//
you're reading...
Motivasi, Nasehat, Refleksi

Mengolah Kegagalan Menjadi Kenikmatan

indexKegagalan terkadang bisa menjadi nikmat dan menyenangkan. Hah?! Yang benar saja? Nggak salah tuh? Eits….. jangan terburu-buru menilai pernyataan ini salah dan keliru.


Memang, kegagalan merupakan kata yang menyeramkan dan menakutkan. Tak ada seorang pun yang menginginkan kegagalan dalam hidupnya. Jika harus terjadi pun, kalau bisa jangan terulang kembali. Oleh karena itu ada orang yang kemudian memberikan spirit baru bagi siapa pun yang tengah mengalami kegagalan dengan selogan, “Kegagalan merupakan kesuksesan yang tertunda.” Atau, “Kegagalan adalah pintu keberhasilan.” Atau kalimat-kalimat yang sesaudara. Ketika seseorang gagal, lalu mendapatkan siraman kalimat ini, seakan kegagalan itu menyingkir dari kedua bola matanya. Seketika.

Namun, di sebagian kalangan,

kegagalan merupakan sesuatu yang sebenarnya sebuah spirit yang datang. Ia menjadikan kegagalan itu sebagai pelajaran yang amat berharga. Seorang pengusaha yang dalam usahanya sama sekali tak pernah gagal, akan merasa puas dengan apa yang didapatnya meski dari tahun ke tahun penghasilan masih jalan di tempat. Nggak maju dan juga nggak mundur. Sang bos sebenarnya ingin maju, namun khawatir perusahaan yang selama ini dibangunnya gagal. Akan tetapi seorang pengusaha yang pernah gagal dalam menjalankan bisnisnya, akan mengambil pelajaran tak ternilai dari kegagalan yang pernah menyapanya itu. Pasca kegagalan, ia bangkit untuk maju dan menancapkan benteng-benteng anti kegagalan dan ia akan terus maju meningkatkan kinerjanya demi majunya perusahaan tanpa dihantui kegagalan karena obatnya telah dikantonginya. Siap menghadapi apa pun.

Di sisi lain, sebenarnya kegagalan juga memiliki rasa nikmat dan bangga bahkan. Kapan? Ketika kesuksesan telah diraih, setelah sebelumnya mengalami jatuh bangun. Pada awalnya mungkin ia merasa malu untuk menceritakan kegagalannya itu, namun kelak setelah ia sukses, tidak hanya mau menceritakan kegagalan, namun juga bangga.

Ketika Anda pertama kali belajar mengendarai mobil atau motor, mungkin pernah sekali atau dua kali jatuh dan menabrak rumah orang karena memang baru belajar. Saat keadaan seperti itu, saya yakin Anda tidak akan menceritakan kepada siapa pun, seraya berdoa, “Semoga tidak banyak yang tahu.” Namun ketika Anda sudah mahir mengendarai mobil dengan kelincahan yang super, Anda akan siap menceritakan kegagalan Anda kepada orang yang mengagumi Anda dalam mengendarai mobil, “Dulu waktu awal-awal saya belajar mengendarai mobil, sapa pernah menabrak depan rumah orang lain hingga temboknya jebol dan kacanya pecah berantakan. Tak hanya itu, kepala mobilnya pun hancur tak bermuka. Wal hasil, terpaksa haruh ganti rugi.” Bla, bla, bla, sembari tertawa lebar.

Si A adalah seorang kaya raya yang memiliki banyak perusahaan bergengsi. Maklum saja, dia seorang berpendidikan sih. Depan namanya saja, ada gelar “DR”, sementara di belakang namanya ada gelar “Phd”. Dari mulai S1 hingga S2, pendidikannya diselesaikan di sebuah universitas ternama di Inggris, Oxford University. Namun tahukah Anda, dulu di SD ia pernah nggak naik kelas?! Saya kira orang yang bersangkutan ketika dibuka sejarah SD-nya dulu yang suram, nggak akan pernah marah. Bahkan mungkin bangga. Meski sebelum seperti sekarang ia malu dan menutupi kegagalannya itu.

Berbeda dengan si B yang nggak lulus SMP. Ia bakal nggak suka kalau sejarahnya dulu saat SD nggak naik kelas 2 kali diungkit-ungkit. “Sudahlah! Apa yang terjadi biarlah terjadi. Nggak perlu diungkit-ungkit!,” ungkapnya. Wallahulmuwaffiq. []

 

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: