//
you're reading...
Akhlaq dan Adab, Nasehat, Refleksi

Keriteria Suami Ideal Dambaan Wanita Shalihah

lelaki-solehBerkaitan dengan keriteria suami ideal, maka tidak ada keriteria yang lebih bagus daripada keriteria yang telah digariskan oleh Islam. Karena yang menetapkan keriteria ini adalah Penciptanya manusia yang tentu lebih mengetahui dan lebih faham seluk beluk manusia, lebih dari dirinya sendiri. Ibarat suatu prodak elektronik, tentu tidak ada prosedur yang lebih baik untuk penggunaan prodak tersebut kecuali prosedur yang dibuat oleh pemroduksi prodak tersebut. Oleh karena itu, keriteria menurut saya, berbanding lurus dengan keriteria menurut Islam.

Manusia terbaik sepanjang sejarah, Nabi Muhammad, pernah mengatakan, “Sekiranya datang (untuk mempersunting seorang wanita) kepadamu (maksudnya wali wanita) seorang lelaki yang (kualitas) agama dan akhlaknya telah kalian redhai,

maka nikahkanlah ia. Jika tidak, bakal akan terjadi fitnah (bencana dan cobaan) di muka bumi dan kerusakan yang hebat.”

Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad.

Dari hadits yang mulia ini, kiranya dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut berkaitan dengan suami ideal:
1. Bagus keislamannya. Artinya sang lelaki memiliki ilmu dan pengetahuan yang mencukupi tentang Islam sehingga ia mengaplikasikannya dalam kehidupannya sehari-hari. Sebab, tidak ada aturan dan undang-undang kehidupan yang lebih menakjubkan selain aturan yang telah digariskan oleh Islam. Contoh dalam masalah sangatlah banyak dan tidak mungkin bisa diuraikan sacara detail pada kesempatan kali ini.

Berbeda dengan lelaki yang jahil dan bodoh terhadap ajaran Islam. Orang semacam iki akan berbuat dan berperilaku menurut hawa nafsunya. Padahal Islam mengajarkan agar setiap orang menundukkan hawa nafsunya terhadap syariat. “Kamu tak akan beriman sampai hawa nafsunya mengikuti syariat yang kubawa,” demikian pesan Nabi Muhammad.

Dan kita juga bisa menyaksikan, membuktikan, dan membedakan antara seorang suami yang berpemahaman Islam yang baik dengan suami yang tidak memiliki pemahaman Islam yang memadai.

Suami model pertama, akan menunaikan kewajibannya atas istri dan anak-anaknya sesuai kadar dan ketentuan Islam. Ia tidak hanya bisa menuntut haknya atas istri dan anak-anaknya, namun ia mampu menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami dan ayah.

Dalam sebuah ayat di Surat Al-Muthaffifin, Allah ‘Azza wa Jalla mengatakan, “Celaka bagi orang-orang yang berbuat curang. Yaitu, apabila ia minta ditimbangkan manusia, ia minta dipenuhi (timbangannya, namun jika ia menimbang untuk orang lain, ia mengkurang-kuranginya.”

Meskipun ayat ini berbicara masalah timbang-menimbang, namun juga berlaku bagi siapa saja yang hanya bisa menuntut hak, tanpa memperhatikan kewajibannya sendiri. Masuk dalam hal ini adalah pasutri (pasangan suami-istri). Demikian penjelasan Syaikh Ibnu ‘Ustaimin.

Nampaknya permasalahan menuntut hak tanpa mempedulikan kewajiba ini sangat menjamur di tengah masyarakan dewasa ini.

Misalnya saja, selain contoh di atas, hak-kewajiban anatara rakyat dan negara. Banyak rakyat yang hanya bisa menuntut dan me nuntut haknya atas negara, namun dirinya tak pernah menunaikan kewajibannya atas negara. Tak pernah mengenakan helem, sim, dan STNK ketika berkendaraan. Dan banyak lagi contohnya.

Sekiranya bukan karena sempitnya waktu dan tempat, tentu akan saya jelaskan lebih detail lagi berkaitan dengan hak dan kewajiban pasutri menurut aturan Allah.

2. Akhlak.
Memiliki pengetahuan dan ilmu agama saja tidak cukup, namun juga harus diiringi dengan akhlak yang mulia. Betapa banyak seorang wanita yang sangat mampu bersabar atas ‘keburukan’ tampang suaminya, namun ia tak mampu bersabar atas buruknya akhlak dan perangai suaminya. Yang pada gilirannya berakhir dengan perceraian. Imbasnya adalah anak-anak yang belum faham. Dan ini merupakan realita yang benar-benar terjadi yang bisa disaksikan, bukan omong kosong.

Di antara akhlaq mulia:
1. Matanya tidak jelalatan ke wanita lain. Artinya ia tidak mengumbar pandangannya kepada wanita asing (bukan mahram). Jika ia bertemu wanita, matanya selalu ditundukkannya. Ia hanya mau memandang istrinya saja, bukan yang lain. Lihat QS An-Nur.

2. Memberikan pergaulan yang baik pada istrinya. Di antaranya berhias untuk istrinya. “Aku suka berhias untuk istriku, sebagaimana istriku suka berhias untukku,” kata Ibnu ‘Abbas.

Banyak terjadi di mana setelah seseorang wanita dan lelaki yang sudah menikah enggan untuk berhias di hadapan pasangannya. Ia lebih suka berhias dan menampakkan kecantikan di luar rumah, daripada di dalam rumah. Adapun di dalam rumah, parfumnya adalah balsem, padahal ketika keluar ia menggunakan parfum terbaik yang terharum. Dan ini sangat keliru. Jika demikian, bagaimana bisa pasangannya betah di dalam rumah. Justru ia lebih suka berada di luar rumah memandangi wanita yang molek ketimbang menyaksikan istrinya yang cap minyak telon dan balsem.

Celakanya, banyak laki-laki yang bangga melihat istrinya bersolek dan menampakkan kecantikannya di luar rumah disaksikan mata-mata keranjang, sementara ia tak ada sedikit pun rasa cemburu. Padahal Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengatakan, “Tak akan masuk surga laki-laki dayyuts (tak memiliki rasa cemburu terhadap dosa yang diterjang di dalam keluarga).”

Inilah jawaban ringkas. Wa illa, banyak hal yang kiranya perlu diketahui dan direnungkan. Wallahua’lam.

 

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: