//
you're reading...
Biografi Ulama, Sejarah Islam

Kesaksian Jalaluddin Faqih Shaghir : Memandang Gerakan Paderi dari Sisi yang Berbeda (8)

karyawisata-budaya-alam-minangkabauOleh: Oleh: Wahyu Indra Wijaya
Selanjutnya, jika memang bukan dari Wahabi maka darimana Kaum Paderi memperoleh inspirasi metode dakwah dengan tegas dan keras ini ?
Bolehlah kiranya kita ajukan sebuah pendapat. Apa yang menginspirasi Kaum Paderi dalam menegakkan syariat dengan metode dakwah yang keras dan tegas adalah sama dengan apa yang menginspirasi Walisongo dalam menjatuhkan hukuman mati kepada Siti Jenar. Sama juga dengan apa yang menginspirasi Syaikh Nuruddin ar Raniry menjatuhkan fatwa mati dan memberangus setiap orang yang berpendapat dengan pendapatnya Hamzah Fanshuri dan muridnya Syamsuddin Sumatrani. Sama juga dengan apa yang menginspirasi Syaikh Muhammad Arsyad al Banjari dalam memerangi bid’ah yang dilakukan kaum Adat di negerinya.
Walisongo, Nuruddin ar Raniry, Muhammad Arsyad al Banjari, Tuanku Nan Tuo serta murid-muridnya termasuk Harimau Nan Salapan adalah ulama-ulama yang berpaham tasawuf sunni yang mengkolaborasikan antara tasawuf dan syariat, tidak sebagaimana tasawuf falsafi yang cenderung mengabaikan syariat. Mereka, meskipun bertasawuf dan sebagiannya berthariqat, mempunyai keteguhan dalam menjalankan syari’at Islam, mendakwahkannya kepada masyarakat, serta semaksimal mungkin menghilangkan kemungkaran yang terjadi di masyarakat sekitarnya.
Kecenderungan mereka dalam penegakan syariat akan semakin menguat ketika mereka berhadapan dengan kelompok masyarakat yang semakin jauh dari syariat. Mereka tahu kapan dosis tasawuf perlu ditingkatkan, dan kapan dosis syariat ditingkat. Ketika menghadapi masyarakat yang telah mapan dari sisi pelaksanaan syariat, maka mereka tingkatkan dosis tasawuf & tarekat untuk melembutkan hati. Namun ketika menghadapi masyarakat yang mengabaikan syariat, maka mereka tingkatkan dosis syariat agar jangan sampai mereka menjadi murtad.
Inilah yang terjadi pada Tuanku Nan Renceh dan Harimau Nan Salapan. Keteguhan mereka dalam memegang syariat yang mereka warisi dari Tuanku Nan Tuo berhadapan dengan Kaum Adat yang sangat menyimpang dari ajaran Islam. Semakin kaum Paderi mendakwahi Kaum Adat, semakin keras pula penolakan dan penentangan Kaum Adat terhadap mereka. Dengan dilandasi semangat mereka untuk terus menegakkan Agama dan kecemburuan mereka ketika melihat ajaran Islam diabaikan dan dilecehkan serta mempertimbangkan perlawanan Kaum Adat yang makin meningkat, maka tak ada cara lain yang mereka anggap lebih efektif selain menggunakan cara-cara yang keras dan tegas, dan kalau perlu diperangi.
Tuanku Nan Renceh dan Kaum Paderi saat itu memandang sudah saatnya dosis syariat dinaikkannya dengan menerapkan cara-cara dakwah yang lebih keras. Bahwa andaikata benar ada pengaruh Wahabi disini, itu bukanlah faktor utama. Adapun Tuanku Nan Tuo masih memandang bahwa belum perlu menggunakan cara-cara keras selama ajaran syariat masih bisa dirembeskan dengan cara-cara lembut.
Cara yang ditempuh Kaum Paderi ini tentunya mengingatkan kita pada cara yang ditempuh Walisongo ketika akhirnya memilih untuk menghukum mati penyimpangan syariat yang dilakukan Siti Jenar yang telah dinasehati berulang kali dan juga keputusan Nuruddin ar Raniry untuk menghukum mati pengikut-pengikut Hamzah Fansuri yang terkenal mengabaikan syariat walaupun sudah berulang kali diajak bertaubat.
Wallahu a’lam.
[Selesai]

 

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: