//
you're reading...
Aqidah dan Manhaj

Detik-detik Wafatnya Manusia Terbaik Sepanjang Zaman, Rasulullah

muhammadHari itu adalah hari Senin 12 Rabi’ul Awwal tahun 11 H. Saat waktu dhuha sedang panas-panasnya. Umur beliau sudah mencapai 63 tahun lebih 4 hari.

Detik-detik kewafatan telah tiba. Aisyah menyandarkan tubuh beliau kepadanya. Ia menuturkan, “Termasuk di antara nikmat Allah yang dianugrahkan kepadaku, ialah bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- wafat di rumahku, di antara paru-paruku dan tenggorokanku. Allah mengumpulkan antara ludahku dan ludahnya pada saat kewafatannya.

Abdurrahman bin Abu Bakar masuk. Ditangannya ada sepotong siwak, sementara Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersandar di tubuhku. Aku melihat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- memandang siwak tersebut dan aku tahu bahwa beliau menyukai siwak. Aku katakan kepada beliau, ‘Maukah aku ambilkan untuk engkau?’ Beliau menganggukkan kepalanya bertanda menyiyakan. Lalu aku berikan siwak tersebut kepadanya. Namun siwak tersebut sangat keras baginya, sehingga aku tanya padanya, ‘Maukah kulunakkan untukmu?’ Beliau mengisyaratkan dengan kepalanya bertanda mengiyakan. Maka aku pun melunakkannya.

Kemudian Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menggosokkannya pada giginya.

Di depan beliau ada sebuah bejana berisi air, lalu beliau memasukkan kedua tangannya ke dalam air tersebut kemudian mengusapkannya ke wajahnya, lalu berkata, ‘Laa ilaaha illallaah, sesungguhnya kematian itu ada sekaratnya.’

Tak lama usai bersiwak, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengangkat tangan atau jarinya dan pandangannya menatap ke atap, kedua bibirnya bergerak, dan Aisyah mendengarkannya. Beliau bersabda,

‘Bersama-sama dengan orang-orang yang telah Engkau anugrahi nikmat, yaitu para Nabi, shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Ya Allah, ampunilah dan kasihanilah aku, pertemukan aku dengan al-rafiq al-a’la, ya Allah, ar-rafiq al-a’la.’

Beliau mengulangi kalimat yang terakhir ini tiga kali, kemudian tangannya miring dan beliau pun akhirnya berjumpa dengan ar-rafiq al-a’la. Innaa lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Dan inilah musibah terbesar yang menimpa kaum muslimin.

Apakah ada orang yang berani merayakannya?!

 

Iklan

About Firman Hidayat Marwadi

Seorang penuntut ilmu yang semoga diberi keistiqamahan oleh Allah dalam setiap kebaikan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: