//
you're reading...
Biografi Ulama, Sejarah Islam

Kesaksian Jalaluddin Faqih Shaghir : Memandang Gerakan Paderi dari Sisi yang Berbeda (2)

karyawisata-budaya-alam-minangkabauRingkasan Isi Naskah
Pada permulaan naskah ini, Faqih Shaghir memotret bagaimana merosotnya akhlak orang-orang Minang saat itu dan jauhnya mereka dari ajaran Islam. Faqih Shaghir menulis bahwa mereka “mengerjakan lalim aniaya, menyamun dan menyakar, melaka´ dan melakus, maling dan mencuri, menyabung dan bejudi, minum tuak dan minum kilang, memakan sekalian yang haram, merabut dan merampas, tidak berbezo halal dan haram, larangan dan pegangan, dan mau berjual orang; dan jikalau ibunya dan syaudaranya sekalipun, dan banyaklah orang dagang dirampasnya dan dijualnya.”

Selanjutnya,

Faqih Shaghir menceritakan bagaimana gigihnya Tuanku Nan Tuo dalam menegakkan ajaran-ajaran Islam dan menasihati umat pada saat itu. Tuanku Nan Tuo, dengan segenap kemampuannya, mencoba untuk sedikit demi sedikit melakukan amar ma’ruf nahi munkar, menasihati kaumnya untuk terus menjalankan syariat Islam serta semaksimal mungkin mencegah kemungkaran dan kezholiman yang marak terjadi saat itu. Keteguhan Tuanku Nan Tuo inilah yang membuatnya sangat disegani. Faqih Shaghi memujinya dengan berkata,”Maka terlebih sangatlah masyhur Tuanku nan Tuho ulama yang pengasih lagi penyayang, tempat pernaungan segala anak dagang, ikutan segala sidang imam syari`at ahlulsunah dan ahluljamaah sultan alim aulia´ Allah `alaihi al-darajat wa-l-ratibat fi’ddarain.”

Sejarawan Minang – Buya HAMKA – sendiri mengakui jasa-jasa Tuanku Nan Tuo ini. Beliau menyatakan , “Telah banyak jasa orang tua itu memperkaya adat istiadat Minangkabau dengan Agama Islam. Pernah Beliau menyusun Tambo Alam Minangkabau dengan dasar Agama Islam. Hukum-hukum agama Islam banyak dijadikan Hukum Adat. Maka pekerjaan seperti inilah yang harus diteruskan.”
Faqih Shaghir kemudian menceritakan bagaimana kemudian Tuanku Nan Tuo, dirinya, dan murid-murid gurunya yang lain dalam menegakkan syariat Islam di tanah Minang. Salah seorang murid Tuanku Nan Tuo yang masyhur saat itu yang ikut berjuang selain Faqih Shaghir sendiri adalah Tuanku Nan Renceh. Faqih Shaghir menceritakan bagaimana dirinya dan Tuanku Nan Renceh membuat permufakatan untuk menegakkan agama Allah. Beliau menulis :
“Maka sebab itu jua digarakkan Allah terbitlah dalam pikir hati saya, Fakih Saghir, yaitu hendak mendirikan agama Allah dan agama Rasullah, dan membaiki tertib dan wara`, dan membuangkan sekalian perbuatan yang jahat dan perangai yang kaji, dan berbaiki tempat dan mesjid dan sekalian pekerjaan yang dik.´.f.n.y (tidak jelas dalam naskah – red) syara` pula adanya. Maka setelah itu jua mufakatlah saya dangan Tuanku nan Renceh hendak mendirikan pekerjaan itu. Itu pun Tuanku nan Renceh terlebih sangat berahi dan berapa2 kali mufakat, beria2 jua sambil duduk bersanang2 mehafazkan ilmu. Pada masa itu ia lai dimasyhurkan orang dangan Khatib Jobahar adanya.”
Perjuangan dakwah menegakkan syariat tersebut mendapat tantangan yang kuat juga dari masyarakat ada. Tak jarang mereka bertiga menjadi sasaran kekerasan. Madrasah Faqih Shaghir pun beberapa kali diserang. Namun, gerakan dakwah yang telah dirintis itu mendapat tambahan energi setelah pulangnya tiga Haji dari Makkah, yakni Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang. Haji Miskin dan kawan-kawannya ikut menggerakkan gelombang dakwah penegakan agama Allah di tanah Minang.
Faqih Shaghir menceritakan bagaimana gelora dakwah meningkat sepulangnya Haji Miskin dkk dengan menyatakan,
“Maka daripada karena banyak mendengar khabar daripada hal pekerjaan orang Mekah Medinah, bertambah2lah berahi hati mendirikan agama Allah dan agama Rasullah, dan bersungguh2lah orang mendirikan sembahyang hingga sempurna jema`at empat puluh orang. Maka telah lama sedikit antaranya, pulanglah Tuanku Haji Miskin ke nagari Pandai Sikat, dan bersungguh2 ia mendirikan agama serta ia berbaiki tempat adanya. Maka terlebih sangat pulalah masyhur pekerjaan Tuanku Haji Miskin, dan banyaklah orang mendirikan agama pada barang mana nagari adanya. Maka daripada mula2 pulang Tuanku Haji Miskin di negeri Mekah Medinah hingga orang ketumbuhan banyak habis, sembilan tahun kamariah lamanya.”

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: