//
you're reading...
Biografi Ulama, Sejarah Islam

Kesaksian Jalaluddin Faqih Shaghir : Memandang Gerakan Paderi dari Sisi yang Berbeda (7)

karyawisata-budaya-alam-minangkabauWahabi dan Kaum Paderi
Naskah Faqih Shagir memberikan informasi yang menarik lainnya yang mendorong perlunya klarifikasi lebih lanjut. Jika gerakan Paderi dianggap sebagai sebuah gerakan dakwah yang mencoba untuk menegakkan dan membumikan syariat Islam di tanah Minang, maka – berdasarkan naskah Faqih Shaghir ini – permulaannya adalah sejak munculnya dakwah Tuanku Nan Tuo dan murid-muridnya, termasuk Faqih Shaghir dan Tuanku Nan Renceh. Hal tersebut agak berbeda dengan umumnya pendapat sejarawan yang menyatakan bahwa gerakan Paderi bermula sejak kepulangan tiga Haji dari Makkah yang terpengaruh gerakan Wahabi di sana. Inilah yang kemudian membuat kebanyakan sejarawan memandang bahwa gerakan Paderi sangat dipengaruhi gerakan Wahabi.
Titik perbedaan antara pendapat kebanyakan sejarawan tersebut dengan catatan Faqih Shaghir dapat diringkas sebagai berikut :Kebanyakan Sejarawan memandang gerakan pembaharuan (Paderi) bermula sejak kepulangan tiga Haji dari Makkah yang terpengaruh Wahabi, kemudian mereka mengajak Tuanku Nan Renceh dan ulama lainnya, sehingga muncullah Harimau Nan Salapan. Untuk memperkuat barisan dakwah, Harimau Nan Salapan kemudian mengajak ulama sepuh berpengaruh saat itu – Tuanku Nan Tuo – untuk ikut bergabung dan menyokong dakwah mereka, meskipun kemudian mereka berbeda pendapat dalam menentukan metode dakwah yang tepat. Sejak semula, Harimau Nan Salapan sangat ingin menerapkan metode dakwah yang keras dan tegas, dan ini yang tidak disetujui oleh Tuanku Nan Tuo.
Sedangkan menurut naskah Faqih Shagir, gerakan pembaharuan bermula sejak dakwah Tuanku Nan Tuo yang lebih mengedepankan metode dakwah yang lemah lembut. Tuanku Nan Renceh mulanya merupakan pendukung dakwah ini karena Beliau adalah murid Tuanku Nan Tuo. Gerakan dakwah ini mendapat energi baru setelah pulang tiga haji dari Makkah. Tekanan dan tentangan yang sangat berat dari Kaum Adat membuat sebagian kelompok dari gerakan dakwah ini memilih untuk menjalankan metode dakwah yang lebih keras, yakni kelompok yang dikomandoi oleh Tuanku Nan Renceh dan Harimau Nan Salapan. Akhirnya, muncul perbedaan yang tajam antara kelompok Tuanku Nan Tuo dengan kelompok Tuanku Nan Renceh.
Perlu diketahui, catatan Faqih Shaghir sendiri cenderung tidak terlalu menyebutkan peranan tiga Haji yang pulang dari Makkah. Justru dari catatan Faqih Shaghir, yang sebenarnya memegang peran penting sebagai pembangun pondasi dan motor penggerak kaum Paderi adalah Tuanku Nan Renceh. Dan kalau dicermati dari uraian Faqih Shaghir, sikap keras dan tegas dari Tuanku Nan Renceh bukan berasal dari pengaruh gerakan Wahabi, namun lebih karena ketidaksabaran Beliau dalam menghadapi tekanan dan perlawanan Kaum Adat yang semakin keras. Andaikata pun ada pengaruh Wahabi disitu – dengan diasumsikan bahwa pengaruh tersebut diambil oleh Tuanku Nan Renceh setelah berinteraksi dengan Haji Miskin dkk – maka pengaruh tersebut cenderung kecil. Buktinya, Faqih Shaghir dalam catatannya tidak sekalipun menyinggung-nyinggung ke-Wahabi-an Tuanku Nan Renceh dkk. Padahal, pelabelan Kaum Paderi sebagai “Kaum Wahabi” yang saat itu sangat masyhur berkonotasi negatif tentunya sangat menjadi amunisi tambahan bagi Faqih Shaghir dalam menulis catatannya tersebut.
Mungkin ada yang membantah : Faqih Shaghir tidak melabeli Kaum Paderi sebagai Wahabi dengan konotasi negatif karena dia sendiri seorang yang berpaham Wahabi sebagaimana yang disebutkan oleh HAMKA, hanya saja Beliau berbeda paham tentang metode dakwah.
Pernyataan Faqih Shaghir merupakan Wahabi rasa-rasanya perlu ditinjau kembali. Dalam catatannya terlihat jelas bahwa Faqih Shaghir – dan juga gurunya Tuanku Nan Tuo – merupakan ulama tasawuf berthariqat yang teguh memegang tradisi-tradisinya. Dalam menceritakan kedalaman ilmu dari Tuanku Nan Tuo, Faqih Shaghir menulis bahwa Beliau adalah seorang yang telah mencapai ilmu syariat dan ilmu hakikat, serta dikenal sebagai ulama yang kasyaf. Istilah-istilah ini jelas khas tasawuf dan thariqat. Kemudian, perhatikan perkataan lainnya dari Faqih Shaghir ketika menceritakan dakwahnya berikut ini :
“Maka bersungguh2lah saya menyuruhkan orang sembahyang hingga sampai berdiri jema`at dua belas orang, dan menyuruhkan orang menunaikan zakat serta membahagikan kepada segala fakir dan miskin. Pada masa dahulu ada jua orang menunaikan zakat tetapi sedikit2; tidak dibahagikan antara segala fakir dan miskin, melainkan dihimpunkan saja supaya diambil faidah barang apa2 maksudnya, dan menyuruhkan orang maulud akan nabi salla l-lahu `alaihi wasallam serta membaiki tertibnya, dan tertib orang memakaikan agama Islam.”
Kenyataan Faqih Shaghir masih melestarikan tradisi Maulid Nabi merupakan bukti jelas yang meruntuhkan pernyataan bahwa dirinya adalah Wahabi. Dan dari uraian di atas – sekali lagi – dapat kita pertanyakan keshahihan pernyataan bahwa dakwah Tuanku Nan Renceh merupakan dakwah yang terpengaruh Wahabi.
Mungkin ada yang bertanya : lalu darimana Tuanku Nan Renceh dan Harimau Nan Salapan memperoleh inspirasi dalam berdakwah menegakkan syariat Islam dan menggunakan metode dakwah yang keras ? Bukankah itu pengaruh dari Wahabi setelah mereka berinteraksi dengan tiga Haji yang pulang dari Makkah ?
Para sejarawan umumnya berpendapat bahwa metode dakwah yang keras dan tegas dari Harimau Nan Salapan dipengaruhi oleh faham Wahabi yang dibawa oleh Haji Miskin dkk. Buku-buku sejarah dipenuhi dengan pernyataan ini dan menjadi pendapat umum. Pendapat ini dinyatakan oleh kalangan yang pro maupun yang kontra dengan gerakan Paderi.
Namun, adakah para sejarawan tersebut bisa membuktikan dengan sumber yang primer dan valid bahwa Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik benar-benar terpengaruh gerakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ? Andaikatapun mereka benar-benar terpengaruh oleh gerakan Wahabi, pertanyaan selanjutnya : Pengaruh yang bagaimana yang merembes ke pemikiran mereka ? Sejauh dan seberapa besar mereka memahami dakwah Wahabi ?
Agaknya hal ini perlu diklarifikasi lebih lanjut oleh para Sejarawan tersebut apalagi mengingat bahwa ada karakteristik yang berbeda antara dakwah Harimau nan Salapan dengan gerakan Wahabi .
Pertama, semua sejarawan sepakat bahwa Harimau Nan Salapan masih bermadzhab Syafi’iyah, sedangkan kita telah sama-sama ketahui bahwa gerakan Wahabi bermadzhab Hanabilah. Dan tak ada catatan sejarah yang menyebutkan tentang “merembesnya” fiqih Hanabilah dalam pemikiran kaum Paderi. Agak sulit menerima bahwa Kaum Paderi dinyatakan terpengaruh gerakan Wahabi namun tak dijumpai “rembesan” fiqih Hanabilah secuil pun di sana.
Kedua, dalam Naskah Tuanku Imam Bonjol terlihat bahwa Beliau masih memegang ajaran sifat dua puluh khas Asya’irah yang memang pada saat itu menjadi ajaran yang umum di Nusantara. Ajaran sifat dua puluh ini tentu saja berbeda dengan ajaran Wahabi yang terpengaruh oleh ajaran Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam hal aqidah asma’ wa shifat. Tuanku Imam Bonjol sendiri jelas merupakan representasi dari Kaum Paderi, karena Beliau adalah murid Tuanku Nan Renceh dan sekaligus penggantinya dalam memimpin Kaum Paderi.
Kedua hal di atas menjelaskan ke kita bahwa sebenarnya Kaum Paderi saat itu masih belum benar-benar bebas dari pengaruh ajaran Islam yang populer di daerah saat itu. Dakwah mereka masih berfokus pada usaha-usaha untuk mengembalikan Kaum Adat yang telah menyimpang jauh dari ajaran Islam kepada ajaran-ajaran syariat yang pokok, seperti mendirikan shalat, zakat, puasa, larangan berzina, mencuri, berjudi, menyabung ayam, dll. Kenyataan ini memperkuat pendapat spekulatif sebagian kalangan yang menyatakan bahwa Kaum Paderi sebenarnya juga masih teguh memegang ajaran tasawuf dan juga tarekat.

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: