//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj, Bimbingan Islam

Menepis Tuduhan Takfir dalam Dakwah Salafiyyah

salafiyyahDakwah Salafiyyah Ahlussunnah wal Jama’ah merupakan dakwah yang mengusung faham Islam murni seperti yang pernah diajarkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan diteruskan dari masa ke masa oleh para shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan seterusnya. Setelah wafatnya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Islam memancarkan cahayanya begitu pesat ke seluruh seantero dunia. Para khulafa’ bekerja keras menyebarkan nur Islam ke berbagai negeri melalu delegasi-delegasi yang mereka kirim untuk menyampaikan risalah Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- ini. Akhirnya orang-orang dari berbagai latar belakang pun berbondong-bondong memeluk agama Islam.

Kenyataan ini tentu merupakan sebuah pristiwa yang sangat positif. Hanya saja sebagian pemeluk Islam, balum lagi dapat meninggalkan keyakinan lama mereka, sehingga manakala mereka memeluk Islam, belum begitu mahir membedakan mana yang termasuk ajaran Islam murni dan mana ajaran yang datang dari apa yang mereka yakini sebelumnya. Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal munculnya faham menyimpang dalam Islam. Filsafat, misalnya, memiliki peran penting dalam merusak pemahaman orang dalam memahamai Islam yang sesungguhnya. Sehingga tidak ayal jika mayoritas kelompok menyimpang dalam Islam mengadopsi pemikiran filsafat itu. Pemikiran-pemikiran filsafat itu antara lain melahirkan faham bahwa satatus Al-Quran adalah semata makhluk Allah, bukan kalam-Nya, faham wihdatul wujud (Jawa: manunggaling kawulo gusti), faham takdir ala qadariyyah, faham takdir ala jabariyyah, dan seterusnya.

Namun, sebagai mana apa yang dikatakan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Akan ada saja sekelompuk orang dalam tubuh umatku yang terus eksis menyuarakan kebenaran yang sama sekali tidak akan berpengaruh terhadap orang-orang yang menelantarkan mereka,” muncullah ulama-ulama Islam yang senantiasa memberantas kesesatan dan pemikiran menyimpang dalam Islam. Sebut saja, misalnya, Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, Imam Malik bin Anas Al-Ashbahi, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal Asy-Syaibani, Imam Hibatullah Al-Lalika’i –penulis Kitab Syarh I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah-, Imam Ibnu Khuzaimah –penulis Kitab At-Tauhid, Imam Abu Isma’il Ash-Shabuni –penulis Kitab ‘Aqidah As-Salaf Ashabil Hadits-, dan seterusnya.

Di masa berikutnya diteruskan oleh Syaikhul Islam Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdussalam bin Taimiyyah Al-Harrani Al-Hanbali, hingga sampai Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab bin Sulaiman An-Najdi Al-Hanbali.

Tokoh-tokoh pembela ‘aqidah Islam itu muncul dalam masa yang tidak sama, namun situasi yang mereka hadapi hampir mirip, yaitu dalam situasi yang dipenuhi oleh berbagai pemikiran dan praktek menyimpang dalam agama Islam. Sehingga anatara yang benar dan yang salah terus terjadi perdebatan yang hebat yang tak kunjung selesai.

Tulisan ini hanya akan membahas dakwah yang diusung oleh nama terakhir di atas, yaitu dakwah Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab Al-Hanbali –rahimahullah-, beserta tuduhan miring yang diteriakkan oleh para penghambat dakwah Islam yang murni.

Apa yang diusung Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab sesungguhnya adalah dakwah kepada Islam yang murni.

Dalam hidupnya, beliau telah banyak melakukan upaya besar untuk menghalau segala hal yang berbau syirik, bid’ah, khurafat, takhayul, dan ajaran menyimpang lainnya. Kuburan-kuburan megah yang dikramatkan orang-orang, diratakannya dengan dukungan pemerintah di saat itu. Amalan-amalan yang mengandung unsur bid’ah, ditebasnya habis tanpa tersisa.

Hal itu membuat sebagian besar ulama yang merasa pemikirannya dipojokkan, tidak puas dengan berdiam diri. Mereka terus saja berusaha menghalau dakwah Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab. Segala cara mereka tempuh. Termasuk usaha membunuh Syaikh Muhammad.

Benarlah apa yang Allah katakan dalam Al-Quran,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” [QS Al-An’am: 112]

Apabila mereka kehabisan argumen dalam membantah dakwah Syaikh, jurus yang selalu mereka andalkan adalah menciptakan fitnah dan tuduhan yang dialamatkannya kepada Syaikh. Padahal Syaikh terlepas dari segala tuduhan palsu yang mereka tuduhan itu.

Termasuk tuduhan itu ialah menyematkan sebutan dakwahnya dengan nama yang dapat membuat alergi terhadapnya. Apabali kalau bukan istilah “Wahhabiyyah”. Kendatipun, nama ini dimunculkan pertama kalinya oleh penjajah kafir Inggris. Pasalnya, Inggris pun termasuk kelompok yang paling banyak dirugikan oleh dakwah Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab. Karena beliau selalu mengajak kaum muslimin melawan segala bentuk kezaliman di atas muka bumi.

Tuduhan lain yang dimunculkan oleh para penghalau dakwah Islam murni ialah Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dan orang-orang yang sefaham dengannya menganut faham takfir. Maksudnya pengusung dakwah Islam murni itu adalah orang-orang yang suka mengkafirkan umat Islam, atau minimal suka menilai bid’ah amalan kaum muslimin.

Seperti layaknya tuduhan mentah pada umumnya, tuduhan keji ini pun tidak pernah ada buktinya. Sumbernya pun tidak pernah mereka sebutkan. Ini menunjukkan bahwa apa yang mereka katakan itu semata-mata adalah tuduhan dusta yang menyelisi fakta dan realita yang ada.

Untuk memperkuat bahwa mereka hanya sekedar menuduh adalah, apa yang dituduhkan oleh Mustafa Hamdu Al-Hanbali dalam bukunya yang bertajuk “Al-Hanabilah wa Al-Ikhtilaf Ma’a As-Salafiyyah Al-Mu’ashirah” yang artinya “Ulama-ulama Madzhab Hanbali dan Perbedaannya Terhadap Salafiyyah Modern”. Dalam bukunya yang berdurasi 820 halaman itu, antara lain ia menulis (hlm. 170 ):

لم يكن الإمام أحمد بن حنبل جريئًا على تكفير المسلمين كما يفعل أكثرُ السَّلفية المعاصرة، بل كان يتورَّع عن تكفير الفرق الأخرى كالشيعة والمرجئة والخوارج والمعتزلة [هامش: لكنه يكفر الغلاة والمجتهدين منهم]، فما نقول اليوم فيمن يكفرهم – ويستحل دماءهم – ويكفِّر معهم بقية أهل السُّنة والجماعة من الأشاعرة والماتريدية والصوفيَّة؟

“Imam Ahmad bukanlah sosok yang berani mengkafirkan kaum muslimin, seperti yang dilakukan oleh mayoritas orang-orang Salafi modern. Bahkan Imam Ahmad sangat menjauhi sikap mengkafirkan sekte-sekte lain dan pun beliau tidak menganggap darah mereka halal ditumpahkan. Jika demikian, apa yang kita katakan terkait orang-orang yang mereka (Salafi) anggap kafir (semacam Syi’ah, Murji’ah, Al-Khawarij, dan Mu’tazilah) [dalam catatn kaki tertulis: Imam Ahmad hanya menilai kafir sekte ekstrime dan kalangan mujtahid kelompok itu]. orang-orang Salafi pun menilai kafir kalangan Asy’ariyyah, Maturidiyyah, dan Sufiyyah yang nota bene masih Ahlussunnah wal Jama’ah.”

Lihatlah, tuduhan takfir yang disematkan kepada Salafiyyin tidak ada dasarnya. Hingga kita boleh bertanya, “Salafi yang mana yang berpemikiran takfir semacam itu?!”

Justru Salafiyyin memiliki pemahaman sebaliknya. Mereka tetap menganggap kaum muslimin sebagai orang Islam selama masih mempertahankan nilai-nilai keislamannya dan menjauhi segala hal yang dapat membatalkan Islam.

Agar bukti ini tidak sekedar ungkapan tanpa bukti, berikut adalah pernyataan beberapa ulama yang dianggap sebagai ‘sesepuh’ Salafiyyin.

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab Al-Hanbali menulis,

وأمَّا الكذب والبهتان ، فمثل قولهم: إنا نكفِّر بالعموم، ونوجب الهجرة إلينا على مَن قدر على إظهار دينه، وأنا نكفِّر من لم يكفِّر ومن لم يقاتل، ومثل هذا وأضعاف أضعافه. فكل هذا من الكذب والبهتان الذي يصدون به الناس عن دين الله ورسوله. وإذا كنَّا لا نكفِّر مَن عبَد الصنم الذي على قبر عبدالقادر، والصَّنم الذي على قبر أحمد البدوي، وأمثالهما، لأجل جهلهم وعدم من ينبههم؛ فكيف نكفر من لم يشرك بالله إذا لم يهاجر إلينا، ولم يكفِّر ويقاتل؟ سبحانك هذا بهتان عظيم

 “Adapun tuduhan dusta dan fitnah, maka seperti apa yang mereka tuduhkan, bahwa kami menilai seluruh kaum muslimin telah keluar dari agama Islam, kami mengharuskan kaum muslimin yang mampu menampakkan keislamannya melaksanakan hijrah kepada kami, dan kami mengkafirkan orang yang enggan mengkafirkan dan menolak memerangi (mereka yang dianggap kafir). Tuduhan-tuduhan semacam ini sangat menjamur. Padahal ini semua hanyalah fitnah belaka yang dijadikan sebagai alat untuk membuat orang-orang terhalang dari agama Allah dan Rasul-Nya.

Apabila kami tidak menilai kafir orang-orang yang menyembah berhala yang dibangun di atas kuburan-kuburan, patung yang dibangun di atas kuburan Ahmad Badawi, dan semisalnya, lantaran ketidaktahuan dan ketidaksadaran mereka akan hal tersebut, bagaimana mungkin kami menilai kafir orang yang tidak sensekutukan Allah hanya karena ia tidak mau berhijrah kepada kami dan tidak turut memerangi orang-orang yang dianggap kafir?!

Mahasuci Engkau, ya Allah. Sesungguhnya ini hanyalah fitnah belaka.” [Lihat pernyataan ini dalam Fatawa wa Masail yang dicetak bersama Muallafat Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab (IV/11)]

Syaikh Muhammad Nashiruddin bin Nuh Najati Al-Albani menyatakan,

علماء السَّلف -كما تعلمون- يُضلِّلون المرجئة، ويُضلِّلون المعتزلة، لكنَّهم لا يكفرونهم

“Para ulama Salaf –seperti yang telah kalian ketahui- memang menganggap sesat sekte Murji’ah dan menilai menyimpang kelompok Mu’tazilah. Namun demikian, mereka tidak menganggap mereka kafir.” [Dengarkan pernyataan ini dalam Durus Al-Albani (XXXXII/10)]

Dalam kesempatan yang lain, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsamin –rahimahullah- mengatakan,

وبه نعرف خطأ بعض الناس الذين صار التَّكفير عندهم سهلًا حتى في الأمور الاجتهاديَّة التي لا يُضلَّل فيها المخالف، تَجدهم يُكفِّرون مَن خالفهم، وهو أمرٌ خطيرٌ جدًّا، فالواجب على المرء أن يتَّقي الله عزَّ وجلَّ في هذه المسألة، وألَّا يُكفِّر إلَّا من دلَّ الكتاب والسُّنة على كفره، ومع هذا فإن العمل أو القول قد يكون كفرًا، ويكون العامل أو القائل معذورًا بجهل أو تغرير؛ فيحتاج إلى إقامة الحُجَّة عليه قبل أن يُحكَم بكفره، وليعلم أنَّ وصف الإنسان بالكفر أو الإيمان ليس موكولًا إلى الناس، ل هو موكول إلى كتاب الله وسنَّة رسوله صلَّى الله عليه وسلَّم، فما دلَّ الكتاب والسُّنة على أنَّه من الكفر، فهو كفر، وما لا دليل فيه من الكتاب والسُّنة على أنَّه كفر، فلا يجوز لأحد أن يجعله كُفرًا

“…dengan demikian kita mengetahui kesalahan sebagian orang yang terlalu mudah menilai kafir, meski dalam permasalahan yang diperkenankan ada ijtihad yang berarti orang yang tidak sependapat dalam masalah tersebut tidak dinilai sesat. Kita jumpai mereka –orang-orang yang mudah mengkafirkan- menganggap kafir orang yang tidak sefaham dengan mereka. Tentu ini merupakan masalah yang bahaya sekali. Karena itu, kewajiban seorang muslim adalah takut pada Allah dalam menghadapi masalah ini, dan tidak minilai kafir kecuali orang-orang yang sudah ditegaskan akan kekafirannya oleh Al-Quran dan As-Sunnah.

Meski demikian, boleh jadi ada ucapan dan perbuatan yang bernilai kufur, namun pelakunya dimaafkan karena ketidaktahuannya akan hal tersebut dan terlena. Maka yang seperti ini butuh hujjah dan keterangan yang harus disampaikan pada orang yang bersangkutan sebelumnya dirinya dinilai kufur.

Seyogyanya dapat difahami, bahwa menilai orang kafir ataupun mukimin itu tidak benar digantungkan pada manusia, namun penilaian itu digantungkan pada Al-Quran dan As-Sunnah. Oleh sebab itu, apabila Al-Quran dan As-Sunnah menilai seseorang kafir, maka di saat itu ia dinilai kafir. Sedangkan orang yang tidak dinilai kafir oleh Al-Quran dan As-Sunnah, maka tidak ada yang diperkenankan menilainya kafir.” [Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb (VI/2)]

Demikianlah pernyataan tegas imam-imam dakwah Ahlussunnah wal Jama’ah Salafiyyah akan permasalahan menilai kafir. Dari situ, Anda dapat menyimpulkan bahwa dakwah Salafiyyah bukanlan dakwah yang mengajak orang lain mudah menghukumi kafir atau  membunuh orang, justru dakwah Salafiyyah adalah dakwah yang mengajak orang lain selalu mewaspadai sikap mudah mengkafirkan dan menumpahkan darah sesama muslim hanya karena berbeda pandangan dalam perkara ijtihad.

Adapun tuduhan bahwa Salafiyyah suka dan mudah mengkafirkan, maka kenyataannya sudah ada di depan mata Anda.

“Tidak ada paksaan dalam beragama. Karena kebenaran dan kesesatan itu sudah nyata.”

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: