//
you're reading...
Fatwa Ulama, Fiqih dan Hukum

Meninjau Najisnya Minuman Keras

aoMuhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani (w. 1186 H) menulis,

“Sesuatu yang najis pasti berkonsekuensi haram dikonsumsi. Sebab setiap najis pasti haram, namun tidak sebaliknya. Yang demikian itu karena hukum najis terletak pada larangan menyentuhnya dalam kondisi apa pun. Oleh karenanya hukum najisnya sesuatu berarti juga hukum akan keharamannya. Berbeda halnya dengan hukum haram. Karena haram mengenakan kain sutera dan emas, padahal keduanya suci menurut hukum syariat yang pasti dan sesuai konsesus.

Jika Anda sudah mengetahui hal ini, maka nyatalah bahwa keharaman keledai jinak dan khamer yang dinyatakan oleh dalil-dalil itu tidak berkonsekuensi najis. Namun harus ada dalil lain yang menjelaskan hal tersebut.

Jika tidak ada, maka dikembalikan pada asalnya yang telah disepakati, yakni suci. Apabila ada orang yang mendakwakan selain itu, maka orang tersebut dituntut menghadirkan dalil atas dakwaannya tersebut.”

Subulussalam Al-Mushilah ila Bulughil Maram (I/117), tahqiq Thariq bin ‘Awadhullah bin Muhammad, cet. Darul ‘Ashimah, th 1422 H/2001 M.

Berikut adalah teks asli penjelasan Imam Ash-Shan’ani:

untitled

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: