//
you're reading...
Biografi Ulama, Sejarah Islam

Kesaksian Jalaluddin Faqih Shaghir : Memandang Gerakan Paderi dari Sisi yang Berbeda (4)

gadangOleh: Wahyu Indra Wijaya
Setelah konflik antara Tuanku Nan Tuo dengan Tuanku Nan Renceh makin lama makin memuncak, muncul ide untuk melakukan islah. Faqih Shaghir menjadi perantaranya. Dikumpulkanlah seluruh Tuanku-Tuanku bersama dengan Tuanku Nan Tuo untuk membahas masalah yang genting ini. Mari kita simak jalannya pertemuan itu sebagaimana diriwayatkan oleh Faqih Shaghir :
“Maka sampailah berhimpun Tuanku2 pada hari Sabtu itu jua. Setelah itu mufakatlah Tuanku2 hendak menyampaikan bicara kepada Tuanku nan Tuho.

Maka kata Tuanku2 di hadapan Tuanku nan Tuho ya`ni, “Ampunlah kami di bawah tapak kaki hadirat Tuanku. Seboleh2 yang lagi akan datang ini, sebaik2nyalah tinggal Tuanku di dalam mesjid kendiri. Tuanku me´ajarkan ilmu seperti dahulu jua. Biarlah kami berjalan2 ke kiri dan ke kanan, menyampaikan suruh Allah dan suruh Rasullah. Boleh-boleh kami perangi di mana nagari yang menyalahi agamanya dalam pulau ini. Dan kami hantarkan pula ke hadapan Tuanku akan hadiah dan sedekah serta ketudukkan siapa2 orang nan mau mengikut agama ini.” Maka jawab Tuanku nan Tuho, “Mengapa bicara kamu seperti demikian? Adakah tiada pada tiap2 suatu nagari dalam Luhak nan Tigo ini atau lainnya dua puluh orang mu`min, atau dua belas mu`min, atau berempat mu`min, atau seorang mu`min?” Maka jawab mereka itu, “Tidak sunyi pada tiap2 nagari dalam luhak ini, dan jikalau seorang mu`min sekalipun melainkan ada jua hanya.” Maka kata Tuanku nan Tuho, “Adakah harus me´alahkan nagari dan membakar dia dan padanya seorang mu`min?” Maka jawab mereka itu, “Tidak harus.” Maka [kata Tuanku nan Tuho], “Bagaimanalah bicara kamu seperti demikian juga?!” Maka mereka itu diam semata2 daripada menjawab, tetapi hingga seketika. Maka terbitlah jawab daripada setengah mereka itu, “Jikalau ada pekerjaan seperti demikian, sekarang sukalah kami berhenti, dan tobatlah kami daripada berbuat bicara yang demikian itu.” Maka kata Tuanku nan Tuho, “Tidak percaya aku akan bicara kamu, jikalau tidak mendatangkan kamu akan sumpah.” Maka sebab itu sekarang me`ikrarkan tiap2 daripada mereka itu akan sumpah, ya`ni mengata tiap2 seseorang daripada mereka itu, “Dami Allah, dami Rasullah, dami bumi dan langit, syurga dan naraka, sesungguhnya sebenarnya tidak lagi kami akan me´alahkan tiap2 nagari dalam luhak ini dan membakar dia, hanya semata2 menyuruh saja hal adanya di belakang.”

Nukilan percakapan di atas menggambarkan bagaimana sebenarnya titik perbedaan metode dakwah antara Tuanku Nan Tuo dengan Tuanku Nan Renceh dkk. Tuanku Nan Tuo sangat mendukung gerakan dakwah Islam agar syariat Islam ditegakkan di bumi Minang, namun Beliau juga sangat menentang jika dakwah itu dilakukan dengan cara-cara keras seperti berperang, membakar kota, membunuh, dan menawan. Beliau berprinsip bahwa selama masih ada seorang mukmin di suatu kota maka tidak boleh kota tersebut diperangi. Ini berbeda dengan Tuanku Nan Renceh dkk yang berpandangan lebih revolusioner bahwa tak ada cara lain untuk menegakkan syariat selain dengan memerangi Kaum Adat, karena Kaum Adat sendiri sudah sangat kelewatan dalam meremehkan syariat dan selalu menentang segala upaya dakwah baik secara lisan maupun kekerasan.
Perbedaan antara Tuanku Nan Tuo dengan Tuanku Nan Renceh tak bisa disatukan lagi. Keputusan penting akhirnya diambil Tuanku Nan Renceh. Beliau memilih memisahkan diri dengan Tuanku Nan Tuo serta tidak lagi memandangnya sebagai “Imam Besar” gerakan Paderi. Tuanku Nan Renceh dkk memilih Tuanku di Mansiang sebagai “Imam Besar” baru. Tuanku di Mansiang sendiri sebenarnya merupakan murid senior dari Tuanku Nan Tuo. Hanya saja Beliau menyetujui metode dakwah Tuanku Nan Renceh.
Faqih Shaghir kemudian menceritakan bahwa setelah pemisahan diri itu, Kaum Paderi pimpinan Tuanku Nan Renceh tak sungkan-sungkan untuk melecehkan dan menghina Tuanku Nan Tuo dan orang-orang yang sependapat dengannya. Tuanku Nan Tuo mereka juluki dengan “Rahib Tuo”, sedangkan Faqih Shaghir mereka juluki sebagai “Raja Kafir dan Raja Yazidi”. Tak tahan dengan julukan-julukan penghinaan ini, Faqih Shaghir menulis, “Tetapi sebab tekabur mereka itu dan mehinakan mereka itu akan guru mereka itu dan menamai mereka itu akan Tuanku nan Tuho seperti demikian, barangkali mereka itu kafir dalam kitab Allah dan isi naraka jahanam pada akhirat, jika* tidak tobat mereka itu wa ilallahi terja’ul umur.”

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: