//
you're reading...
Sejarah Islam

Menelusuri Jejak Rintisan Pengajaran dan Penerjemahan Kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di Indonesia (Periode Dekade 1970 – 1980)

521960

Oleh: Wahyu Indra Wijaya

Sejarah mencatat bahwa perkembangan pemikiran Islam di Indonesia mengalami perubahan signifikan pada awal-awal Abad 20 Masehi. Penyebabnya adalah merebaknya pemikiran-pemikiran pembaharuan Islam yang diinisiasi oleh dua sejoli Al Azhar : Syaikh Muhammad Abduh dan muridnya Sayyid Muhammad Rasyid Ridha. Kedua tokoh ini diyakini mengambil ilham pembaharuannya salah satunya dari gerakan dakwah salafiyyah yang digerakkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan murid-muridnya serta yang kemudian diterjemahkan ulang dalam gerakan yang lebih massif dan terstruktur oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di negeri Najd. Gerakan ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan gerakan Wahabiyyah.

Tokoh-tokoh pembaharuan Islam di Indonesia, yang dimotori oleh ulama-ulama Muhammadiyyah, Al Irsyad, dan Persatuan Islam (Persis), sangat diyakini terpengaruh dengan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Istilah “Wahhabi” menjadi populer saat itu. Ada yang menyikapinya dengan penuh kebanggaan, ada juga yang menyebutnya sebagai sebuah celaan, terutama kalangan ulama tradisional. Tokoh-tokoh seperti Haji Rasul dan anaknya HAMKA, KH. Ahmad Dahlan, Ahmad Surkati, A. Hassan, M. Natsir, dan lain-lain dianggap (terutama oleh lawan-lawannya) sebagai pembawa ajaran Wahabi di Indonesia.

Sejauh mana kebenaran klaim tersebut tentu perlu didiskusikan lebih lanjut. Terutama jika kita dihadapkan oleh pertanyaan : apakah tokoh-tokoh tersebut telah mengajarkan kitab-kitab karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab kepada murid-muridnya ? Tentunya dengan sederhana kita bisa ambil hipotesis : seseorang tak bisa dianggap sebagai pembawa ajaran Wahabi jika tidak terbukti pernah mengajarkan kitab-kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Menjawab pertanyaan di atas ternyata tidak sederhana. Sejarah mencatat ternyata tokoh-tokoh tersebut tidak diketahui mengajarkan kitab-kitab karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Ilham pembaharuan yang mereka gaungkan lebih condong bersumber pada pembaharuan yang dibawa oleh Syaikh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Atau jika kita dipaksa untuk tetap mengaitkannya dengan gerakan Wahhabi, maka gerakan pembaharuan yang dibawa tokoh-tokoh tersebut diilhami oleh gerakan Wahhabi yang telah dimodifikasi oleh Syaikh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Jadi tidak langsung mengambil sumbernya kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Kita ambil contoh apa yang terjadi dengan KH. Ahmad Dahlan. Salah seorang muridnya – KRH. Hadjid – menceritakan tentang buku-buku yang dibaca dan diajarkan oleh gurunya tersebut dengan mengatakan bahwa :

“Pada mulanya kitab yang dipelajari adalah kitab yang biasa dipelajari kebanyakan ulama di Indonesia dan ulama Makkah. Misalnya dalam ilmu Aqaid ialah kitab-kitab beraliran Ahlussunnah Wal Jamaah. Ilmu Fiqih menggunakan kitab dari madzhab Syafi’iyyah, dalam ilmu Tasawuf merujuk pada Imam al Ghazali. Juga membaca Tafsir al Manar karya Rasyid Ridha, Majalah al Manar dan Tafsir Juz Amma karya Muhammad Abduh, dan al Urwatul Wutsqa karya Jamaluddin al Afghani. Selama mengikuti beliau saya sering melihat kitab yang menjadi rujukan seperti Kitab Tauhid Muhammad Abduh, Tafsir Juz Amm karya Muhammad Abduh, Kitab Kanzul Ulul, Dairatul Ma’arif karya Farid Wajdi, Kitab fil Bid’ah karya Ibnu Taimiyah sebagaimana kitab at Tawassul wal Wasilah, Kitab Izharul Haq karya Rahmatullah al Hindi dan kitab Hadits karya ulama madzhab Hanbali.”

Terlihat bagaimana pengaruh kuat Syaikh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dalam pemikiran pembaharuan KH. Ahmad Dahlan. Selain itu, kesaksian dari KRH. Hadjid tersebut juga membuktikan bahwa KH. Ahmad Dahlan saat itu belum mengajarkan kitab-kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Jadi, seandainya benar bahwa KH. Ahmad Dahlan itu terpengaruh oleh gerakan Wahhabi, maka jelas bahwa yang dimaksud adalah gerakan Wahhabi yang telah mendapat modifikasi dan pengaruh dari Syaikh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, tidak langsung kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Yang menarik, meski tidak mempelajari karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab secara langsung, KH. Ahmad Dahlan mempelajari kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, yang mana ulama yang satu ini menjadi inspirasi utama dari gerakan dakwah yang diusung oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Apa yang kita dapatkan dari KH. Ahmad Dahlan di atas juga bisa kita dapatkan dari tokoh-tokoh pembaharuan lainnya. Mereka tidak (belum) terbukti mengajarkan langsung kitab-kitab karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Sebutan Wahhabi kepada mereka pada saat itu lebih bersifat celaan yang dilontarkan oleh pihak yang tidak sepahaman dengan mereka dikarenakan terdapat kemiripan ajaran antara mereka dengan ajaran Wahhabi, terutama dalam hal pencelaan terhadap takhayul, bid’ah, dan khurafat.

Syarah Kitab Tauhid karya Muhammad Thahir Badrie

Syarah Kitab Tauhid karya Muhammad Thahir Badrie

Kemiripan ajaran ini memang tidak bisa dielakkan lagi, karena memang tokoh-tokoh pembaharuan pada saat itu selain terpengaruh dakwah Syaikh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha yang sangat menentang bid’ah, mereka juga “memberanikan diri” untuk mulai mempelajari kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qayyim, sebagaimana yang terjadi pada diri KH. Ahmad Dahlan di atas. Namun sekali lagi kita katakan, meski mereka telah familiar dengan karya-karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim, namun mereka belum menyentuh langsung karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Jika demikian, maka muncul pertanyaan lebih lanjut : sejak kapan karya-karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mulai dipelajari dan kemudian diterjemahkan di Indonesia ?

Menjawab pertanyaan di atas sungguh sulit dan tak dapat dipastikan. Karena pada faktanya ada ulama/tokoh Islam yang sebenarnya sudah terpengaruh “langsung” oleh ajaran dan karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab namun belum berkenan langsung mengajarkannya kepada masyarakat karena beberapa alasan. Hal ini seperti yang terjadi pada ulama Gresik, Syaikh Ammar Faqih Maskumambangi. Pengasuh Pondok Pesantren Maskumambang Gresik ini sangat jelas terpengaruh oleh ajaran salafiyah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab secara langsung. Bahkan karena keterpengaruhan tersebut Beliau memutuskan untuk membelokkan arah pengajaran Ponpes Maskumambang yang semula bersifat Aswaja tradisional yang sangat membenci Wahhabi menjadi ponpes Salafiyyah yang beraliran Wahhabi. Namun demikian, pengaruh Wahhabi ini tidak lantas membuat Syaikh Ammar Faqih langsung mengajarkan kitab-kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Dalam situs resmi Ponpes Maskumambang diceritakan metode dakwah Syaikh Ammar Faqih tersebut di atas :

“Pada masa kepemimpinan KH. Ammar Faqih, Maskumambang menjadi pusat penyebaran gerakan reformasi dan gerakan salafiyah, yakni gerakan yang mengajak ke arah perbaikan di bidang aqidah serta memurnikan syari’at dari segala bid’ah, khurafat serta sisa-sisa animisme yang telah merusak syari’at dan mengajak untuk menolak segala taqlid buta dan fanatik madzhab, mengajak kembali ke sumber murni agama, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perubahan faham keagamaan dimulai dengan mengganti kitab pegangan santri dalam bidang aqidah, dari kitab Aqidah al-Awwam diganti kitab karangan beliau berjudul Tuhfatul ummah fil ‘aqaaid wa raddi mafaasid. Beliau tidak menggantinya dengan kitab al-Tauhid karya Muhammad bin Abdul Wahab, karena alasan sosiologis, yakni adanya anggapan negatif di kalangan masyarakat dan tokoh-tokoh ulama terhadap para tokoh Wahabi. Adapun pelajaran Fiqih, tetap menggunakan kitab-kitab yang dipergunakan KH. Muhammad Faqih. Dengan demikian, menurut penuturan santri KH. Ammar Faqih, pada masa awal kepemimpinan beliau tradisi yang ada masih tetap dipertahankan.”

Apa yang dilakukan oleh Syaikh Ammar Faqih tersebut di atas lebih merupakan sebuah siasat dakwah yang pada akhirnya sangat berhasil “menyusupkan” ajaran Wahhabi tanpa harus dengan mengajarkan kitab-kitab Wahhabi secara langsung. Kini, dengan berjalannya waktu, Ponpes Maskumambang tak lagi “sembunyi-sembunyi” mengajarkan karya-karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Kitabut Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab kini telah menjadi kitab resmi yang diajarkan kepada santri-santrinya.bersihkah_tauhid_anda_dari_noda_syirik

Siasat dakwah yang dilakukan oleh Syaikh Ammar Faqih di atas diikuti oleh tokoh-tokoh lainnya. Inilah yang membuat mengapa kitab-kitab karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan ulama-ulama Wahhabi lainnya “terlambat” diterjemahkan dan diajarkan di Indonesia, meski ajaran-ajarannya telah cukup lama bersemi di Nusantara. Salah satu contoh yang bisa disebut disini adalah Moehammad Thahir Badrie, seorang da’i Muhammadiyah penulis Syarah Kitabut Tauhid. Beliau pernah bermaksud menerjemahkan kitab Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid karya Syaikh Abdurrahman bin Hasan, cucu dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Namun niat ini Beliau urungkan karena alasan sosiologis seperti yang dialami oleh Syaikh Ammar Faqih di atas. Dan pada akhirnya Beliau menulis sendiri syarah Kitabut Tauhid yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman masyarakat saat itu. Beliau menulis : “Semula penulis (Moehammad Thahir Badrie) beranjak niat buat menerjemahkan saja kitab syarahnya – Fath al Majid – tetapi mengingat uraian dan pemaparannya memerlukan kematangan dan kedalaman yang cukup sesuai dengan kondisi masyarakat Islam di lingkungan kita sendiri, maka niat tersebut tak jadi penulis laksanakan.”

Selangkah lebih maju dari usaha Syaikh Ammar Faqih di atas, atas izin Allah, pada tahun 1972 Kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mulai terang-terangan diajarkan. Adalah seorang da’i bernama Drs. Dja’far Soedjarwo yang berjasa memulai pengajaran tersebut. Dan yang menarik, pengajian tersebut disampaikan di dalam lingkungan militer, tepatnya di Komando Daerah Militer (Kodam) VIII/Brawijaya Malang. Beliau memberikan kesaksian :

“Kitab Tauhid oleh Syekhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab yang disajikan oleh Mustafa al Alim dalam bahasa Arab, pada tahun 1972 saya ajarkan kepada anggota staf Komando Daerah Militer VIII/Brawijaya yang beragama Islam dalam bentuk stensilan setelah saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada jam-jam Pendidikan Rohani Islam. Pendidikan Rohani Islam saya berikan setiap hari kamis, saya ambilkan dari Kitab Tauhid tersebut, satu lembar bolak-balik yang sudah saya terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia kepada staf Kodam VIII/BRAW di Malang waktu itu berjalan lebih kurang selama dua tahun. Tamatlah Kitab Tauhid tersebut.”

Pengajaran yang dilakukan oleh Drs. Dja’far Soedjarwo tersebut ternyata menarik minat Kepala Jawatan Rohani Islam Kodam Brawijaya saat itu – Letkol. Abdul Moechid – untuk menerbitkan terjemahan Kitab Tauhid dalam bahasa Indonesia. Maka kemudian Letkol. Abdul Moechid memerintahkan kepada delapan orang Imam Militer Kodam Brawijaya untuk mengoreksi dan memperbaiki redaksi terjemahan Kitab Tauhid yang sebelumnya telah dikerjakan secara lengkap oleh Drs. Dja’far Soedjarwo dalam bahasa Indonesia tersebut. Delapan orang Imam Militer Kodam Brawijaya tersebut adalah Abdul Moechid, Drs. Abd. Rasyid, Drs. Fahadaina, H. Helmy Yusran, B. A., Al Khamdani, B. A., Umar Effedi, B.A., KH. Usman Mansur, dan KH. Bey Arifin.

Usaha yang dirintis oleh para Rohaniawan Islam dari Kodam Brawijaya tersebut akhirnya membuahkan hasil berupa terjemahan pertama dalam bahasa Indonesia atas Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Terjemahan ini diberi judul dahsyat dan lugas : “Bersihkan Tauhid Anda dari Noda Syirk” dan diterbitkan oleh penerbit Bina Ilmu Surabaya pada tahun 1979. Terjemahan ini diberi kata pengantar oleh Bey Arifin mewakili para penerjemah.

Dalam pengantarnya, Bey Arifin menceritakan latar belakang penerjemahan kitab ini :

“Beberapa tahun terakhir ini sudah berkurang cacian terhadap faham Wahabi, malah secara diam-diam semua ajaran Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab sudah banyak diajarkan dan disebarkan untuk kemurnian agama Islam dari penyelewengan-penyelewengan, baik mengenai kepercayaan (iman) atau peribadatan. Maka tepat betullah waktunya sekarang ini menyebarkan buku karawangan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, agar dapat diketahui dan dibaca oleh setiap ummat Islam bangsa kita. Lebih-lebih oleh mereka yang beberapa waktu sebelumnya sudah anti danmencaci ajaran yang sangat berguna dan benar ini.”

Selanjutnya Beliau mengatakan :

“Kami percaya, bila setiap ummat Islam membaca dan merenungkan isi buku ini akan dapat membersihkan aqidah (tauhid) mereka dari segala kotoran syirk yang masih melekat pada diri mereka masing-masing.”

Beliau melanjutkan :

“Siapa saja yang sudah membaca buku ini dan mengetahui bagaimana aqidah tauhid yang benar itu, wajib menyebarkannya kepada siapa saja, dimanapun mereka berada. Lebih-lebih untuk diri sendiri dan keluarga. Sedapat-dapatnya dibacakan bab demi bab dalam pengajian-pengajian rutin di masjid-masjid dan mushalla-mushalla. Dan ajarkanlah di sekolah-sekolah umum dan madrasah-madrasah.”

Dari apa yang disampaikan oleh Bey Arifin di atas, dapat kita anggap penerjemahan yang dilakukan Bey Arifin dan kawan-kawannya merupakan episode lanjutan dari siasat dakwah yang dilakukan oleh Syaikh Ammar Faqih dan tokoh-tokoh lainnya dalam menyebarkan ajaran-ajaran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Dimulai dari dilakukannya “penyusupan” ajaran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tanpa mengajarkan secara langsung kitab Beliau seperti yang dilakukan oleh Syaikh Ammar Faqih, kemudian berlanjut dengan mulai secara terang-terangan mengajarkan kitab Beliau untuk kalangan terbatas sebagaimana dilakukan oleh Drs. Dja’far Soedjarwo, dan akhirnya menerjemahkan, menerbitkan, mendakwahkan, dan menyebarluaskannya kepada masyarakat umum sebagaimana dilakukan oleh Bey Arifin dan kawan-kawannya.

Sejak penerbitan kitab “Bersihkan Tauhid Anda dari Noda Syirk” maka ajaran-ajaran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mulai semarak dan terang-terangan. Apalagi dengan dibukanya kran beasiswa belajar ke Arab Saudi atas jasa M. Natsir yang bekerja sama dengan Raja Faishal. Semakin banyak orang Indonesia yang belajar langsung ke negeri Wahabi Arab Saudi dan mengajarkannya kepada masyarakat Indonesia sepulangnya dari sana.

Pada tahun 1984, terbit sebuah syarah (penjelasan) atas Kitabut Tauhid yang ditulis oleh Da’i Muhammadiyah, Moehammad Thahir Badrie, sebagaimana sempat disinggung lalu. Karya ini boleh jadi merupakan yang pertama yang ditulis oleh ulama Indonesia dalam bahasa Indonesia. Kitab syarah ini diterbitkan oleh Pustaka Panjimas Jakarta dan direncanakan akan terbit dalam 2 jilid. Namun sayang, hingga saat ini baru jilid pertama saja yang diterbitkan. Entah apakah kitab syarah selesai atau tidak. Biografi Moehammad Thahir Badrie sendiri sulit dijumpai kini.

Bey Arifin sendiri kemudian melanjutkan seri kedua dari kitab “Bersihkan Tauhid Anda dari Noda Syirk”. Kali ini Beliau menerjemahkan matan Aqidah Wasithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pada tahun 1985 yang juga diterbitkan oleh Bina Ilmu Surabaya. Dan terjemahan ini boleh jadi merupakan terjemahan pertama dalam bahasa Indonesia atas kitab tersebut.

Drs. Dja’far Soedjarwo – sang pionir penerjemahan kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di Indonesia – tidak mau ketinggalan dengan sang rekan Bey Arifin. Pada tahun 1986, Beliau menerjemahkan kitab syarah (penjelasan) dari Kitab Tauhid, yakni kitab Taisirul ‘Azizil Hamid fii Syarh Kitabit Tauhid yang diterbitkan oleh Penerbit Al Ikhlas Surabaya. Kitab syarah ini ditulis oleh Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab, yang merupakan cucu dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Karya terjemahan ini adalah yang pertama di Indonesia dan hingga kini belum ada lagi yang menerjemahkan kitab syarah ini.

Dari sini terlihat jelas bagaimana jasa Drs. Dja’far Soedjarwo, Bey Arifin, dan rekan-rekannya di Kodam Brawijaya atas perkembangan dakwah salafiyyah (wahhabiyah) di Indonesia. Beliau-beliaulah yang berjasa menerjemahkan kitab-kitab “induk” dakwah salafiyyah /wahhabiyah (karya-karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) ke dalam bahasa Indonesia pada masa ketika itu dakwah salafiyyah masih sangat lemah dan butuh dukungan. Bey Arifin sendiri pada akhir-akhir masa hidupnya (Beliau wafat 30 April 1995) benar-benar mengabdikan diri untuk berkhidmah dalam menerjemahkan kitab-kitab induk hadits. Menurut catatan kami, pada akhir hayatnya Beliau sempat menerjemahkan secara lengkap enam kitab induk hadits (Kutubus Sittah) dan diterbitkan oleh C. V. Asy Syifa Semarang. Sedangkan mengenai Drs. Dja’far Soedjarwo sendiri, biografi lebih lanjut mengenai Beliau sangat sulit kami jumpai saat ini.

Sebagai sedikit tambahan, mengenai Syaikh Ammar Faqih, maka sepeninggal Beliau (Beliau wafat pada 25 Agustus 1965) Ponpes Maskumambang semakin meneguhkan diri sebagai Ponpes yang bercorak Salafiyyah Wahhabiyah. Penerus Syaikh Ammar Faqih yang juga menantu Beliau – KH. Nadjih Ahjad – semakin memperkuat image Ponpes Maskumambang sebagai Ponpes yang menegakkan ajaran Salafiyyah (Wahhabiyah) dan berperan memberantas takhayul, bid’ah, dan khurafat. Dalam dunia penerjamahan kitab-kitab ulama-ulama Wahhabi di Indonesia, KH. Nadjih Ahjad inilah yang pertama kali berjasa menerjemahkan kitab Jami’us Shaghir yang telah diteliti sanad-sanadnya oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, seorang ulama Ahli Hadits yang sangat dihormati dan dijadikan rujukan oleh kalangan Wahhabiyah di seluruh dunia. Terjemahan tersebut diterbitkan – lagi-lagi – oleh Bina Ilmu Surabaya pada tahun 1983.

Dalam terjemahannya tersebut Beliau memuji Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani dengan mengatakan : “Pada zaman kita ini ada seorang ahli hadis besar yang meneliti ulang terhadap sanad hadits-hadits yang ada dalam kitab ini, kemudian memberikan penilaiannya atas setiap hadits, yaitu Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani. Dalam kitab Beliau yang berjudul Shahih al Jami’ al Shaghir wa Ziyaadatih Beliau himpun hadits-hadits dari kitab ini yang Beliau nilai shahih atau hasan ; sedang dalam kitab Beliau yang berjudul Dha’if al Jami’ al Shaghir wa Ziyadaatih Beliau himpun hadits-hadits yang dha’if, yang dha’if jiddan, dan yang maudhu’. Hasil penelitian Beliau itu sangat besar manfaatnya dan sangat menolong terutama bagi mereka yang belum begitu ahli dalam lapangan ilmu hadits. Oleh sebab itu setiap penilaian Beliau yang berbeda dengan tanda derajat hadits yang diberikan oleh Imam Suyuthi dalam akhir hampir setiap hadits, akan kami muat dalam terjemahan ini dalam bentuk catatan kaki. Semoga Allah SWT berkenan menerima amal ibadah Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani itu dan memberinya pahala berlipat ganda.”

Akhirnya dapat disimpulkan, bahwa pengajaran dan penerjemahan karya-karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan ulama-ulama Wahhabi lainnya di Indonesia mengalami beberapa fase yang mencerminkan siasat dakwah para ulama Wahhabi di Indonesia dalam menghadapi kondisi-kondisi sosiologis masyarakat Indonesia yang tentunya sangat berbeda kulturnya dengan kondisi-kondisi sosiologis masyarakat yang menjadi sasaran dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab pada masanya. Dalam fase-fase tersebut, beberapa nama seperti Syaikh Ammar Faqih, Drs. Dja’far Soedjarwo, Bey Arifin, Moehammad Thahir Badrie, Nadjih Ahjad, dan lain-lainnya serta beberapa penerbit seperti Bina Ilmu Surabaya, Al Ikhlas Surabaya, Pustaka Panjimas Jakarta, dan lain-lainnya patut diberikan penghargaan atas jasa-jasa dan jerih payahnya sebagai perintis dalam mengenalkan ajaran-ajaran dan karya-karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ke masyarakat Nusantara. Semoga Allah merahmati mereka semua.

Referensi :
Bersihkan Tauhid Anda Dari Noda Syirk (Terjemahan Kitabut Tauhid), diterjemahkan oleh Bey Arifin dan kawan-kawan, Bina Ilmu Surabaya
Syarah Kitab Al-Tauhid Muhammad bin Abdul Wahab, Moehamad Thahir Badrie, Pustaka Panjimas
Ketuhanan Yang Maha Esa Menurut Islam (Terjemahan Taisirul ‘Azizil Hamid), diterjemahkan oleh Drs. Dja’far Soedjarwo, Al Ikhlas Surabaya
Terjemah Jami’us Shaghir tahqiq al Albani, diterjemahkan oleh KH. Nadjih Ahjad, Bina Ilmu Surabaya
http://www.maskumambang.ac.id/sejarah/
Dan lain-lain

 

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: