//
you're reading...
Biografi Ulama, Sejarah Islam

Kesaksian Jalaluddin Faqih Shaghir : Memandang Gerakan Paderi dari Sisi yang Berbeda (3)

minangOleh: Wahyu Indra Wijaya
Gerakan dakwah yang semakin meningkat itu beriringan dengan meningkatnya perlawanan dari Kaum Adat. Tak sedikit memicu timbulnya gesekan fisik antara keduanya. Didorong oleh perbedaan sikap dalam menghadapi tekanan-tekanan tersebut, akhirnya gerakan paderi terbelah menjadi dua. Satu pihak masing mencoba bersabar dan berusaha menggunakan cara lemah lembut serta sebisa mungkin menghindari konflik terbuka dengan kaum Adat. Pihak ini dibawah komando Tuanku Nan Tuo dan Faqih Shaghir. Di lain pihak, Tuanku Nan Renceh dan Harimau Nan Salapan menginginkan metode dakwah yang lebih keras. Sudah cukup kaum Adat dinasihati dengan lemah lembut,

sudah cukup bersabar menghadapi tekanan-tekanan dan serangan dari Kaum Adat, maka inilah saatnya untuk bersikap keras dan melayani tantangan konflik terbuka.

Menurut Faqih Shaghir, perpecahan ini semakin menjadi setelah peristiwa dirampoknya Tuanku Terabi dari Kota Baharu dan meminta tolong kepada Tuanku Nan Renceh untuk membelanya. Tuanku Nan Renceh mengambil momentum ini. Dengan dilandasi semangat amar ma’ruf nahi munkar, Beliau kemudian memberi ancaman kepada sebuah kampung yang diduga menjadi tempat tinggal para perampok. Faqih Shaghir mengisahkan :
“Daripada mendangar kata seperti demikian itu pun, Tuanku2 suka mengerjakan sekarang itu jua menyuruh orang banyak meminta´ kembali arta. “Jikalau ia anggak mengembalikan, lebih baiklah kita lawan parang supaya nak lahir teguh agama Allah dan agama Rasullah.” Maka berdirilah Tuanku2 serta orang banyak menyarang kampung orang aniaya itu. Maka daripada sangat karas kelahi dan bantah serta banyak luka dan patah, sampailah berparang2, lalu kepada mati dan memunuh. Maka dimasyhurkannyalah parang itu parang agama namanya.”
“Perang Agama” berlangsung keras dan lama serta memakan banyak korban. Pasukan Tuanku Nan Renceh mengepung habis kampung tersebut tanpa ampun. Akhirnya, Tuanku Nan Tuo – sesepuh yang sangat dihormati Tuanku Nan Renceh – turun tangan. Kedua belah pihak didamaikan. Tuanku Nan Renceh dan pasukannya bersedia menuruti perkataan Tuanku Nan Tuo. Faqih Shaghir menulis, “Jikalau tiada Allah ta`ala menguatkan dan tidak takut mereka itu kepada Tuanku nan Tuho, sebab ada jua Tuanku nan Tuho tiang pekerjaan, niscaya mehabiskan mereka itu akan kaum Tuanku nan Renceh semuhanya dangan sekira2 memandang lahir kelakuan parang. Tetapi kepada Allah ta`ala kembali pekerjaan semuhanya.”
Keadaan damai hanya berlangsung sebentar. Kaum Adat membuat ulah lagi. Kali ini lebih ganas : mereka menculik lima orang keponakan Tuanku Nan Renceh dan dibawanya ke Nagari Bukit Betabuh. Faqih Shaghir menyesali sikap kaum adat ini dengan menyebutnya sebagai “sebesar-besar fitnah selama-lamanya.” Kaum Adat seperti membangunkan macan tidur. Tuanku Nan Renceh naik pitam. Beliau dan pasukannya kemudian mengepung Bukit Betabuh dan akhirnya menculik dua orang penduduknya. Pengepungan kemudian tetap dilanjutkan, sampai kemudian penduduk Bukit Betabuh akhirnya meminta tolong kepada Tuanku Nan Tuo. Mereka meminta ampun kepada Beliau dan berjanji untuk menjalankan syariat Islam dengan lurus. Tuanku Nan Tuo menerima syarat itu dan kemudian – sekali lagi – mendamaikan Tuanku Nan Renceh dengan Kaum Adat.
Gesekan-gesekan antara Tuanku Nan Renceh dengan Kaum Adat tidak berhenti disitu. Metode dakwah Tuanku Nan Renceh yang lugas tanpa basa basi sangat tidak disukai oleh Kaum Adat. Ujung-ujungnya, bentrokan-bentrokan fisik antara kedua kubu sangat sering terjadi. Perlawanan Kaum Adat ini membuat Tuanku Nan Renceh semakin yakin bahwa tak ada cara lain untuk menyadarkan mereka kecuali dengan mengibarkan bendera perang.
Tuanku Nan Renceh kemudian mendapat amunisi tambahan dengan bergabungnya Haji Sumanik. Faqih Shaghir menulis bahwa Haji Sumanik lah yang mengajarkan perang dengan menggunakan api. Maka dibakarlah Nagari Durian dan Nagari Tilatang sehingga ribuan penduduknya terbunu, tertawan lalu dijual sebagai budak. Banyak juga penduduknya yang mengungsi ke Ampek Angkek. Saat itu, Tuanku Nan Renceh sudah mengendalikan lima Nagari di bawah kekuasaanya, yakni Nagari Kamang Bukit, Salo, Mage, dan Kota Baharu.
Nagari Kurai menjadi sasaran selanjutnya. Namun akhirnya selamat atas pertolongan dari Tuanku Nan Tuo yang meminta kepada Tuanku Nan Renceh supaya penduduk Kurai tidak ada yang ditawan dan dibunuh. Namun Tuanku Nan Renceh tetap membumihanguskan Nagari Kurai meski telah ditinggal penduduknya. Faqih Shaghir menceritakan apa yang dialami penduduk Nagari Kurai,
“Maka segiralah Tuanku nan Tuho meminta´ kembali orang Kurai ke nagarinya. Mereka itu pun suka kembali, serta mereka itu memotong kerbau, memanggil Tuanku nan Tuho supaya bersanang2 mereka itu tinggal dalam nagarinya. Maka Tuanku nan Tuho me´ajarkan kalimat tobat. Mereka itu pun mengucap dia serta suka mereka itu menjujung titah Allah dan titah Rasullah. Itu pun telah sempurnalah pekerjaan itu.”
“Perang Agama” berlanjut. Tuanku Nan Renceh menjadikan Nagari Padang Tarab sebagai sasaran selanjutnya. Kali ini, Tuanku Nan Renceh meminta bantuan Tuanku Nan Tuo. Tuanku Nan Tuo bersedia membantu dan mengerahkan orang-orang Agam untuk membantunya. Akhirnya Nagari Padang Tarab kalah. Tuanku Nan Renceh – dengan tanpa sepengetahuan Tuanku Nan Tuo – menghukum mati ribuan penduduknya. Sisanya ditawan dan dijadikan budak serta dijual. Tuanku Nan Tuo marah besar setelah mengetahui hukuman yang dijatuhkan oleh Tuanku Nan Renceh. Perbedaan antara keduanya semakin meruncing. Faqih Shaghir menceritakan, “Maka sebab itulah sangatlah marah Tuanku nan Tuho kepada Tuanku nan Renceh dan kepada sekalian Tuanku2. Dan bersungguh2lah Tuanku nan Tuho melarangkan orang terjual dan menagahkan me´alahkan nagari dan membakar dia.”

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: