//
you're reading...
Fatwa Ulama, Hadits Nabawi & Ilmunya

Prof. Dr. Mahmud Yunus dan Kecamannya Terhadap Hadits Dha’if

hadits-dhaif-e1442194416386Peringatan terhadap bahaya nyata yang akan timbul terhadap fenomena merajalelanya hadits dha’if dan maudhu’ bukanlah semata-mata datang dari ulama-ulama ‘Wahhabi’ semacam Syaikh Muhammad Nashiruddin bin Nuh Al-Albani –rahimahullah-. Tidak sedikit orang memandang sinis terhadap apa yang dilakukan Al-Albani manakala beliau menghimpun kitabnya Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah wa Al-Maudhu’ah, yaitu ensiklopedi hadits-hadits yang berderajat lemah dan palsu. Dalam muqaddimahnya, beliau banyak menjabarkan betapa bahayanya hadits-hadits lemah dan palsu yang bertebaran di tengah masyarakat Muslim awam.

Di antara hal negatif yang muncul akibat hadits lemah dan palsu ialah timbulnya amalan-amalan aneh yang dikerjakan masyarakat Muslim awam dengan keyakinan bahwa ritual itu adalah ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Tidur saat puasa, misalnya. Betapa tidak sedikit orang berkeyakinan bahwa tidurnya orang yang berpuasa itu bernilaikan ibadah. Sehingga jangan heran jika ada orang yang berpuasa justru kegiatannya disi dengan mendengkur di kamar tidurnya sesiang suntuk. Seakan-akan bulan puasa adalah bulan yang tidak produktif.

Padahal dahulu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersama para shahabat justru melakukan perang di bulan Ramadhan melawan musuh dari kalangan kuffar dan musyrikin. Bukankah perang Badar terjadi pada 17 Ramadhan tahun 2 H? Bukankah Fathu Makkah terjadi pada 10 Ramadhan tahun 10 H?

Demikian pula peperangan yang dilakukan setelah zaman Rasulullah. Tidak sedikit yang terjadi di bulan Ramadhan. Perang Qadisiyyah terjadi pada tahun 15 H di bulan Ramadhan. Negeri Andalus (baca: Sepanyol) ditakhlukkan kaum muslimin pada tahun 92 H di bulan Ramadhan. Pertempuran ‘Ain Jalut terjadi pada tahun 685 H di bulan Ramadhan juga. Bahkan kemerdekaan negeri kita tercinta, NKRI, terlaksana pada bulan Ramadhan!

Apa yang menjadi keyakinan sementara masyarakat Muslim awam di atas ternyata bukan tanpa alasan. Setelah diselidiki, ternyata mereka mendasarkan keyakinan itu atas hadits lemah yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman (III/1437) dari ‘Abdullah bin Abu Aufa, bahwasannya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Tidurnya orang yang berpuasa itu bernilaikan ibadah, diamnya bernilaikan tasbih, doanya mustajab, dan amal ibadahnya akan dilipatgandakan.”

Keterangan bahwa hadits tersebut di atas dha’if justru datang langsung dari Al-Baihaqi selaku perekamnya. Ia mengatakan, “Ma’ruf bin Hassan (salah seorang perawi hadits ini) lemah. Sedangkan Sulaiman bin ‘Amr An-Nakha’i (yang juga seorang perawi hadits tersebut) lebih parah kelemahannya daripadanya.” Penulis Takhrij Ihya’ ‘Ulum Ad-Din (I/310), Al-Hafizh Al-‘Iraqi turut berkomentar, “Sulaiman An-Nakha’i ini salah seorang pendusta.” Tidak hanya Al-Baihaqi dan Al-Iraqi, Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir (9293) tidak ketinggalan memberikan komentarnya yang tidak sama dengan pernyataan dua ulama itu.

Tegasnya amalan tidur-tidurahn saat berpuasa yang sementara ini dilakukan sebagian orang ternyata bertumpu pada hadits lemah.

Masih banyak contoh ritual-ritual nyelneh lainnya yang juga timbul lantaran hadits lemah. Oleh karena pengaruhnya yang sedemikian rupa berbahaya, sampai Prof. Mahmud Yunus –rahimahullah-, salah seorang ulama besar kepulauan Nusantara yang bertahun-tahun mendalami Islam di negeri Kinanah, Mesir-menjelaskan panjang lebar terkait bahanya dalam bukunya yang bertajuk “Ilmu Mushthalah Hadits”. Untuk lebih memahami apa yang beliau terangkan, di sini kami akan menukilkan kesimpulan yang beliau tulis:

mahmud-yunus

Teks asli keterngan Prof. Mahmud Yunus -rahimahullah-

“Apa yang telah kami uraikan di atas dapat diketahui bahwasannya tokoh-tokoh ulama sangat mengingkari oknum-oknum yang meriwayatkan hadits dha’if tanpa memberikan penjelasan akan kedha’ifannya. Sedangkan orang yang membawakan hadits dha’if dengan disertai penjelasan akan kedha’ifannya, maka para ulama tidak mengingkari akan hal itu. Sebab, para ulama yang meriwayatkan hadits dha’if pun tidak terlepas dari manfaat yang diperoleh.

Tegasnya, para ulama tidak pernah meriwayatkan hadits dari orang-orang yang lemah dalam periwayatan untuk dijadikan hujjah dalam menetapkan hukum tanpa ada hadits lain yang menyertainya. Sebab hal ini tidak ada imam pakar hadits dan ulama muhaqqiq lainnya yang melakukannya.

Adapun tindakan ulama-ulama pakar fiqih atau bahkan mayoritasnya yang meriwayatkan hadits-hadits dha’if tanpa menjelaskan kedha’ifannya dan menjadikannya sebagai hujjah, maka ini merupakan tindakan yang tidak bisa dibenarkan, bahkan sangat buruk sekali. Hal tersebut karena jika mereka mengetahui bahwa hadits yang mereka riwayatkan itu dha’if, mereka haram menjadikannya sebagai hujjah. Karena mereka sendiri telah berkonsesus bahwa hadits dha’if tidak bisa dijadikan hujjah dalam berhukum. Sedangkan jika mereka tidak mengetahui status hadits yang mereka bawakan, tidak dibenarkan mereka terburu-buru berhujjah dengannya tanpa terlebih dahulu menyelidiki statusnya jika ia pandai dalam hal ini atau jika tidak hendaknya ia bertanya kepada pakarnya.” []

yunus

Cover kitab “Ilm Mushthalah Al-Hadits”

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: