//
you're reading...
Biografi Ulama, Sejarah Islam

Kesaksian Jalaluddin Faqih Shaghir : Memandang Gerakan Paderi dari Sisi yang Berbeda (5)

karyawisata-budaya-alam-minangkabauSetelah perpecahan ini, Kaum Paderi pimpinan Tuanku Nan Renceh melanjutkan “perang agama” yang diyakininya. Nagari Disisi lain, Tuanku Nan Tuo tetap teguh dengan metode dakwah yang Beliau yakini, dan selalu mencoba mengedepankan cara-cara damai dan menghindari kekerasan dalam berdakwah. Konflik memuncak dan berakhir tragis. Tuanku Nan Renceh dkk memutuskan untuk menyerang dan mengepung Nagari Kota Tuo, tempat dimana Tuanku Nan Tuo, Faqih Shaghir, keluarga dan murid-muridnya tinggal di dalamnya. Kita biarkan Faqih Shaghir menceritakan kisah tragis ini :
“Maka sekira2 empat tahun lamanya tidak jua te`alahkan kampung yang sedikit itu, terbitlah bicara setengah mereka itu, “Jikalau tidak mati jua Fakih Saghir ini, tidak mumkin kita me´alahkan kampungnya dan tidak ia mau tunduk kepada kita. Barangkali di belakang banyak2lah menola dan berbuat kampung seperti kampungnya ini.

Dan banyak persalahan tiap2 nagari, sebab banyak mereka itu sakit2 hati. Dan tidak takut mereka itu akan dialahkan, sebab taguh tempat kediaman mereka itu seperti kampung Fakih Saghir ini. Dan hampir mereka itu melawan kepada segala Tuanku2, dan tidak mau mereka itu menurut hukum Tuanku hanya kebanyakkan mereka itu menurut pendapat Fakih Saghir saja. Maka binasalah agama kita dan terlebih baik jualah kita beperdayakannya, ya`ni daya itu bersungguh2 kita meminta´ paham bepersuatukan hukum kitab Allah. Kita suruh sampaikan kabar pekerjaan itu kepadanya. Jikalau lebih terang kitabnya, kita sukakan menurut dia. Mudah-mudahan mau ia menurut bicara itu. Sebab itu Fakih Saghir itu lebih sangat bersungguh2nya menuntub keterangan memfaham kitab Allah, karena kesudah2an keterangan kitab Allah itu tempat kepeliharaan dirinya dan artanya. Maka terlebih sukalah ia dibawa kepada barang mana tempat di luar nagarinya; ketika itu mudahlah kita memunuh dia.”

“Maka setelah dihiaskan Allah daya itu ke dalam hati mereka itu, bersungguh2lah mereka itu memasang bicara itu. Fihak kepada diri saya, Fakih Saghir, tidak mengetahui saya akan daya itu, hanya semata2 mengembalikan kepada Allah ta`ala saja. Maka telah sempurna daya mereka itu, dan memanggil mereka itu akan saya juga, keluarlah saya serta Tuanku nan Tuho dan serta beberapa orang yang mengiringi. Ketika itu memunuhlah mereka itu akan sekalian anak2 Tuanku nan Tuho serta orang yang mengiringi itu, sembilan orang banyaknya; dan tidak sampai daya mereka itu kepada saya dangan tolong Tuhan subhanahu wa ta`ala adanya, dan tinggallah Tuanku nan Tuho serta saya. Barangkali sebab Allah ta`ala meluluskan hukumnya jua, maka melepaskan Allah ta`ala dangan tolongnya akan hambanya yang mu`min, lagi sabar, lagi pilihan.”
Tewasnya anak, keluarga serta murid-murid Tuanku Nan Tuo itu mau tak mau membuat Tuanku Nan Tuo dan Faqih Shaghir kali ini mengambil sikap keras. Kesabaran telah sampai pada puncaknya. Tuanku Nan Tuo dan Faqih Shaghir akhirnya mengangkat senjata. Tuanku Nan Renceh dan Harimau Nan Salapan harus diperangi. Mereka telah melampaui batas. Kembalilah keduanya ke Nagari Kota Tuo untuk menyusun kekuatan. Tak ada cara untuk menyadarkan Kaum Paderi agar kembali ke jalan yang benar kecuali dengan diperangi. Perang berkobar, hingga kemudian Kompeni Belanda mendarat di tanah Minang. Babak baru segera dimulai.
Pada akhir Naskah, Faqih Shaghir mencoba untuk memberikan penilaian objektif terhadap Kaum Paderi dan Kaum Adat. Beliau sebutkan plus minus masing-masing kubu.
“Kemudian lagi pula bermula kesudah2an simpan keterangan cerita ini, baiknya dan jahatnya daripada fihak keduanya, yaitu adapun yang baik sebalah Tuanku2 Pedari ialah mendirikan sembahyang, dan mendatangkan zakat dan puasa pada bulan Ramadan, dan naik haji atas kuasa, dan berbaiki mesjid dan berbaiki labuh tepian, dan memakai rupa pakaian yang halal, dan menyuruhkan orang menuntub ilmu, dan berniaga. Adapun sekalian yang jahat daripada Tuanku Paderi menyiar membakar, dan menyahkan orang dalam kampungnya, dan memunuh orang dangan tidak hak, yaitu memunuh segala ulama, dan memunuh orang yang berani2, dan memunuh orang yang cerdik cendaki, sebab ber`udu atau khianat, dan merabut dan merampas, dan mengambil perempuan yang bersuami, dan menikahkan perempuan yang tidak sekupu dangan tidak relanya, dan menawan orang dan berjual dia, dan bepergundi´ tawanan, dan mehinakan orang yang mulia2, dan mehinakan orang tuha, dan mengatakan kafir orang beriman, dan mencala dia.”
“Adapun sekalian yang baik daripada sebalah orang yang hitam meikrarkan dirinya Islam dan mehentikan rabut rampas, dan mehentikan siar bakar, dan mehentikan tikam bunuh, tetapi hingga mulut semata2. Itulah amal yang jahat sekali2, sepuluh ganda lagi jahatnya amal sekalian orang nan hitam ini, yaitu menyamun dan menyakar, maling dan curi, merabut dan merampas, berjual orang, minum tuak dan minum kilang, memakan darah kerbau, dan memakan daging dangan tidak disembalih, dan memakan ulat dan sirangka´, memakai sekalian yang haram, menyabung dan bejudi, bekendak, dan mehisap madad, dan sekhalwat dangan perempuan dangan tidak nikah, dan membinasakan mesjid, dan membinasakan labuh dan tepian, dan membinasakan larangan dan pegangan, dan berputar2 akal, dan berdusta2 dan mehukum antara segala mahanusia dangan aniaya, dan meninggalkan sembahyang, dan enggan mengeluarkan zakat, dan beperganda2kan emas dangan tidak berniaga, dan meubah2kan janji antara segala mahanusia dan berbuat sekalian pekerjaan yang melalaikan amal dunia dan akhirat. Itulah hukum yang tetap dalam kitab Tuanku nan Tuho adanya.”
Selanjutnya, Faqih Shaghir menuliskan wasiat Tuanku Nan Tuo kepadanya di akhir hayatnya: Wasiat Tuanku nan Tuho kepada saya, Fakih Saghir, sebagai lagi bahwa inilah suatu keterangan daripada segala ihwal diri saya, maka adalah tatkala hampir ajal Tuanku nan Tuho, ialah meninggalkan petaruh kepada saya, yaitu, “Hendaklah engkau dirikan agama Allah dan agama Rasullah dangan sebenarnya. Dan suruhkan diengkau akan segala mahanusia dangan berbuat baik. Dan tagahkan diengkau akan mereka itu dangan berbuat jahat, dan hukumkan diengkau antara segala mahanusia dangan adil, tuntubkan diengkau akan balas segala anak saya yang mati masa dahulu.”
Terlihat jelas, bagaimana peristiwa terbunuhnya anak-anaknya sangat membekas di hati Tuanku Nan Tuo hingga Beliau berwasiat untuk menuntut balas atas kematian mereka.

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: