//
you're reading...
Nasehat, Refleksi

Sebelum Akhirnya Engkau Menjadi Ulama Besar

tangan-post-it-hijau-nasihat-arabicAda Saatnya….
Sekarang menghadiri berbagai majelis ilmu yang bertebaran di berbagai wilayah. Bertahun-tahun lamanya. Kadang kala muncul rasa bosan dan jenuh. Itu wajar dan manusiawi. Tapi tidak berselang lama, semangat menghadiri halaqah ilmu kembali berkobar seiring bertambahnya ilmu dan taqwa yang pada gilirannya membuat jiwa tidak ingin terpisah dari majelis ilmu dan buku. Jiwa pun benar-benar telah tenggelam dalam kenikmatan memburu warisan para Nabi dan Rasul.

Akan tetapi…
Ada saatnya nanti jiwa itu yang duduk di depan majelis menyampaikan ilmu dan nasehat. Waktu untuk duduk manis menyimak lezatnya ilmu pun mulai berkurangJika dulu ia selalu diberi nasehat serta pelajaran, kini ia harus memberi nasehat khalayak ramai. Aduhai, sungguh berat perputaran ini. Seakan jiwa memberontak. Rasanya ingin menolak menduduki kursi di muka majelis itu. Sebab ia sudah duluan merasakan betapa nikmatnya melahap nasehat yang itu merupakan nutrisi bagi jiwa.


Namun apa boleh buat. Begitulah perputaran. Ada saatnya jiwa itu menggantikan posisi gurunya. Dan ini lebih berat. Jiwa tidak hanya dituntut pandai bertutur kata dan merangkai kalimat. Ia juga harus pandai-pandai beramal melaksanakan petuah-petuahnya sendiri sebelum ia sampaikan ppada hadirin. Ia dituntut lebih bersikap hati-hati karena saat ini ia dijadikan tolak ukur banyak orang. Ia sekarang dijadikan rujukan banyak jiwa. Alangkah celakanya ia jika ia tidak mampu memberikan khidmat terbaik pada mereka yang membutuhkan.
Namun anehnya…


Ada saja dan banyak jiwa yang terlalu terburu-buru duduk di depan majelis menyampaikan apa yang ingin disampaikannya. Entah apa itu. Belum lagi mereka melahap nutrisi cukup dari alim ulama, sudah berlagak ingin duduk di muka khalayak. Belum lagi banyak kitab yang ditelaah, sudah terburu haus kedudukan dan syuhrah. Aduhai, betapa celakanya jiwa-jiwa buruk macam ini. Yang ada di pikirannya hanya ketenaran dan kedudukan semu. Biasanya jiwa-jiwa semacam ini lebih banyak membualnya daripada kesadaran hatinya.


Ya Allah, ajarilah kami apa saja yang bermanfaat untuk kami dan berilah manfaat apa yang Engkau ajarkan pada kami, serta tambahkanlah ilmu pada diri kami…

Maha benar Allah saat Dia berfirman,

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

“Itulah masa yang Kami pergilirkan di antara manusia…” (QS Alu ‘Imran: 140)

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: