad di dalamnya dengan menimbulkan alergi semacam ini. Akibatnya menjadi sebab terjadinya perpecahan dan fitnah di tengah masyarakat muslim.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin –rahumahullah- ketika membahas masalah orang yang shalat 10 rakaat bersama imam (yang mempraktekkan 20 rakaat) kemudian duduk menunggu shalat witir dan tidak menyempurnakan shalat tarawih bersama imam, “Kita sangat menyayangkan adanya sekelompok orang berselisih dalam tubuh umat Islam yang penuh toleransi pada perkara-perkara yang dibolehkan khilaf di dalamnya. Sehingga khilaf dalam permasalahan tersebut menjadi sebab perbedaan dalam hati. Khilaf dalam tubuh umat itu memang sudah ada di masa para shahabat Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, namun demikian hati mereka masih satu suara.

Sehingga kewajiban bagi setiap pemuda –khususnya- dan juga bagi setiap orang yang multazim (konsisten mengamalkan sunnah), ialah bersatu padu dan pemandangan yang satu. Sebab, ada banyak musuh yang senantiasa mengintai mereka.” [Asy-Syarh Al-Mumti’ (IV/225)]

Dalam kasus ini, ada dua kubu kelompok yang cukup ekstrime berlebihan. Pertama, mereka mengingkari orang-orang yang menambah jumlah rakaat lebih dari 11 dan bahkan menganggapnya sebagai suatu bid’ah. Kedua, mereka yang mengingkari orang-orang yang hanya mencukupkan diri dengan 11 rakaat dan mengeluarkan statemen, “Mereka itu telah menyelisihi ijma’, konsesus ulama.”

Ada baiknya kita mendengarkan apa yang menjadi nasehat Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam hal ini. Beliau mengatakan:

“Dalam pada kasus ini, kamu katakan, tidak selayaknya kita bersikap berlebihan dan keterlaluan. Sebab, sebagian orang ada yang bersikap berlebihan dalam menekuni jumlah rakaat yang sunnah. Sehingga ia mengatakan, ‘Tidak boleh ada tambahan pada jumlah rakaat yang telah dijelaskan oleh sunnah.’ Ia pun betul-betul mengingkari orang-orang yang menambah lebih dari jumlah itu, dan bahkan berkata, “Perbuatan menambah di situ bestatus dosa.”

Sikap semacam ini tentu saja keliru. Bagaimana mungkin berdosa dan dihitung sebagai perbuatan maksiat, sedangkan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang shalat malam, lantas dijawabnya, ‘Dua, dua,’ tanpa memberikan batasan dengan jumlah tertentu. Padahal telah maklum bahwa orang yang menanyakan hal tersebut belum mengetahui jumlah rakaatnya. Sebab, orang yang sudah mengetahui tata caranya, maka ketidaktahuannya terhadap jumlah tentu lebih dapat diasumsikan lagi. Terlebih, si penanya bukan termasuk orang-orang yang menjadi khadim-pembantu Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa si penanya mengetahui apa yang terjadi dalam isi rumah beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Jika Nabi –shallallahu ‘alihi wa sallam- telah menjelaskan padanya tentang tatacara shalat tanpa memberikan batasan rakaat tertentu, dapatlah diketahui bersama bahwa perkara tersebut longgar. Sehingga boleh saja orang melakukan shalat sebanyak 100 rakaat dengan witir 1 rakaat.

Adapun sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang berbunyi, ‘Kerjakanlah shalat seperti yang kamu lihat aku mempraktekkan shalat,’ maka ini tidak bisa difahami keumumannya, sampaipun oleh mereka itu. karena itu, mereka memaksakan orang lain melakukan witir 5 rakaat sesekali, sesekali dengan 7 rakaat, dan sesekali 9 rakaat.

Sekiranya kita mau memahami hadits tersebut seperti konteks umumnya itu, maka kita pun harus mengatakan wajib berwitir 5 rakaat, 7 rakaat, dan kadang 9 rakaat secara berurutan.

Namun ternyata maksud hadits tersebut ialah, lakukanlah shalat seperti apa yang kalian lihat dariku tentang tatacaranya. Adapun terkait jumlah rakaat, maka tidak teks suci (Al-Quran dan As-Sunnah) yang membatasinya.

Yang jelas, tidak selayaknya bagi seorang muslim untuk bersikap ekstrime terhadap orang lain pada perkara yang memang longgar. Sampai-sampai kami sendiri pernah melihat sebagian ikhwan yang bersikap keras dalam masalah ini; mereka membid’ahkan orang-orang yang menambah rakaat lebih dari 11 rakaat, dan mereka berbondong-bondong keluar masjid yang akibatnya mereka terluput dari pahala yang dijanjikan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

من قام مع الإمام حتى ينصرف كُتب له قيام ليلة

“Sesiapa yang melakukan shalat tarawih bersama imam sampai selesai, maka baginya dituliskan pahala shalat semalam suntuk.” [HR At-Tirmidzi (806) yang dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi (646)]

Terkadang, mereka duduk-duduk jika sudah mencapai 10 rakaat, sehingga mengakibatkan shaf-shaf yang terputus karena mereka duduk. Bahkan terkadang mereka saling ngobrol sehingga mengakibatkan orang lain yang sedang shalat merasa terusik.

Kami tidak meragukan, bahwa apa yang mereka inginkan itu adalah kebaikan. Mereka pun tergolong mujtahid. Akan tetapi tidak semua mujtahid itu pendapatnya selalu benar.

Kelompok keuda, bersikap sebaliknya. Mereka sangat mengingkari orang-orang yang hanya mencukupkan diri dengan 10 rakaat. Kata mereka, kamu telah menyimpang dari konsesus ulama. Padahal Allah berfirman,

ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وساءت مصيراً

‘Siapa yang menyimpang dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- setelah hidayah nyata di matanya, dan mengikuti selain jalan yang ditempuh orang-orang mukmin, kami akan palingkan mereka ke arah di mana mereka berpaling, dan kami akan memasukkan mereka ke Jahannam. Padahal nereka Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.”

Orang-orang sebelum kamu hanya mengetahui 23 rakaat.’

Lalu mereka bersikap keras sekali. Ini pun sikap yang salah.” [Asy-Syarh Al-Mumti’ (IV/73-75)]

Adapun dalil yang dipakai oleh orang-orang yang berpendapat tidak boleh adanya tambahan lebih dari 8 dalam shalat tarawih adalah hadits Salamah bin ‘Abdurrahman, bahwasanya ia bertanya pada ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, “Bagiamankah shalat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada bulan Ramadhan?”

‘Aisyah menjawab:

ما كان يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة يصلي أربعا فلا تسل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي أربعا فلا تسل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي ثلاثا فقلت يا رسول الله أتنام قبل أن توتر قال يا عائشة إن عينيَّ تنامان ولا ينام قلبي

“Pada bulan Ramadhan ataupun yang lainnya, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sama sekali tidak pernah menambah lebih dari 11 rakaat. Beliau shalat 4 rakaat. Jangan tanya bagaiamana bagus dan panjangnya shalat yang dilakukannya. Kemudian beliau shalat 4 rakaat. Jangan tanya bagaimana elok dan panjangnya shalat yang ia kerjakan. Lantas beliau shalat 3 rakaat.

Aku pun bertanay padanya, ‘Apakah adinda tidur sebelum melakukan witir?’

Katanya, ‘Aisyah, sesungguhnya kedua mataku memang tidur, namun hatiku tidak.’” [HR Al-Bukhari (1909) dan Muslim (738)]

Kata mereka, “Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- selalu konsisten pada shalat malam di bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya.”

Para ulama telah menyanggah pendalilan semacam ini, bahwa ini semua semata-mata berdasarkan praktek beliau. Padahal praktek itu tidak bisa difahami sebagai sesuatu yang menunjukkan wajib.

Di antara dalil yang jelas yang memberi pengertian bahwa shalat malam, termasuk juga shalat tarawih, tidak terpaut dengan jumlah rakaat tertentu adalah hadits Ibnu ‘Umar, bahwasannya ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang shalat malam. “Shalat malam itu dua, dua,” jawab Rasulullah, “Namun apabila ada orang yang khawatir masuk waktu shubuh, hendaknya ia shalat 1 rakaat sebagai shalat witir yang menajadi penutup shalat-shalat yang telah dilakukannya.” [HR Al-Bukhari (946) dan Muslim (749)]

Pun ketika memperhatikan pendapat ulama-ulama madzhab yang empat, jelaslah bahwa permasalahan ini bersifat longgar. Sehingga tidak mengapa menambah lebih dari 11 rakaat.

As-Sarakhsi, dari kalangan imam madzhab Hanafi, mengatakan,

فإنها عشرون ركعة سوى الوتر عندنا

“Menurut kami, shalat witir itu 20 rakaat selain witir.” [Al-Mabsuth (II/145)]

Ibnu Qudamah Al-Hanbali mengatakan,

والمختار عند أبي عبد الله ( يعني الإمام أحمد ) رحمه الله ، فيها عشرون ركعة ، وبهذا قال الثوري ، وأبو حنيفة ، والشافعي ، وقال مالك : ستة وثلاثون

“Yang dipilih oleh Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal –rahimahullah- adalah 20 rakaat. Pendapat ini dipegang oleh Sufyan Ats-Tsauri, Abu Hanifah, dan Asy-Syafi’i. sedangkan Imam Malik berpendapat 36 rakaat.” [Al-Mughni (I/457)]

An-Nawawi menyatakan,

صلاة التراويح سنة بإجماع العلماء ، ومذهبنا أنها عشرون ركعة بعشر تسليمات وتجوز منفردا وجماعة

“Menurut kesepakatan ulama, shalat tarawih itu sunnah hukumnya. Menurut madzhab kami, jumlahnya ialah 20 rakaat dengan 10 kali salam. Shalat tarawih boleh dilakukan secara individu maupun berjama’ah.” [Al-Majmu’ (IV/31)]

Demikianlah madzhab yang empat dalam masalah jumlah rakaat shalat tarawih. Mereka semua sepakat membolehkan tambahan lebih dari 11 rakaat. Kemungkinan, sebab mengapa mereka mengatakan boleh menambah lebih dari 11 ialah:

  1. Mereka menganggap bahwa hadits ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha- tidak memberi pengertian batasan dengan jumlah ini (11 rakaa).
  2. Adanya riwayat dari banyak ulama-ulama Salaf bahwa mereka menmabah lebih dari 11.

Priksalah Al-Mughni (II/604) dan Al-Majmu’ (IV/32).

  1. Bahwasannya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- biasa mengerjakan shalat sebanyak 11 rakaat dengan durasi yang sangat panjang. Sampai-sampai memakan waktu lebih dari separuh malam. Bahkan pada suatu malam shalat tarawih Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersama para shahabatnya, beliau belum lagi selesai mengerjakan tarawih meskipun sebentar lagi fajar menyingsing. Para shahabat pun sampai khawatir tidak bisa melakukan sahur. Dahulu, para shahabat sangat senang melakukan shalat di belakang Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dan mereka tidak mintak untuk diperpanjang durasi shalatnya. Maka para ulama berpandangan, bahwa apabila imam shalat memanjangkan durasi shalat sampai batas demikian, akan membuat para makmum merasa berat. Dan boleh jadi menjadi sebab mereka lari. Maka para ulama berpendapat, seyogyanya imam memperingan bacaan namun dengan menambah jumlah rakaat.

Walhasil, barangsiapa yang mempraktekkan 11 rakaat sesuai cara yang datang dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka ia telah dianggap benar dan bersesuain dengan sunnah. Sedangkan orang yang memperingan bacaan shalat dengan menambah jumlah rakaat, ia pun telah bertindak benar. Sehingga tidak perlu menyalahkan orang yang melakukan dua model shalat itu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menagatakan,

والتراويح إن صلاها كمذهب أبي حنيفة ، والشافعي ، وأحمد : عشرين ركعة أو : كمذهب مالك ستا وثلاثين ، أو ثلاث عشرة ، أو إحدى عشرة فقد أحسن ، كما نص عليه الإمام أحمد لعدم التوقيف فيكون تكثير الركعات وتقليلها بحسب طول القيام وقصره

“Apabila shalat tarawih itu dilaksanakan sesuai madzhab Abu Hanifah, Asy-Sayfi’i, dan Ahmad, yaitu 20 rakaat, atau sesuai madzhab Malik, yaitu 36 rakaat,  13 rakaat, atau 11 rakaat, maka itu sudah benar. Hal ini seperti yang ditegaskan oleh Imam Ahmad dengan alas an tidak ada teks suci mengenai ini. Sehingga memperbanyak ataupun menyedikitkan rakaat itu tergantung panjang dan pendeknya bacaan.” [Al-Ikhtiyarat hlm. 64]

As-Suyuthi menutyrkan,

الذي وردت به الأحاديث الصحيحة والحسان الأمر بقيام رمضان والترغيب فيه من غير تخصيص بعدد ، ولم يثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى التراويح عشرين ركعة ، وإنما صلى ليالي صلاة لم يذكر عددها ، ثم تأخر في الليلة الرابعة خشية أن تفرض عليهم فيعجزوا عنها . وقال ابن حجر الهيثمي : لم يصح أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى التراويح عشرين ركعة ، وما ورد أنه ” كان يصلي عشرين ركعة ” فهو شديد الضعف

“Hadits-hadits shahih dan hasan menunjukkan adanya perintah dan motifasi mengerjakan shalat tarawih di bulan Ramadhan tanpa memberikan batasan rakaat. Tidak pernah ada hadits dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau mengerjakan shalat tarawih sebanyak 20 rakaat. Yang ada, beliau shalat malam tanpa menyebut jumlahnya. Kemudian pada malam ke-4 bulan Ramadhan beliau tidak mengerjakan shalat ( tarawih di masjid) karena khawatir apabila itu ia lakukan, umat menganggapnya wajib sehingga mereka pun tidak akan mampu.

Ibnu Hajar Al-Haitami menyatakan, ‘Tidak benar bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- shalat tarawih 20 rakaat. Sedangkan riwayat yang berbunyi, ‘Beliau biasa mengerjakan 20 rakaat,’ maka riwayat itu sangat lemah sekali.’” [Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah (XXIV/142-143)]

Setelah penjelasan ini, kami harap Anda tidak terheran-heran dengan adanya shalat tarawih 20 rakaat. Sebelum mereka, para imam telah terlebih dahulu mempraktekkannya dari generasi ke generasi. Semua itu ada kebaikan di dalamnya. Wallahua’lam.

Sumber: https://islamqa.info/ar/9036

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: