//
you're reading...
Biografi Ulama, Sejarah Islam

Kesaksian Jalaluddin Faqih Shaghir : Memandang Gerakan Paderi dari Sisi yang Berbeda (6)

gadangOleh: Wahyu Indra Wijaya
Objektivitas Faqih Shaghir
Gambaran gerakan Paderi sebagaimana yang diceritakan oleh Faqih Shaghir terlihat negatif. Kaum Paderi digambarkan sebagai orang-orang yang sangat keras, gemar membunuh, menawan, dan membakar kota. Pada beberapa kalimat, Faqih Shaghir menuduh mereka sebagai orang-orang yang sering berpura-pura, lahirnya terlihat menghormati Tuanku Nan Tuo, namun batin mereka mengingkarinya. Faqih Shaghir juga menyebut Kaum Paderi suka menghinakan ulama dan orang tua, serta berpaham takfir. Lebih keras lagi, Faqih Shaghir menyatakan bahwa mereka akan terjatuh dalam kekafiran dan menjadi isi neraka Jahannam jika mereka tidak bertaubat. Cerita-cerita yang dibangun oleh Faqih Shaghir inilah yang kemudian menjadi salah satu bahan utama bagi sebagian kalangan yang kontra terhadap Kaum Paderi.

Lalu sejauh mana kita bisa mempercayai cerita dari Faqih Shaghir tersebut ?

Kita perlu menilik latar belakang Faqih Shaghir menulis ceritanya tersebut. Dan untuk tujuan tersebut, kita bisa dapatkan isyaratnya pada paragraf terakhir dari naskah ini. Faqih Shaghir menulis : “Dan kini tuan2 orang Kompeni sudah tahu, maka itulah besarnya pekerjaan seperti hukum yang sabit dalam surat keterangan ini, dan diri saya ini nyatalah kesudah2han daif mahanusia. Sebab itu dangan seboleh2nya perminta saya, hendaklah tuan tolong jua saya menguatkan pekerjaan yang dipetaruhkan Tuanku itu. Waila’Llah turja`ulumur.”
Isyarat dalam kalimat di atas jelas. Naskah ini adalah semacam surat keterangan/pernyataan yang dibuat oleh Faqih Shaghir dengan tujuan untuk meminta bantuan kepada Kompeni Belanda. Bantuan apa yang dibutuhkan oleh Faqih Shaghir dari Kompeni ? Dari susunan cerita jelas terlihat bahwa Faqih Shaghir meminta bantuan Kompeni untuk melaksanakan wasiat dari Tuanku Nan Tuo. Paragraf yang menyebut permintaan tolong kepada Kompeni ini sendiri terletak tepat setelah Faqih Shaghir menyebutkan wasiat Tuanku Nan Tuo sebagaimana disebut di atas.
Kita ketahui, Tuanku Nan Tuo mewasiat beberapa hal. Pertama, wasiat untuk mendirikan agama Allah dan Rasulullah dengan sebenarnya. Kedua, wasiat agar tetap beramar ma’ruf nahi munkar. Ketiga, wasiat untuk memberikan hukum di antara manusia dengan adil. Keempat, wasiat untuk menuntut balas atas kematian anak-anak Tuanku Nan Tuo yang tewas dibunuh oleh Kaum Paderi.
Tentu saja Faqih Shaghir tidak akan meminta bantuan kepada Kompeni untuk melaksanakan wasiat pertama, kedua, dan ketiga karena Kompeni adalah non-muslim. Dari sini jelaslah, bahwa bantuan yang dimintakan kepada Kompeni adalah untuk melaksanakan wasiat keempat, yakni memerangi Kaum Paderi untuk menuntut balas atas kematian anak-anak Tuanku Nan Tuo.
Setelah kita ketahui latar belakang penulisan naskah ini, mudah bagi kita untuk menebak sejauh mana objektivitas Faqih Shaghir dalam tulisannya. Beliau menulisnya untuk memohon bantuan. Dan umumnya orang ketika meminta bantuan kepada seseorang untuk membantunya melawan orang lain adalah orang tersebut akan semaksimal mungkin menggambarkan hal-hal negatif yang ada pada diri orang lain tersebut dan sebisa mungkin dengan gambaran negatif tersebut maka orang yang dimintai bantuan tersebut benar-benar menyangka bahwa orang lain tersebut adalah benar-benar orang yang jahat yang pantas diperangi. Maka tidaklah aneh, kita dapatkan di sana gambaran-gambaran yang sangat negatif terhadap Kaum Paderi yang diceritakan oleh Faqih Shaghir. Karena Faqih Shaghir sedang mencoba meyakinkan Kompeni untuk ikut membantunya melawan Kaum Paderi. Jadi Beliau berkepentingan untuk memberikan gambaran kepada Kaum Paderi sejelek dan sejahat mungkin.
Kedekatan Faqih Shaghir dengan Belanda sendiri sudah sangat masyhur. Buya HAMKA menulis tentang biografi dirinya sebagai berikut : “Fakih Sagir putera dan murid dari Tuanku Nan Tuo Koto Tuo itu ; yang juga berfaham Wahabi tetapi tidak menyetujui sepak terjang Harimau Nan Salapan, yang suraunya pun pernah dibakar oleh Kaum Adat karena menentang fahamnya, oleh karena tidak ikut di dalam peperangan, telah diajak bekerjasama oleh Pemerintah Belanda, lalu diangkat Regen (Tuanku Regen) di Luhak Agam, menggantikan Datuk Bagindo Khatib yang tidak disukai Kaum Adat. Fakih Sagir setelah tua bergelar “Tuanku Sami”.”
Meski begitu, harus diakui pada hal-hal tertentu Faqih Shaghir tetap berusaha objektif. Seperti terlihat pada uraiannya tentang hal-hal positif yang ada pada Kaum Paderi, yakni mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjalankan Haji, memakmurkan Masjid, menghindarkan diri dari hal-hal yang haram, serta menyuruh orang untuk menuntut ilmu agama dan berdagang secara halal. Uraian ini justru memperteguh dan menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa Kaum Paderi merupakan sekelompok orang yang benar-benar taat menjalankan syariat Islam dan mendakwahkannya. Pengakuan Faqih Shaghir atas keshalihan mereka – padahal di sisi lain dia berkepentingan untuk menjelekkan mereka – merupakan kesaksian yang shahih bahwa Kaum Paderi memang sangat memegang teguh ajaran syariat.
Objektivitas lainnya juga terlihat ketika Faqih Shaghir – meski berseberangan dengan Kaum Paderi – tetap mengkritik akhlak kaum Adat yang telah rusak. Dan tidak terpikir dalam benaknya untuk bergabung dengan Kaum Adat dalam melawan Kaum Paderi.
Kesimpulannya, unsur subjektivitas memang tidak bisa dihindari dalam penulisan naskah ini. Tragedi yang menimpa Tuanku Nan Tuo dan Faqih Shaghir sangat membekas, dan tentunya ini menyumbang bahan paling besar dalam faktor subjektif naskah ini. Namun sejauh mana subjektivitas itu “merembes” dalam naskah ini ?
Kalau diperhatikan, ada hal-hal yang perlu dicatat yang diceritakan dalam naskah ini. Kita coba bandingkan dengan pendapat-pendapat yang lebih pro atau simpati kepada Kaum Paderi.
Pertama, uraian Faqih Shaghir tentang kerusakan akhlak kaum Adat serta jauhnya mereka dari syariat Islam. Kondisi inilah yang membuat munculnya gerakan kaum Agama untuk memperbaiki kondisi ini. Hal ini disepakati juga oleh kalangan yang pro Paderi.
Kedua, Tuanku Nan Tuo, Faqih Shaghir, Tuanku Nan Renceh, serta Harimau Nan Salapan pada mulanya bersatu dalam menggerakkan dakwah pembaharuan Islam di Minang. Ini jugan disepakati oleh kalangan pro Paderi.
Ketiga, terjadi perbedaan pendapat dalam metode dakwah antara kubu Tuanku Nan Tuo dengan kubu Tuanku Nan Renceh. Tuanku Nan Tuo lebih memilih cara dakwah yang lembut. Tuanku Nan Renceh lebih memilih cara dakwah yang tegas dan keras. Ini juga disepakati oleh kalangan pro Paderi. Buya HAMKA sendiri juga mengakui sikap keras Tuanku Nan Renceh ini.
Keempat, naskah ini memberikan gambaran secara rinci sepak terjang dakwah Tuanku Nan Renceh, peperangan-peperangan yang dilakukannya, lengkap dengan kekerasan dan kekejamannya. Disinilah kita patut curiga atas objektivitas Faqih Shaghir dalam menceritakannya. Sebab Faqih Shaghir sendiri merupakan tokoh yang memihak kepada Tuanku Nan Tuo dan dengan begitu berseberangan pendapat dengan Tuanku Nan Renceh. Berat untuk tidak mencurigai adanya sisipan-sisipan yang hiperbolis di sini, karena Faqih Shaghir berkepentingan untuk menjelekkan Kaum Paderi sebagaimana disebutkan di atas. Di sini, perlu kejelian untuk menyaring informasi yang disampaikan Faqih Shaghir serta dibandingkan dengan pendapat dari kalangan pro Paderi.
Kelima, naskah ini menceritakan tentang bagaimana konflik pribadi antara Tuanku Nan Tuo dan Faqih Shaghir dengan Tuanku Nan Renceh dkk yang bermula dari perbedaan cara pandang tentang metode dakwah. Bisa dipastikan, unsur-unsur subjektif sangat kental disini. Faqih Shaghir sangat perlu untuk menggambarkan posisi dirinya dan Tuanku Nan Tuo sebagai pihak yang dizhalimi oleh Kaum Paderi. Tujuannya jelas, meminta bantuan Kompeni untuk memerangi Kaum Paderi, dengan dalih melaksanakan wasiat dari Tuanku Nan Tuo.

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: